• Fitur

Cuap-cuap di Radio Komunitas


Indeks Artikel
Cuap-cuap di Radio Komunitas
Radio Teflon
RKTI
Kaskus Radio
Urusan Legalitas
Memandang Komersialisasi
Semua Halaman

“Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu…” Demikianlah dendang Gombloh yang selalu terngiang-ngiang di telinga jika kita mengobrolkan benda bernama radio.

Lagu berjudul “Kugadaikan Cintaku” tersebut sangat beken pada tahun 1980-an. Era itu pula, almarhum Farid Hardja sempat menelurkan tembang hit “Bercinta di Udara”. Isinya pun mengaitkan tentang asyiknya berpacaran lewat medium radio.

Pada dekade tersebut, radio sepertinya mencapai puncak popularitas di Indonesia, khususnya di kalangan anak muda. Tidak sedikit kisah asmara yang makin bersemi berkat peranan “kotak ajaib” ini. Bertukar pesan dan menyampaikan salam kepada pujaan hati dilakukan melalui perantara lagu dan penyiar radio.

Saat itu, radio tidak cuma berfungsi sebagai alat hiburan, tetapi juga media komunikasi. Maklum saja, jaringan telepon belum menggapai seluruh wilayah, sementara televisi masih dianggap barang mewah. Ditambah lagi, radio memiliki sifat real-time. Apa saja yang diucapkan penyiar dalam sekian detik sudah sampai ke telinga pendengar.

Profesi sebagai penyiar radio kemudian menjelma sebagai salah satu pekerjaan paling trendi. Salah satu contohnya, tokoh Olga dalam novel “Olga dan Sepatu Roda” karya Hilman Hariwijaya.

Penyiar bukan hanya dituntut lancar berbicara di depan corong mikrofon. Ia pun mesti mampu berlakon sebagai teman akrab bagi para pendengar. Jika berhasil, nama seorang penyiar bisa terkatrol dan mempunyai banyak penggemar, meski cuma suaranya yang terdengar.

Tak mengherankan, beberapa di antara kita memupuk impian menjadi penyiar, khususnya yang senang cuap-cuap dan ingin eksis. Namun, apa daya, tidak semuanya memenuhi kriteria yang dibutuhkan sebagai penyiar radio tertentu. Ada pula yang memang tidak cukup percaya diri untuk menampilkan suaranya kepada para pendengar yang tidak dikenal.

Beruntunglah, pada era internet kini, kita tidak harus melamar ke stasiun radio bila ingin memuaskan hasrat siaran. Kalau lebih nyaman siaran di tengah para kenalan juga diperkenankan. Berterimakasihlah kepada radio komunitas online.

Pada dasarnya, radio komunitas online merupakan “perpanjangan tangan” dari radio internet yang sudah terlebih dulu dikenal. Konsepnya memang serupa, “stasiun radio” rumahan yang tidak perlu perlengkapan macam-macam, seperti mixer dan pemancar. Modalnya cukup PC dan koneksi internet untuk mentransmisikan siaran.

Namun, berbeda dengan radio internet yang cenderung satu arah, radio komunitas menyajikan media yang lebih “setara”. Maksudnya, seakan tidak ada jarak antara penyiar dan pendengar. Pasalnya, mereka sudah saling mengenal sebelumnya di komunitas yang diikuti. Pada suatu waktu, pendengar bisa berganti peran jadi penyiar dan begitu pun sebaliknya.

Penyiar dan pendengar bisa saling meledek di radio. Ada percakapan, ada interaksi. Ini yang tak didapatkan orang kalau mendengar musik lewat MP3 player, misalnya,” tutur Wicaksono, blogger.dan pemerhati media sosial yang lebih dikenal dengan nama Ndoro Kakung.

Program siaran radio komunitas pun biasanya sesuai dengan kebutuhan dan permintaan anggota komunitas. Racikannya pas. Tidak kurang-kurang amat. Tidak berlebihan,” Wicaksono menambahkan.




 
  • Artikel Terkait
  • Polling InfoKomputer
Apa yang paling Anda butuhkan dari InfoKomputer Online?
Copyright © Info Komputer, All Rights Reserved 2011.
Tentang KamiGramedia AppsGramedia Widget
logoKG