- Fitur

Cuap-cuap di Radio Komunitas - Memandang Komersialisasi
| Indeks Artikel |
|---|
| Cuap-cuap di Radio Komunitas |
| Radio Teflon |
| RKTI |
| Kaskus Radio |
| Urusan Legalitas |
| Memandang Komersialisasi |
| Semua Halaman |
Memandang Komersialisasi
Di mana ada orang berkumpul, di sana muncul potensi untuk dijadikan pasar.
Begitu pula halnya radio komunitas. Dengan dukungan sejumlah pendengar setia serta popularitas yang kian besar, radio ini berpeluang menarik perhatian brands dan pemasang iklan. Sembari menyalurkan hobi, bukankah akan lebih menguntungkan jika radio komunitas ini bisa mendatangkan uang?
Ternyata pada kenyataannya tidak demikian. Baik Fakhrizal, Indra, maupun Ronald, ketiganya kompak menyatakan, belum ada rencana ke arah komersial. “Radio ini masih untuk sekadar having fun dan sarana komunikasi antarteman komunitas,” tegas Fakhrizal.
Hal senada juga diungkapkan Wicaksono. Menurutnya, massa atau audiens yang banyak tidak selalu suka dan cocok untuk dikomersialkan. Mereka enggan jika radio komunitasnya dipenuhi iklan sehingga tak ada bedanya dengan radio umum.
Walau begitu, ia tidak menutup kemungkinan radio komunitas menjadi komersial, sepanjang masih cocok dengan selera para anggota. “Semua tergantung kesepakatan antara pengelola radio komunitas dan pendengarnya,” imbuhnya.
Kalaupun komersialisasi itu terjadi, pemilik brand juga jangan menyamakan beriklan di radio komunitas dengan radio lain pada umumnya. Perusahaan mesti mengenal betul profil komunitas yang disasar, kemudian menyesuaikan program promosinya dengan target dan segmen pendengar.
“Sifat komunitas itu biasanya komunal, ditandai dengan ikatan sosial yang kuat,” kata Wicaksono. Oleh karena itu, personalisasi iklan harus lebih menonjol ketimbang iklan massal seperti di radio biasa. (Erry FP)
- Artikel Terkait

- Polling InfoKomputer

