Fitur Kurio: Aplikasi Pembaca Berita dengan Misi Luar Biasa

Kurio: Aplikasi Pembaca Berita dengan Misi Luar Biasa

David Wayne Ika memamerkan Kurio, aplikasi pembaca berita buatan lokal yang terinspirasi dari aplikasi Zite. [Foto: Abdul Aziz]

David Wayne Ika memamerkan Kurio, aplikasi pembaca berita buatan lokal yang terinspirasi dari aplikasi Zite. [Foto: Abdul Aziz]

Sebuah iPad pemberian sang kakak mungkin akan menjadi kado pernikahan yang paling dikenang oleh David Wayne Ika. Dari komputer tablet itulah, ia mendapat inspirasi untuk mengembangkan sebuah aplikasi yang kini sedang ia geluti.

Saat itu tahun 2010, David sangat menyukai aplikasi pembaca berita Flipboard dan Zite. Di Flipboard, pengguna bisa mengikuti topik-topik dari sumber berita yang sudah ada. Tapi, ia memandang Zite lebih canggih lagi karena pengguna bisa membaca atau belajar topik apa saja, bermodalkan search. Topik yang tidak tersedia secara default di Zite pun akan dicarikan beritanya untuk pengguna.

“Misalkan kita mengetik ‘product development’. Topik itu tidak ada di Flipboard. Di Zite juga tidak ada, tapi dia langsung membuatkan topik baru untuk kita sambil scrolling website tentang product development. ‘Gila’ sekali, terutama buat yang suka belajar,” jelas David.

Dengan latar belakang sebagai lulusan manajemen bisnis dan pemasaran, David pada waktu itu sedang rajin-rajinnya menimba ilmu baru mengenai industri internet, startup, fundraising, dan sebagainya. Wawasan itu yang banyak ia peroleh dari hasil membaca dan mempelajari artikel-artikel di internet melalui Flipboard dan Zite. “Berdasarkan pengalaman pribadi tersebut, saya ingin membuat aplikasi yang seperti itu, tapi dalam versi Indonesia,” tukasnya.

Akan tetapi, posisi David sebagai Director of Product & Business Development di MerahPutih Incubator membutuhkannya turun tangan dalam mengelola dan mengembangkan sejumlah bisnis startup, seperti Lintas.me, Infokost, dan Mindtalk. Walhasil, ide membuat aplikasi tersebut mesti disimpan terlebih dahulu. Baru pada tahun 2013, ia berani mengeksekusi idenya. Itu pun diawali dengan proyek diam-diam.

“Saya mengajak beberapa engineer di MerahPutih untuk membuat prototipe aplikasi mirip Flipboard dan Zite. Asalnya dinamakan Moco (“baca” dalam Bahasa Jawa). Saat saya tunjukkan kepada CyberAgent Ventures, ternyata mereka tertarik untuk investasi. Dari situ, proyek ini saya ungkapkan kepada shareholder MerahPutih dan mereka pun mendukung,” David bercerita.

Proyek besutan David ini pun resmi bernaung di bawah MerahPutih Incubator. Sebelum mulai dirilis pada tahun 2014, nama Moco diganti menjadi Kurio dengan alasan sudah banyak aplikasi yang mengandung kata “Moco” di toko aplikasi. Pemilihan nama Kurio didasari kata “curious” yang memiliki akar kata dalam Bahasa Latin “curiosus” yang bisa berarti penasaran, bisa juga berarti “care” (peduli/sayang).

Misi Idealis

Sebagaimana aplikasi pembaca berita lainnya, Kurio menawarkan feature untuk mengumpulkan berita tentang berbagai topik dan subjek dari sumber-sumber berbeda.

Pengguna bisa memilih topik yang ingin ia ikuti dengan memilih dari daftar yang telah disediakan. Pengguna juga bisa berbagi berita favorit mereka ke media sosial. Dari sisi antarmuka, Kurio mencoba tampil simpel tapi tetap berkesan modern dengan desain khas kipas warna-warni yang menandai topik pilihan pengguna.

Tampilan topik-topik artikel seperti kipas yang menjadi ciri khas aplikasi Kurio.

Tampilan topik-topik artikel seperti kipas yang menjadi ciri khas aplikasi Kurio.

Namun, David menuturkan bahwa dirinya tidak menganggap konten berita di Kurio sebagai sajian utama. Ia justru berusaha memfokuskan pada konten-konten nonberita, yakni berbagai artikel yang berisi topik-topik yang bersifat interest-based dan industry professional-based.

Tak heran kalau di Kurio, pengguna akan menemukan topik spesifik seperti digital marketing, parenting, dan leadership. Sumbernya pun tidak hanya dari portal berita, tetapi juga beragam situs dan blog tematik.

“Buat saya, konten news di Kurio itu seperti nasi putih di restoran Padang. Harus ada, tapi bukan yang esensial. Yang mau saya bikin keren itu lauk-pauknya, alias konten-konten khusus di sekitarnya,” David mengibaratkan.

David memunyai misi idealis dengan menganut prinsip tersebut. Ia mengaku prihatin dengan data yang menunjukkan bahwa walaupun pengguna internet di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, tapi kebiasaan mereka dalam mengakses internet masih cenderung konsumtif: chatting, game, social network, dan video streaming.

“Saya berpikir, Indonesia dengan populasi 240 juta, lebih dari setengahnya berusia di bawah 32 tahun, serta penetrasi smartphone dan internet masih rendah, berarti potensinya besar sekali. Kita mesti move on dari only consuming menuju embracing fungsi internet yang sesungguhnya, yaitu untuk mendapat informasi dan knowledge,” David berpendapat.

Ia meyakini bahwa Indonesia baru akan bisa maju apabila masyarakatnya mau banyak membaca dan punya rasa keingintahuan yang tinggi. Keberadaan internet membuka kesempatan yang sama untuk semua orang. Siapa saja bisa belajar hal yang baru dan membuat inovasi, tanpa memandang latar belakang.

Membaca Pangkal Sukses

David mencoba memaparkan cara kerja otak manusia dalam mencerna pengetahuan baru. “Kalau kita membaca artikel satu per satu, akan disimpan secara acak di otak. Tapi, otak kita punya cara tersendiri saat dibutuhkan, artikel-artikel ini akan muncul dan terhubung. Every piece of article is random dot, lalu saat dibutuhkan, bisa nyambung,” jelasnya.

Di lingkungan kerja, tak jarang kita melihat orang-orang yang sukses dan cepat naik jabatan adalah mereka yang bukan hanya bagus kinerjanya, melainkan juga selalu nyambung saat diajak mengobrol topik apa saja oleh atasan. Artinya, wawasannya luas. Itu bisa didapat dari banyak membaca.

Skenario lain yang diungkapkan David yaitu para karyawan atau profesional yang punya latar belakang akademik ekonomi atau manajemen. Ilmu-ilmu tersebut sangat general dan kurang update dengan tren pekerjaan yang sedang ramai saat ini, misalnya digital marketing. Untuk memahami ilmu baru itu, bisa dengan membaca satu atau dua artikel tentang digital marketing per hari. Kalau diakumulasi, satu tahun sudah terkumpul 700 artikel di memori.

“Membaca adalah salah satu life hack. Bisa untuk ‘mencuri’ umur, ilmu, dan pengalaman. Kurio ingin membawa kebiasaan membaca menjadi lebih simpel. Daripada melahap buku-buku tebal, cukup dengan membaca artikel-artikel pendek saja,” ucap David.

Mendorong budaya membaca kepada masyarakat memang tidak mudah. Untuk itu, Kurio menjalankan bermacam cara untuk mendekati mereka. Contohnya dengan menulis blog tentang pentingnya rasa ingin tahu dan pentingnya membaca. Mereka juga bekerjasama dengan komunitas-komunitas edukatif seperti Indonesia Mengajar dan Social Media Specialist Club (SMSC).

Kurio pun mulai menjajal promosi lintas brand bersama minimarket 7-Eleven dengan menyediakan paket sarapan untuk pembaca Kurio serta aplikasi streaming musik MixRadio dengan membuat playlist lagu yang cocok didengarkan untuk menemani aktivitas membaca konten di Kurio.

Rencana besar Kurio adalah masuk ke dunia kampus dan perkantoran. Menurut David, Kurio dapat membantu merevolusi cara pembelajaran di kampus. Interaksi antara dosen dan mahasiswa seharusnya tidak dibatasi textbook, tetapi harus ditambah dengan referensi-referensi baru yang update dengan keadaan terkini. Begitu pula di lingkungan kantor, kebiasaan berbagi informasi dan pengetahuan baru harus mulai ditingkatkan.

“Di kampus, dosen nantinya bisa membuat kipas khusus tentang topik tertentu, berisi artikel-artikel yang aktual, lalu menugaskan mahasiswa untuk membaca seluruhnya. Sedangkan di kantor, kalau sedang mengerjakan proyek tertentu, para karyawan bisa berbagi artikel terkait proyek itu melalui kipas private di Kurio. Fungsinya seperti knowledge management,” ujar David.

"Kurio ingin membawa kebiasaan membaca menjadi lebih simpel. Daripada melahap buku-buku tebal, cukup dengan membaca artikel-artikel pendek saja,” ucap David Wayne Ika.

“Kurio ingin membawa kebiasaan membaca menjadi lebih simpel. Daripada melahap buku-buku tebal, cukup dengan membaca artikel-artikel pendek saja,” ucap David Wayne Ika.

Mendekati Publisher

Setelah satu tahun lebih tersedia di toko aplikasi, Kurio telah mencatat jumlah instalasi sebesar 350 ribu dengan komposisi 80% pengguna Android dan 20% iOS. Sebanyak 65% pengguna berjenis kelamin pria dan kebanyakan tinggal di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, Bandung, dan Makassar. Cukup banyak juga pengguna di luar negeri, seperti Australia dan Malaysia.

Yang mengejutkan bagi David dan timnya adalah statistik time per session atau durasi pengguna setiap membuka aplikasi Kurio. “Angka rata-ratanya tujuh menit tiap pengguna. Itu sudah cukup menyenangkan bagi kami,” ia berkata.

Dari kategori konten yang dibaca, lima teratas memang masih diisi news, teknologi, sepakbola, bisnis, dan hiburan. Hal tersebut dianggap normal oleh David. “Yang penting user terbiasa dulu untuk membaca Kurio daripada bermain game,” tukasnya.

Di masa depan, Kurio akan mulai merekomendasikan topik-topik baru bagi pengguna. Mereka juga akan mempelajari karakter dan selera pengguna supaya bisa menyajikan news stream yang berbeda untuk setiap pengguna. Akan ada pula menu untuk melihat kumpulan topik berita dan artikel yang sedang banyak dibicarakan (trending topic). [Fitur ini sudah tersedia di aplikasi Kurio versi 2.0. Red]

Perkembangan Kurio disokong oleh investasi Seri A dari CyberAgent Ventures pada tahun lalu. Target mereka adalah melakukan fundraising setiap tahun, termasuk tahun ini yang sedang dalam tahap pembicaraan. Kali ini fokusnya lebih kepada proyeksi pertumbuhan dan monetisasi (memperoleh pemasukan). Bagaimana rencana Kurio mengenai hal ini?

“Rencana monetization kami standar sih sebenarnya, yaitu mobile advertising, video advertising, ke depannya akan memperkenalkan video content, dan juga sponsored content seperti content marketing dan native advertising,” ungkap David.

David juga ingin memperkuat hubungan Kurio dengan para news publisher, seperti Kompas.com, KapanLagi Networks, dan Tempo.co. Daripada hanya crawling berita, Kurio berniat menanamkan API dari portal-portal berita itu agar dapat memberikan news feed yang lebih banyak bagi pengguna. Kurio pun sedang menyiapkan custom theme untuk beberapa publisher besar yang sesuai dengan karakter portal beritanya.

“Setiap saya bertemu publisher, saya selalu bilang kalau Kurio hadir bukan untuk menggantikan mereka. Toh mereka juga sadar kalau kebiasaan orang mencari berita tidak lagi langsung ke situs berita, tetapi cenderung ke satu tempat yang semuanya ada, misalnya social media, Google, atau aplikasi berita. Jadi, make sure konten Anda ada di mana-mana,” kata David.

Terakhir, David menekankan bahwa bagi dia, ukuran kesuksesan Kurio bukanlah dari banyaknya jumlah download maupun nominal uang yang dihasilkan, melainkan kalau sudah ada kisah nyata mengenai dampak positif yang dibawa Kurio kepada masyarakat. Tumbuhnya minat baca dan kemauan untuk belajar adalah salah satunya.

Being smart is cool,” itulah kata-kata pamungkas yang ingin ia sampaikan.

Comments

comments