Fitur Mewujudkan Bisnis Digital dengan Tiga Pendanaan Alternatif

Mewujudkan Bisnis Digital dengan Tiga Pendanaan Alternatif

pendanaan bisnis digital

Meraih sebuah kesuksesan merupakan impian setiap orang. Untuk mencapai kesuksesan, Anda tak perlu bermimpi menjadi artis terkaya di Indonesia.

Belum lama ada fenomena menarik yang terjadi antara pekerja layanan transportasi publik. Perbedaan di antara kedua penyedia layanan transportasi publik ini terletak pada sistem konvensional yang digunakan dan kompetitornya yang telah melakukan pembaharuan yang memungkinkan masyarakat menikmati layanan transportasi tersebut melalui aplikasi yang dapat diakses melalui smartphone dengan harga yang sangat terjangkau.

Bentrok yang terjadi di antara kru penyedia layanan transportasi ini menurut Rhenald Kasali, seorang Guru Besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia ini disebabkan karena kegagalan generasi pendahulu melihat permasalahan yang dihadapinya di era yang penuh dengan kemajuan teknologi ini.

Sharing Economy yang diterapkan oleh sejumlah bisnis digital menyebabkan mereka dapat menawarkan harga yang jauh lebih murah dan terjangkau ketimbang yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan konvensional lainnya. Akibatnya, persepsi perusahaan konvensional menuding hal ini sebagai persaingan yang tak wajar bahkan beberapa di antaranya telah dilaporkan ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Pelaku bisnis konvensional dengan berbagai cara berupaya untuk menghambat perkembangannya dengan mengkriminalisasi pembaharuan yang mereka buat.

Masih menurut Rhenald Kasali, kira-kira ada beberapa dampak yang ditimbulkan akibat maraknya penerapan Sharing Economy di ranah bisnis online seperti yang kita banyak lihat akhir-akhir ini. Di antaranya adalah deflasi sebab harga menurun drastis menjadi lebih murah, gelombang pariwisata makin tinggi sebab aksesnya yang mudah dan sangat terjangkau, aset-aset pribadi yang beralih fungsi menjadi produktif, dan penjagaan alam yang lebih baik.

Di sisi lain, dampak buruk yang akan timbul seperti gelombang pengangguran bagi mereka yang tak mampu beradaptasi dengan persaingan bisnis model baru ini, kerugian bagi perusahaan-perusahaan konvensional dan kriminalisasi akibat keterlambatan aksi dari penegak hukum dan pembuat kebijakan. Hanya ada dua jalan keluar dari semua fenomena ini, yaitu beradaptasi dengan perubahan  dan menjadi sukses atau mati!

Lalu bagaimana caranya beradaptasi dengan model bisnis baru seperti ini? Apakah akan sulit? Tentu tidak. Sebab untuk menyesuaikan diri untuk model bisnis seperti ini Anda tidak perlu memiliki sumber modal besar dalam pengembangannya.

Sangat banyak alternatif pendanaan yang bisa Anda coba untuk mengembangkan ide bisnis kreatif berbasis digital seperti di bawah ini:

  1. Crowdfunding

Istilah crowdfunding ini akan memberikan kesempatan bagi Anda untuk meraup dana dari sejumlah orang dengan cara patungan.

Uniknya, bukan hanya bisnis kecil atau start up yang bisa memanfaatkan sumber pendanaan proyek seperti ini. Sebab bagi mereka perusahaan yang sudah mapan dan ingin menguji produk atau inovasi baru bagi perkembangan bisnisnya juga dapat menggunakan metode pendanaan seperti ini. Selain itu bagi Anda yang memiliki ide untuk membangun sebuah bisnis sampingan dengan ide-ide yang kreatif dan brilian juga dapat mencoba tipe pendanaan crowdfunding untuk meminimalisir modal yang dikeluarkan sendiri.

Caranya sangat mudah, Anda hanya perlu membuat proposal singkat yang merangkum proyek yang akan Anda jalani. Jangan lupa untuk menampilkan visualisasi yang jelas dan cukup mudah dimengerti contohnya melalui video presentasi, pengantar yang baik serta keuntungan-keuntungan yang bisa didapatkan oleh mereka yang mau turut serta mendanai proyek tersebut. Biasanya setiap ide proyek yang diajukan memiliki tenggat waktu tertentu untuk pengumpulan dana agar dapat segera dicairkan apabila targetnya tercapai.

Penyedia wadah pendanaan crowdfunding yang bisa Anda coba di antaranya yaitu, Kickstarter, IndieGoGo, RocketHub dan Wujudkan.Com.

  1. Angel Investment

Dari penamaan istilahnya saja sudah terlihat bak malaikat yang sangat baik membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Ya, istilah ini merujuk pada pendanaan bagi perusahaan start up yang biasanya dimodali oleh orang-orang sukses yang memiliki pengaruh besar pada bidang bisnis lain. Mereka memberikan sunikan dana untuk perkembangan start up tersebut yang berikutnya akan diubah menjadi saham atau surat utang pada bisnis start up yang dimodali.

Khusus di Indonesia sendiri ada sebuah komunitas yang diisi oleh para Angel Investor yang dikenal dengan ANGIN (Angel Investment Network Indonesia) yang adalah sebuah program yang dicanangkan oleh Global Enterpreneurship Program Indonesia (GEPI). Tidak hanya melakukan pendanaan tapi ANGIN juga membantu mentoring bagi perusahaan-perusahaan start up yang ingin mengembangkan bisnisnya lebih baik lagi.

  1. Venture Capitalist

Kalau istilah pendanaan yang satu ini merujuk pada penyedia jasa pendanaan bagi perusahaan start up atau perusahaan kecil yang menginginkan ekspansi tetapi tidak memiliki akses yang cukup untuk masuk ke pasar saham.

Berbeda dengan kedua tipe pendanaan sebelumnya, Venture Capitalist akan menyetujui untuk berinvestasi sejumlah dana dengan tujuan mendapat imbalan yang besar apabila perusahaan yang dibantu mengalami kesuksesan di kemudian hari. Namun, Venture Capitalist juga memiliki resiko yang cukup besar lantaran perusahaan yang didanai mengalami kerugian atau kegagalan dalam pengembangan usahanya.

Sangat banyak perusahaan-perusahaan besar di bidang digital yang telah menggunakan jasa pendanaan Venture Capitalist, yaitu di antaranya ada Twitter, PayPal, Facebook, Pinterest dan Uber. Bukalapak dan Go-Jek di Indonesia juga merupakan contoh perusahaan yang berhasil berkat pendanaan dari Venture Capitalist.

Comments

comments