Fitur ITF 2016: Mendorong Indonesia Sebagai Raksasa Teknologi Digital Asia

ITF 2016: Mendorong Indonesia Sebagai Raksasa Teknologi Digital Asia

(ki-ka): Tjandra Lianto (Direktur Marketing Advan), Budi Harjono (Vip. Network Planning XL-Axiata), David Wayne Ika, Founder & CEO Kurio, Calvin Kizana, Founder and CEO PicMic

Baru-baru ini di Asia Tenggara ada 93 perusahaan startup yang memperoleh pendanaan, 24 di antarannya merupakan startup Indonesia.

Sementara di sektor handset, berdasarkan data dari IDC, jumlah pengapalan komputer tablet merek nasional mampu menduduki ranking ke-2 setelah Samsung dan di atas iPad pada Q1 tahun 2015 di kawasan Asia Pasifik.

Boleh dibilang era konsolidasi dan transformasi teknologi digital 10 tahun terakhir ini sudah cukup membuat Indonesia tampil sebagai kekuatan baru di Asia.

Melalui beberapa contoh tersebut, Indonesia saat ini mendapat julukan “Raksasa Teknologi Digital Asia yang Sedang Tertidur”. Lantas, bagaimana membangunkannya?

Melalui acara talkshow Indonesia Technology Forum (ITF) 2016 yang diadakan Jumat (29/4), para penggiat ekonomi digital ikut menyumbangkan pemikirannya mengenai masa depan teknologi digital tanah air sebagai kekuatan baru yang menjanjikan.

Hasnul Suhaimi, Mantan CEO XL Axiata sekaligus Pembina Indonesia Technology Forum (ITF)

Hasnul Suhaimi, Pembina Indonesia Technology Forum (ITF)

“Jika menilik dari jumlah populasi yang ada, Indonesia menyimpan potensi yang sangat besar. Saat ini negeri kita berpenduduk sekitar  259.1 juta. Berdasarkan data yang dihimpun dari We Are Social (2016), pengguna internet Indonesia sekitar 88,1 juta orang dengan pengguna media sosial sebanyak 79 juta. Sementara itu, jumlah pengakses smartphone sebanyak 66 juta. Yang menarik, jumlah pelanggan seluler yang terkoneksi dengan handphone jauh melebihi populasi yaitu mencapai 326,2 juta. Hal ini karena satu orang bisa memiliki lebih dari satu nomor ponsel,” papar Hasnul Suhaimi, Mantan CEO XL Axiata sekaligus Pembina Indonesia Technology Forum (ITF).

Di industri digital, perangkat memiliki peran yang sentral. Bagi produsen global, Indonesia adalah pasar yang menggiurkan karena populasi yang tinggi dan daya beli yang tergolong baik. Tak heran jika smartphone dari merek global membanjiri tanah air. Di sisi lain, brand nasional juga muncul bersaing di pasar yang ketat. Walaupun ada yang tumbang, ada juga yang terus eksis, bahkan kian membesar.

Advan adalah contoh merek nasional yang tergolong sukses di kancah industri mobile. Berkat inovasi dan strategi yang jitu, sukses mengantarkan Advan menjadi merek tablet nomor satu di Indonesia.  Advan juga merangsek masuk ke jajaran lima smartphone terlaris di Indonesia. Data yang dilansir IDC menempatkan Advan sebagai merek smartphone terlaris keempat dengan perolehan angka penjualan 2,8 juta unit smartphone.

Advan kini telah memiliki pabrik ponsel yang terletak di Kawasan Industri Candi Semarang dan ini dianggap sebagai pilar kesuksesan menguasai pangsa pasar tablet Asia Pasifik.

Sementara itu infrastruktur jaringan seluler juga kian berkibar dengan telah dikomersialkannya layanan 4G LTE oleh semua operator yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah XL Axiata yang agresif dalam mengembangkan teknologi jaringan generasi keempat. Hal ini diungkapkan oleh Budi Harjono (VIP Network Planning, XL Axiata).

Budi Harjono (Vip. Network Planning XL-Axiata)

Budi Harjono (Vip. Network Planning XL-Axiata)

“Selama kuartal pertama tahun 2016, XL telah membangun 3.286 BTS 4G, dengan cakupan mencapai lebih dari 36 kota/wilayah di Indonesia. Meningkatnya penggunaaan 4G LTE dan handphone yang memiliki kemampuan akses data sangat mendorong adanya peningkatan traffic layanan data. Di kuartal pertama 2016, traffic layanan data tumbuh 94%, dengan total pengguna layanan data mencapai 22,8 juta atau 54% dari total jumlah pelanggan. Sementara, laju penetrasi pengguna smartphone di XL mencapai 48% dengan pertumbuhan sebesar 19% yang mencapai sebesar 20,5 juta pengguna,” ujar Budi.

Geliat Industri Aplikasi

Perusahaan startup di Indonesia terus bermunculan dengan berbagai inovasinya. Bahkan sebagian di antaranya berhasil minat investor.

Salah satu startup lokal yang terbilang berhasil adalah Picmix. Aplikasi ini didirikan pada 2012 sebagai aplikasi smartphone untuk berbagi foto dan berhasil menarik jutaan pengguna di seluruh dunia. Saat ini aplikasi tersebut telah mencapai lebih dari 27 juta pengguna di seluruh dunia secara organik dengan sekitar 7 ribu sampai 10 ribu pendaftar baru tiap hari.

“Hari ini, PicMix telah bertransformasi menjadi social commerce dan platform penemuan konten yang menghubungkan merek, pemilik bisnis, pembeli dan penjual kepada jutaan pengguna melalui layanan berbagi foto dan video. Kami kuat di Indonesia, Afrika Selatan, Nigeria, Venezuela dan negara-negara emerging market lainnya,” ujar Calvin Kizana (Founder & CEO Picmix).

Calvin mengungkapkan bahwa baru-baru ini pihaknya telah menerima pendanaan Seri A sebesar US$3 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk pertumbuhan basis pengguna, meningkatkan fitur, dan mempekerjakan bakat-bakat baru.

Calvin Kizana, Founder and CEO PicMic (kiri), David Wayne Ika, Founder & CEO Kurio (kanan)

Calvin Kizana, Founder and CEO PicMic (kiri), David Wayne Ika, Founder & CEO Kurio (kanan)

Selain PicMix, Kurio menjadi aplikasi lokal dengan pertumbuhan yang pesat. Aplikasi berita ini berada di bawah naungan Merah Cipta Media (MCM), salah satu perusahaan dari GDP Ventures.

Sejak diluncurkan pada tahun 2014, Kurio memposisikan diri sebagai platform bagi publisher online untuk memperluas penyebaran konten dan mendapatkan pembaca yang lebih banyak. Hingga saat ini, Kurio telah bekerja sama dengan  200 publisher online ternama di Indonesia untuk menghadirkan konten yang terpercaya.

Aplikasi Kurio saat ini tersedia di smartphone untuk platform iOS dan Android. Hingga Januari 2016, tercatat penggunanya telah mendekati 500.000 download di mana 75% adalah pengguna Android dan 25% pengguna iOS dengan MAU (Monthly Active Users) sebesar 50%. Pada pertengahan Maret yang lalu, Kurio meraih investasi seri B dari Gunosy, aplikasi berita terpopuler di Jepang sebesar US$5 juta.

“Kurio senang sekali bisa berpartisipasi di acara ini karena sesuai dengan visi misi kami, ingin memberi impact positif ke pengguna dengan cara memperkecil information and knowledge gap yang ada hari ini. Kami percaya di jaman era teknologi, internet, dan digital seperti ini, salah satu faktor penting untuk kemajuan Indonesia dimulai dari banyak konsumsi informasi dan pengetahuan untuk mempersiapkan SDM yang lebih baik, banyak baca-banyak tahu,” ujar David Wayne Ika (Founder & CEO Kurio).