Fitur Dinamika Kompetisi Aplikasi Transportasi di Indonesia

Dinamika Kompetisi Aplikasi Transportasi di Indonesia

ojek online grabbike vs ubermotor vs gojek

Masih hangat di benak kita, demonstrasi massal yang dilakukan oleh para sopir taksi di Jakarta untuk memprotes layanan Uber dan Grab pada pertengahan Maret silam. Bahkan, layanan Go-Jek pun tidak luput dari kemarahan demonstran karena dianggap mengurangi penghasilan mereka.

Unjuk rasa itu direspons Kementerian Perhubungan dengan menerbitkan peraturan bagi pemilik usaha aplikasi transportasi. Pemilik usaha diwajibkan bekerjasama dengan koperasi penyedia jasa transportasi yang memenuhi persyaratan khusus. Kendaraan roda empat yang digunakan pun harus diberi tanda pengenal serta melalui uji KIR secara rutin.

Hasilnya, Uber dan Grab bersedia mematuhi regulasi tersebut dengan menggandeng pihak koperasi, masing-masing Koperasi Jasa Trans Usaha Bersama dan Koperasi Jasa Perkumpulan Pengusaha Rental Indonesia (PPRI).

Setelah kontroversi itu mereda, Uber dan Grab, begitu pula Go-Jek, terlihat lebih agresif memperluas layanannya di Indonesia. Lebih dari sebatas pemesanan mobil dan sepeda motor sewaan. Bahkan, kalau diperhatikan, saat ini Uber, Grab, dan Go-Jek mengusung variasi layanan transportasi yang serupa.

Beberapa waktu lalu, Go-Jek identik dengan jasa pemesanan ojek dan kurir motor secara online. Kalau ingin naik mobil sewaan dengan tarif datar, konsumen bisa memilih GrabCar. Sedangkan bagi yang lebih suka mobil sewaan bergaya taksi, Uber jadi opsi utama.

Namun, sekarang ketiga perusahaan itu nyaris tidak ada bedanya. Go-Jek punya model bisnis paling luas. Untuk jasa transportasi, mereka punya ojek (Go-Ride), kurir (Go-Send), pengantaran makanan (Go-Food), mobil sewaan (Go-Car), dan mobil boks (Go-Box). Masih ada lagi jasa nontransportasi, seperti jasa pijat (Go-Massage), bersih-bersih rumah (Go-Clean), perawatan tubuh (Go-Glam), dan pembelian tiket (Go-Tix).

Sementara itu, Grab kini tidak hanya menawarkan layanan pemesanan taksi (GrabTaxi), mobil sewaan (GrabCar), dan ojek (GrabBike), tetapi juga kurir (GrabExpress) dan pengantaran makanan (GrabFood).

Sedangkan Uber dalam waktu satu bulan terakhir sudah membuka dua layanan baru di Indonesia. Di samping memesan mobil sewaan UberX dan Uber Black, konsumen dapat memilih moda transportasi ojek (UberMotor) dan yang paling anyar, tumpangan/tebengan kendaraan (UberPool).

Demikian pula dengan metode pembayaran. Go-Jek yang awalnya cuma menerima pembayaran tunai, sekarang menambah opsi dengan dompet elektronik Go-Pay. Begitu juga Grab yang menyediakan GrabPay. Sebaliknya, Uber pun yang di luar negeri hanya memberi opsi pembayaran lewat kartu kredit, di Indonesia “rela” mengalah pada kebiasaan konsumen lokal dan melayani pembayaran tunai.

Keunggulan Pemain Lokal

Sejauh ini, persaingan antarpelaku industri aplikasi transportasi di Indonesia memang ketat. Tapi, kondisi pasar masih terbuka lebar. Go-Jek dan GrabBike boleh mengklaim unggul pada pasar ojek online. Tapi, bukan tidak mungkin UberMotor bisa menyusul, berbekal modal besarnya sebagai pemain global. Begitu juga pada pasar mobil sewaan.

Jika diamati, ada fakta menarik bahwa kompetisi terjadi di antara tiga nama yang berbeda skala. Uber adalah merek global, Grab berada di level regional, sedangkan Go-Jek masih berskala lokal. Berdasarkan hal tersebut, Nadiem Makarim (CEO, Go-Jek) mengklaim bahwa status pemain lokal—dengan ukuran perusahaan yang lebih kecil—malah dirasakan sebagai keuntungan.

Dalam wawancara dengan Tech in Asia, Nadiem mengungkapkan strateginya untuk menghadapi pemain-pemain yang lebih besar. “Sangat penting untuk menciptakan diferensiasi pada platform kita, daripada selalu beradu layanan yang sama dan perang harga,” ujarnya.

“Dalam kasus kami, Go-Jek sangat cepat melakukan diversifikasi. Sekarang orang melihat Go-Jek sebagai sebuah platform—bisa untuk alat bepergian, memesan makanan, berbelanja kebutuhan sehari-hari, dan membeli tiket bioskop,” kata Nadiem. Inilah keuntungan pemain kecil karena bisa lebih cepat berinovasi dan melakukan diferensiasi.

Beberapa waktu lalu, Go-Jek dikritik sejumlah pihak karena mengakuisisi dua pusat pengembangan aplikasi di Bangalore, India. Langkah itu dipandang berlawanan dengan kampanye Go-Jek selama ini yang membanggakan diri sebagai “karya anak bangsa”.

Akan tetapi, keputusan itu harus diambil karena Go-Jek sudah kewalahan menghadapi pertumbuhan jumlah pengguna yang sangat tinggi. Mereka butuh tim pengembang yang siap pakai, khususnya untuk posisi-posisi yang membutuhkan skillset baru, misalnya DevOps. Hal itu sulit didapatkan di Indonesia.

“Teruslah menambah kuantitas anggota tim pengembang melebihi kebutuhan bisnis saat ini. Siapkan untuk kebutuhan pada masa depan. Always over hire, be over capacity in your senior tech leadership,” Nadiem berpesan.

Comments

comments