Profil GKR Hayu, Srikandi Teknologi Informasi di Keraton Yogyakarta

GKR Hayu, Srikandi Teknologi Informasi di Keraton Yogyakarta

GKR Hayu (Penghageng Tepas Tandha Yekti, Keraton Yogyakarta), mengawinkan budaya Jawa dengan teknologi informasi.

GKR Hayu (Penghageng Tepas Tandha Yekti, Keraton Yogyakarta), mengawinkan budaya Jawa dengan teknologi informasi.

Di Yogyakarta, eksistensi Keraton dan pemerintahan yang dipimpin oleh seorang raja masih berlanjut dan berkembang hingga sekarang. Dengan sistem pemerintahan tersebut, Provinsi DI Yogyakarta bahkan bisa bertahan sampai sekarang dan menjadi salah satu kota besar di Indonesia.

Pada tahun 2012, Keraton Yogyakarta membentuk divisi baru, yakni Tepas Tandha Yekti, sebuah divisi yang bertanggung jawab atas TI dan dokumentasi dalam Keraton. Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu bertindak sebagai penghageng atau kepala. Melalui divisi ini pula, Keraton Yogyakarta diharapkan menjadi computer integrated, di mana selama ini terbiasa dengan departemen yang terpisah-pisah, data tersebar, dan tidak update.

Siapakah Hayu dan mengapa ia yang dipilih untuk menjadi srikandi penanggungjawab teknologi informasi di Keraton Yogyakarta?

Hayu merupakan putri keempat Sri Sultan Hamengkubuwono X. Kepada InfoKomputer, Hayu mengaku sejak berusia enam tahun sudah bercita-cita ingin menjadi ahli komputer. “Biar bisa ngerampok bank dari jauh,” ujarnya sambil tertawa.

Seiring berjalannya waktu, cita-cita itu pun menjadi lebih serius. Ketika menginjak SMA dan juga pengaruh dari teman, Hayu yang saat itu bersekolah di Singapura pun mulai mencoba-coba membuat website menggunakan HTML dan CSS secara otodidak.

Selepas SMA, Hayu pun kian mantap mengambil jurusan komputer. Ia pun mengambil jenjang S1 jurusan computer science di Amerika Serikat meski tidak sampai tamat. Hayu lantas melanjutkan ke jurusan sistem informasi (information system) di Inggris. Di sana Hayu memperdalam ilmu seperti system design dan testing.

Saat berkuliah itu pula, Hayu mendapat kesempatan magang pertama pada tahun 2007 – 2008 di Microsoft Indonesia di bagian public sector. Di posisi ini, Hayu belajar mengenai cara-cara dealing dengan Pemerintah Indonesia.

Selanjutnya pada tahun 2009, Hayu hijrah ke industri software house yang membuat internet banking. Di sana Hayu mendapat posisi Project Manager yang menangani beberapa bank BUMN dan asing yang besar. “Disambi [juga] kalau untuk bank yang lebih kecil, saya oversee Junior Project Manager-nya, mereka yang on-site ke client,” jelas wanita yang gemar bermain PlayStation ini.

Pada tahun 2012, Hayu memutuskan pulang ke Yogyakarta dan menjadi produser di Gameloft Jogja, sekaligus mengawal dibentuknya Tepas Tandha Yekti. Namun tak berselang lama, Hayu mendapat tawaran beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk jenjang S2 di Amerika Serikat. Hayu pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. “Akhir 2015 lalu, saya baru selesai S2, [jadi] sekarang [bisa] fokus di Tepas Tandha Yekti,” tutur Hayu.

Selama bekerja di Jakarta, Hayu mengungkapkan, dirinya kerap mendapat “proyek Prambanan” alias kejar tayang dengan deadline yang impossible. Baginya, lembur, bahkan sampai menginap di kantor client berhari-hari beralas matras yoga demi mengejar deadline, merupakan hal lumrah.

Seperti Bermain Puzzle

Bagi Hayu, membuat website ibarat bermain puzzle. Apalagi bermain puzzle merupakan hobinya sejak kecil. Walhasil, meski mengaku kepentok dengan programming, Hayu tak kapok dan tetap bertahan di industri TI meskipun memilih jalur yang lain.

Kecintaannya pada dunia TI pun bahkan ia bawa ke resepsi pernikahannya pada 2013 lalu. Ketika itu Hayu membuat website dan kartu undangan magnetic. “Saya dan Mas Noto (suami GKR Hayu. red) punya banyak teman di luar negeri yang tidak mungkin datang ke pernikahan kami. Maka dari itu, saya niat bikin website supaya mereka bisa ikut menyimak,” tuturnya.

Selain itu, Hayu menambahkan, banyaknya tamu undangan juga menjadi pertimbangan. Hayu kerap melihat kantor sekretariat seringkali kerepotan menyusun daftar tamu dan mengonfirmasi kedatangan. Begitupula ketika tamu datang, sering antre mengisi buku tamu. “Maka dari itu saya bikin kartu undangan yang magnetic. Selain mempermudah pekerjaan, mempersingkat antrean, juga bisa menjadi souvenir,” tutur wanita peraih gelar MBA dengan double concentration ini.

Mengemas Keraton via Online Presence

Di Tepas Tandha Yekti, Hayu dipercaya menjadi penghageng atau kepala. Hayu menyebut divisi ini memiliki fokus pada TI dan dokumentasi. “Sekarang yang baru banyak jalan adalah menjadi satu-satunya tim dokumentasi resmi di Keraton dan mengemas content untuk dibagikan ke masyarakat luas melalui online presence,” jelas Hayu.

Di divisi tersebut, Hayu mengkomandani sekitar 25 orang yang bertugas membuat konsep, mencari dana, mencari orang, serta mengontrol eksekusi. Namun Hayu mengungkapkan, terlalu banyaknya konten kadang membuat dirinya sampai bingung mau mulai dari mana. Begitupun kurangnya sumber tertulis, mencari writer maupun copywriter yang punya “roso” Jawa, dituturkan Hayu menjadi kendala tersendiri.

Meskipun demikian, setidaknya Keraton memiliki online presence resmi sehingga tidak tergantung media lain dalam memberikan informasi tentang Keraton secara akurat ke masyarakat. “Saya mengawasi secara remote, tapi yang [mengawasi] sehari-hari ada wakil saya, sekretaris, bendahara, dan project manager,” tutur Hayu.

Pada pertengahan 2015, Keraton Yogyakarta juga memiliki media sosial di Twitter, Instagram, dan Facebook. Selain aktif di Tepas Tandha Yekti, wanita kelahiran Desember 1983 ini juga menjadi penasehat dua asosiasi di Yogyakarta, yakni Asosiasi Digital Kreatif yang berfokus pada aplikasi dan internet, serta Jogja Creative Association sebagai media kreatif.

Kini dengan hadirnya Tepas Tandha Yekti, Hayu melalui Keraton Yogyakarta bisa ikut mendorong generasi muda untuk mencintai budaya Jawa dengan bantuan teknologi dan media. “Kita bisa share hal-hal yang sebelum ini tidak diketahui masyarakat, jadi bisa meluruskan beberapa persepsi yang keliru,” terang Hayu.

Wanita yang gemar membawa komputer tablet dan Nintendo 3DS ke mana-mana ini pun mengaku untuk saat ini akan berfokus di Tepas Tandha Yekti dulu.  “Karena saya sudah terlalu lama di luar negeri, jadi kali ini pengen fokus dengan kerjaan di rumah,” ujarnya.

Hayu berharap, Tepas Tandha Yekti akan mempermudah public service di Keraton kepada masyarakat luas, begitu juga dengan penyebaran informasi sebagai sumber official. Niscaya proses penyebaran budaya Jawa sampai ke dunia internasional dapat dilakukan dengan mudah dan dengan penyajian semenarik mungkin.