Fitur Enterprise Cara Citilink Membangun Data Culture di Industri Penerbangan

Cara Citilink Membangun Data Culture di Industri Penerbangan

Achmad Royhan (Vice President of Information Technology, Citilink). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Achmad Royhan (Vice President of Information Technology, Citilink). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Sektor transportasi udara Indonesia terus berbenah. Tahun ini saja, Pemerintah RI menargetkan pembangunan 15 bandara baru, perpanjangan landasan pacu di 27 lokasi, serta rehabilitasi 13 bandara yang telah ada. Seluruh pembangunan ini adalah bagian dari usaha Pemerintah mendongkrak pertumbuhan ekonomi serta pemerataan pembangunan di seluruh Indonesia.

Aksi cepat Pemerintah itu tentu saja berefek positif bagi industri penerbangan di Indonesia. Mengutip data International Air Transport Association (IATA), pada tahun 2034 Indonesia akan menjadi pasar keenam terbesar di dunia dalam hal transportasi udara. Jumlah penumpang diperkirakan akan mencapai 270 juta per tahun, atau tiga kali lipat dari jumlah penumpang saat ini.

Lalu, bagaimana maskapai penerbangan Indonesia memanfaatkan peluang emas ini? Bagi Citilink, caranya adalah dengan menjadi organisasi yang memanfaatkan teknologi.

Migrasi ke Cloud

Menurut Achmad Royhan (Vice President of Information Technology Citilink), pemikiran itu didasarkan pada pemahaman bahwa industri penerbangan adalah industri yang sangat kompetitif dan setiap maskapai harus memiliki unique value proporsition.

“Karena sekarang eranya digital business, setiap perusahaan, apalagi airline, dituntut untuk bisa memanfaatkan teknologi,” ungkap pria yang telah bergabung dengan Citilink sejak tahun 2008 ini. Apalagi, sejak awal Citilink sudah memosisikan diri sebagai IT-based company. “Semua proses menggunakan sistem dan aplikasi sehingga data sudah tersimpan,” tambah Achmad.

Akan tetapi dengan positioning sebagai low-cost airline, Citilink tetap harus menjaga struktur biayanya agar tetap langsing dan efisien. Paradigma ini juga berlaku bagi tim TI Citilink.

Saat ini, tim TI di bawah Royhan jumlahnya tak lebih dari lima belas orang. “Dari awal kami memang tidak ingin banyak orang TI,” tambah Royhan. Tim kecil ini difokuskan untuk mendukung inovasi dan pengembangan TI yang langsung mendukung bisnis Citilink. “Karena core business kami ‘kan airline, bukan IT,” tambah Royhan menekankan.

Hal ini juga yang menjelaskan mengapa Citilink mulai memindahkan infrastruktur TI-nya ke cloud setelah sebelumnya mengambil pendekatan on-premise. Pemikiran pindah ke cloud sebenarnya sudah dipikirkan sejak lama, namun sebuah peristiwa membuat Royhan bertekad pindah ke cloud.

“Waktu itu ketika akan peak season dan kami ingin menaikkan kapasitas, kami langsung disodori kontrak sewa selama enam bulan,” kenang Royhan. Padahal, Citilink kala itu cuma butuh 1-2 bulan. Belajar dari pengalaman itu, Royhan melihat teknologi cloud adalah jawaban tepat bagi perusahaan dengan kebutuhan TI yang dinamis seperti Citilink.

Proses migrasi ke cloud ini dimulai sejak tahun 2011. Pada tahun 2014, semua infrastruktur Citilink sudah berada di cloud. Royhan dan tim pun kini mengaku tenang menghadapi berbagai situasi, termasuk saat peak season seperti Lebaran kemarin. “Kita tinggal set ketika CPU level sekian, memory level sekian, otomatis langsung scale-out,” tambah Royhan. Sebaliknya ketika beban menurun, infrastruktur tersebut otomatis juga langsung scale-down.

Ilustrasi pesawat Citilink.

Ilustrasi pesawat Citilink.

Citilink sendiri menggunakan layanan beberapa cloud provider, namun mayoritas berada di Microsoft Azure. “Karena dari infrastructure performance sampai reliability-nya bagus,” ungkap Royhan mengungkapkan alasannya. Alasan lain yang membuat Citilink nyaman menggunakan Azure adalah karena Microsoft memiliki partner lokal yang bisa diajak berdiskusi, di luar tim Microsoft pusat sendiri yang siap membantu.

Selain memanfaatkan Azure sebagai infrastruktur, Citilink juga menggunakan beberapa fitur di atas Azure seperti SQL Database dan PowerBI untuk pengolahan data.

Pemanfaatan Data

Ketika sistem dan infrastruktur di Citilink sudah mapan, langkah selanjutnya yang ingin diwujudkan adalah membangun data culture alias budaya yang memanfaatkan data saat mengambil keputusan. “Jadi kita harus berpikir bagaimana caranya memanfaatkan data yang ada untuk mendukung keputusan dari semua unit,” ungkap pria lulusan Stikom Surabaya ini.

Membangun budaya berbasis data sendiri sudah Royhan rintis sejak tahun 2013. Strategi yang dilakukan Royhan kala itu adalah membuat laporan berdasarkan analisis tingkat keterlambatan pesawat Citilink di berbagai titik. “Saya buat laporan itu berdasarkan pemahaman di kepala saya, tanpa mereka minta,” kenang Royhan sambil tertawa.

Dari analisis tersebut, terkuak fakta bahwa penyebab keterlambatan tersebut lebih bersifat eksternal, yaitu keterbatasan infrastruktur di bandara. “Karena runway-nya sedikit, akhirnya terjadi antrian panjang,” ungkap Royhan.

Belajar dari laporan tersebut, pihak manajemen pun makin menyadari pentingnya pemanfaatan data. Instruksi untuk memanfaatkan data pun ditularkan ke semua business unit. Namun itu juga berarti tugas Royhan dan tim TI-nya kian krusial. Awalnya mereka harus menyakinkan setiap business unit untuk menggunakan aplikasi yang ada sehingga data bisa terkumpul. “Jadi kita harus menyakinkan user daripada menggunakan spreadsheet Excel biasa, lebih baik menggunakan aplikasi di dalam sistem,” ungkap Royhan mencontohkan.

Setelah itu, tim TI juga akan membantu unit untuk bisa mencari insight dari data yang sudah terkumpul. “Karena tim TI butuh masukan dari semua unit untuk merancang pola data seperti apa yang bisa ‘bunyi’,” tambah Royhan. Pada tahap ini, strategi yang dilakukan Citilink adalah membentuk tim data analyst yang akan membantu key user di tiap unit. Berdasarkan data-data itulah, Citilink berhasil mendapatkan insight menarik yang kemudian digunakan untuk mengatur strategi di masa mendatang.

 sejak awal Citilink sudah memposisikan diri sebagai IT-based company. “Semua proses menggunakan sistem dan aplikasi sehingga data sudah tersimpan,” tambah Achmad.

Sejak awal Citilink memosisikan diri sebagai IT-based company. “Semua proses menggunakan sistem dan aplikasi sehingga data sudah tersimpan,” tukas Achmad.

Pada industri penerbangan sendiri, dua sektor yang krusial dalam memanfaatkan data adalah operasional dan penjualan. Pada sisi operasional, data bisa digunakan untuk meningkatkan ketepatan waktu serta efisiensi pengaturan pesawat dan kru.

Sementara di sisi penjualan, data dari tingkat keterisian dan ASK (average seat per kilometer) bisa digunakan untuk memberikan tarif paling optimal dari setiap rute penerbangan. Data pembelian dari OTA (online travel agent) yang kini menjadi kanal favorit konsumen pun pun bisa memberikan insight menarik.

“Kita bisa siapa tahu siapa customer kita, atau channel payment apa yang paling banyak digunakan,” tambah pria yang baru berusia 32 tahun ini. Data kota mana saja yang OTA-nya belum kuat pun bisa digunakan sebagai basis strategi pengembangan agen penjualan.

Pendek kata, ada banyak insight yang kini bisa Citilink ketahui setelah mengadopsi pendekatan data culture. Namun langkah Citilink mewujudkan data culture tidak akan berhenti sampai di sini. Salah satu impian yang Royhan coba wujudkan adalah merancang sistem berbasis machine learning.

“Saat ini kita kuatkan fondasinya dulu, nanti ujungnya kami harap bisa memiliki sistem [berbasis machine learning] yang memberikan suggestion untuk pengembangan bisnis Citilink,” tambah ayah dua putri ini.

Semua kerja keras itu adalah bagian dari mimpi besar Citilink untuk menjadi pemimpin regional di bidang low-cost airlines. “Tidak cuma dari sisi market, namun juga inovasi dan teknologi,” ungkap Royhan.