Fitur Cara Surabaya, Trenggalek, dan Magelang Bahagiakan Warganya dengan Smart City

Cara Surabaya, Trenggalek, dan Magelang Bahagiakan Warganya dengan Smart City

“E-Government ini bukan gaya-gayaan, karena tanpa ini kami tidak bisa melayani masyarakat Surabaya,” tandas Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

“E-Government ini bukan gaya-gayaan, karena tanpa ini kami tidak bisa melayani masyarakat Surabaya,” tandas Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. [Foto: Liana Threestayanti/InfoKomputer]

Cikal bakal pemikiran dan rancangan tentang sebuah negara yang cerdas dengan dukungan kota-kota pintar di seantero wilayahnya sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Pemikiran tentang kota pintar atau smart city, menurut Suhono H. Supangkat (Ketua Smart Indonesia Initiative) merupakan hasil dari kegiatan e-Indonesia Initiative (e-II) Forum yang sudah berlangsung sejak sepuluh tahun.

Namun hingga hari ini, pandangan berbagai pihak, termasuk pemerintah kota dan kabupaten, tentang kota pintar masih cukup beragam. “Ada yang bilang smart city adalah kota dengan fiber optic. Kemudian, ada pula yang berpendapat, smart city adalah [kemudahan mengurus] perizinan, atau smart city adalah kota yang memiliki banyak aplikasi, atau smart city adalah kota yang ada command center-nya,” papar Suhono di konferensi Goesmart 2016 di Surabaya.

Salah satu penyusun Indeks Kota Cerdas Indonesia (IKCI) 2015 ini menyatakan bahwa ukuran paling utama dalam membangun kota cerdas adalah membahagiakan warga. Smart city harus mampu membuat warganya happy (bahagia) untuk tinggal dan berkegiatan di kota tersebut. “Bagaimana pemerintah bisa membahagiakan warga? Bagaimana industri bisa menawarkan fasilitas-fasilitasnya untuk membahagiakan warga?” cetus Suhono.

Konferensi Goesmart 2016 yang merupakan bagian dari kegiatan e-Indonesia Initiative Forum menampilkan inisiatif kota cerdas yang digagas dan telah direalisasikan oleh beberapa pemerintah kota serta kabupaten di Indonesia.

Surabaya Smart City

Tidak mengherankan jika Surabaya didaulat sebagai tuan rumah forum smart city 2016 yang bertajuk Indonesia International Smart City Expo & Forum Surabaya 2016 (IISMEX 2016). Ibu kota provinsi Jawa Timur ini, menurut Suhono, meraih nilai terbaik menurut Indeks Kota Cerdas Indonesia. Apa saja yang inisiatif yang digelar Pemkot Surabaya agar warganya lebih bahagia?

Pada tiga tahun lalu, setiap kali turun hujan, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sibuk berkeliling kota demi memastikan pompa dan pintu air berfungsi dengan baik sehingga kota tidak kebanjiran. Namun sekarang, Risma tinggal membuka dan mengontrol semua itu melalui komputer tablet yang selalu ia tenteng ke mana-mana.

“Kami sekarang mempunyai sistem Water Level Management yang dapat mengontrol naik turunnya pintu air secara otomatis. Selain itu, kami juga memasang CCTV untuk mengawasi pompa air berjalan atau tidak,” cetus perempuan yang akrab disapa Risma ini.

Pemerintah Kota Surabaya memang tergolong piawai memanfaatkan teknologi informasi untuk menunjang kinerja. Berbagai aplikasi dibuat, baik untuk kebutuhan internal Pemkot maupun untuk melayani masyarakat. Aplikasi-aplikasi tersebut berada dalam satu sistem yang disebut e-Government.

Beberapa aplikasi sempat dipaparkan oleh Risma dalam pembukaan IISMEX 2016, seperti SWAT (untuk memantau sampah), sistem siaga bencana, Sistem Informasi Program Layanan Masyarakat (Simprolanmas), e-Health, e-Lampid, dan e-Wadul. Di luar itu, masih ada sederet aplikasi lain, berbasis web maupun mobile, yang telah dimanfaatkan untuk mengelola kota dan melayani warga Surabaya.

E-Government ini bukan gaya-gayaan, karena tanpa ini kami tidak bisa melayani masyarakat Surabaya,” tandas perempuan yang telah membawa Surabaya menuai berbagai prestasi, antara lain sebagai Kota Terbaik se-Asia Pasifik 2012 (Citynet) dan meraih penghargaan Socrates Award kategori Future City 2014 (European Business Assembly).

Sistem e-Government kota Surabaya ini menurut rencana akan diambil KPK sebagai contoh pengelolaan bagi kota-kota lain.

Trenggalek Smart Regency

Ingin mewujudkan smart regency, Dr. Emil Dardak (Bupati Trenggalek) ingin melakukan sinergi pemerintahan dan komunitas. Berbicara khususnya tentang smart infrastructure, Emil memaparkan konvergensi teknologi informasi, komunikasi (TIK) dan penyediaan infrastruktur, serta pemanfaatan TIK untuk cara hidup yang lebih cerdas. Meskipun begitu, Emil menekankan bahwa kuncinya adalah meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam penyediaan infrastruktur.

Bupati Trenggalek Emil Dardak (kanan) menjelaskan tentang visi mewujudkan Trenggalek sebagai smart regency.

Bupati Trenggalek Emil Dardak (kanan) menjelaskan tentang visi mewujudkan Trenggalek sebagai smart regency. [Kredit: Dok. Pemkab Trenggalek]

Bagaimana Pemkab Trenggalek mengintegrasikan konsep smart ke dalam perencanaan smart regency? Pemerintah memiliki core function atau fungsi-fungsi inti, yakni sebagai penyedia layanan publik, pembangun, pembina ekonomi rakyat, dan menyelenggarakan good governance. Di sisi lain, ada empat hal yang diharapkan dari pemerintah, yaitu lincah dan responsif, kebersamaan dan partisipasi, bersinergi dengan pihak luar (eksternal), dan sistematis.

TIK, menurut Emil, dapat mentransformasikan peran pemerintah sesuai harapan warga. Misalnya dalam rangka sebagai penyedia layanan publik yang lincah dan responsif, Pemkab Trenggalek menyediakan call center 24 jam. Dalam upaya menjalankan good governance secara sistematis, Trenggalek telah memiliki e-Office dan Digital Financial Accounting System and Procurement.

Dalam proyek Smart Regency 100 Days telah terwujud beberapa program, antara lain RoadRoid Mapping untuk memeriksa kondisi infrastruktur jalan, optimalisasi e-commerce produk UKM melalui etalase online Produk Trenggalek, 119 Health Emergency Call Center, situs web Trenggalek Membangun, WiFi Corner, dan DiLo (Digital Information Lounge).

Magelang, Kota Cerdas Ekonomi dan Berkelanjutan

Terbilang sebagai kota dengan sumber daya yang minim, Kota Magelang berhasil meraih predikat Kota Cerdas dalam penghargaan Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015. Kota Sejuta Bunga ini unggul di dua kategori, yakni peringkat satu Kota Cerdas kategori kota berpenduduk 200 ribu jiwa atau kurang.

Kota Magelang juga diganjar penghargaan sebagai Kota Cerdas Ekonomi. Kota jasa ini menempati posisi teratas dengan skor 74,196 dalam skala 100 mengungguli kota-kota besar seperti Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bandung, dan sebagainya.

“Magelang tidak memiliki sumber daya, oleh karena itu yang kami kedepankan adalah layanan,” cetus Wali Kota Magelang, Ir. H. Sigit Widyonindito, MT. Menurutnya, konsep kota cerdas sebenarnya sederhana asalkan pemimpin kota tersebut harus memahami dan mampu memanfaatkan potensi-potensi yang dimiliki daerahnya. “Dan mampu menggerakkan jajaran pemerintahan kota untuk memajukan kota,” imbuh Sigit.

Khususnya untuk mengembangkan kota cerdas secara ekonomi, Sigit memaparkan strateginya. Pertama, Pemkot mengembangkan daya saing kota dan menciptakan city branding. Misalnya, Magelang Kota Sejuta Bunga. Langkah berikutnya adalah mengembangkan kewirausahaan masyarakat dan pelaku usaha melalui penguatan kelembagaan. Pemkot juga memfasilitasi promosi produk usaha kecil dan menengah, termasuk memberi pelatihan pemasaran online pada pelaku UMKM.

Destinasi wisata lama dan baru pun menjadi bagian dari strategi ini. Pemkot Magelang terus memantapkan pengelolaan destinasi wisata yang sudah ada, serta mengembangkan destinasi baru. Di sisi infrastruktur dan sarana lalu lintas, Pemkot Magelang juga memanfaatkan TIK melalui Intelligent Transportation System yang mencakup sistem pengendali lalu lintas berbasis TI dan sistem informasi angkutan.

Yang tidak boleh dilupakan adalah komunikasi unsur pimpinan dan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan secara langsung/tatap muka maupun melalui media elektronik dan media sosial.

Comments

comments