Fitur Menjual Sensualitas di Balik Layar Live Video Streaming

Menjual Sensualitas di Balik Layar Live Video Streaming

Cliponyu, salah satu pionir layanan live video streaming di Indonesia.

Cliponyu, salah satu pionir layanan live video streaming di Indonesia.

Tren media sosial saat ini telah bergeser ke arah konten video dengan maraknya aplikasi live video streaming. Beberapa aplikasi live video streaming pun mulai banyak diminati para pengguna. Layanan seperti Bigo Live, Periscope, NonoLive, Balala Live, #fame, Siaranku, sampai CliponYu ternyata mendapatkan sambutan yang cukup baik.

Meskipun bukan yang pertama, kehadiran Periscope bisa dibilang menjadi awal dari maraknya penggunaan aplikasi live video streaming berbasis mobile di tanah air. Salah satu hal yang menjadi sebab mengapa Periscope menjadi ramai digunakan adalah karena aplikasi ini terintegrasi dengan Twitter. Dari sini, secara tidak langsung, pengguna tanah air mulai mengenal layanan live video streaming sebagai salah satu media alternatif yang cukup menarik.

Sebelumnya, beberapa layanan sejenis sudah hadir terlebih dulu. Contohnya yaitu CliponYu. Layanan yang hadir di tahun 2014 ini awalnya hanya bisa diakses via peramban dari desktop. Kini, dengan perangkat mobile yang menjamur, layanan ini pun mulai hadir bagi perangkat berbasis iOS dan Android.

Kini pengguna layanan live video streaming sedang mengalami masa jayanya. Tidak percaya? Dilihat dari jumlah unduhan aplikasi video streaming, rata-rata mencapai jutaan unduhan. Ini pun hanya berdasarkan unduhan yang dilakukan pengguna Android via Google Play Store.

Periscope dan Bigo Live menjadi yang terbanyak dengan unduhan mencapai lebih dari 10 juta. Sementara NonoLive telah mencapai angka lebih dari satu juta unduhan. Merujuk kesuksesan aplikasi ini, kini Facebook dan Instagram juga menambahkan fitur Live Video karena banyaknya pengguna yang menyukai fitur live video streaming.

Tren live video streaming yang sedang naik daun ini juga disebabkan oleh makin baiknya jaringan internet yang ditawarkan para operator telekomunikasi. Koneksi 4G yang mulai hadir secara luas, menjadi salah satu faktor nyamannya pengguna mengakses layanan live video streaming. Layanan ini memang membutuhkan koneksi lebih kencang dibandingkan media sosial berbasis teks dan gambar saja.

Media Sosial Alternatif

Di kala mayoritas media sosial menawarkan sesuatu yang hampir serupa, layanan live video streaming seakan menjadi penawar dari kebosanan terhadap media sosial tersebut.

Kini sudah mulai banyak pengguna yang jenuh dengan media sosial seperti Facebook, Path, Twitter, dan lainnya yang hanya menampilkan foto serta teks. Dengan munculnya konten video, mereka merasa kian dekat saat berinteraksi. Tidak hanya itu, tampilan video membuat pengguna seolah-olah sedang mengobrol secara langsung dengan pengguna lainnya.

Bahkan layanan ini juga sering dijadikan sarana untuk melapor atau meliputi suatu kejadian atau peristiwa secara langsung. Kami pernah mendapati suatu siaran langsung dari Periscope mengenai peristiwa penembakan mahasiswa yang terjadi di Amerika Serikat.

Hal lain yang membuat layanan ini diminati adalah banyaknya host atau broadcaster wanita cantik. Para host ini berperan layaknya penyiar yang akan menampilkan segala informasi, bakat, serta hal menarik lainnya guna memikat pengguna.

Tidak mengherankan jika menurut survei, pengguna layanan live video streaming didominasi kaum adam. Aplikasi seperti Bigo Live atau NonoLive memang banyak diisi oleh berbagai host cantik guna memikat para pengguna pria. Bahkan Balala Live juga menampilkan beberapa selebriti tanah air guna memikat pengguna.

Ilustrasi para host atau penyiar perempuan yang ada di layanan live video streaming.

Ilustrasi para host atau penyiar perempuan yang ada di layanan live video streaming.

Unjuk Bakat atau Jual Tampang?

Layanan live video streaming ini lantas tidak hanya menjadi ajang interaksi antarpengguna, tetapi juga merupakan ajang yang dipandu oleh pembawa acara yang dikenal dengan istilah host atau broadcaster. Host resmi memang ditugasi untuk menghibur para pemirsa (viewer) atau follower. Tujuannya agar para penggunanya betah berlama-lama menggunakan aplikasi ini. Selain host resmi, pengguna biasa pun bisa menjadi host dengan beberapa persyaratan.

Di sini para host bisa menampilkan bakat mereka dan berharap para pemirsanya akan menyukai tayangan tersebut. Saat melakukan “siaran”, mereka akan menunjukkan kemampuan mereka, bisa dengan melakukan obrolan dengan tema menarik atau memberikan tip dan trik untuk berbagai hal. Dengan tampilan yang real time, akan terjadi interaksi dua arah yang menyenangkan karena antara host dan pemirsanya bisa saling berkomunikasi secara langsung.

Menjadi host atau broadcaster tidak hanya menjadikan mereka populer seiring makin banyaknya follower, tetapi juga dapat menjadi mata pencaharian.

Para host atau broadcaster akan mendapatkan bayaran atau upah sesuai dengan kebijakan setiap aplikasi. Ada aplikasi yang menggaji host jika berhasil melakukan siaran hingga beberapa jam. Ada pula yang menggunakan metode pengumpulan virtual gift yang bisa ditukar dengan uang sungguhan yang telah dikonversi berdasarkan aturan yang ada.

Makin banyak pemirsa atau follower yang berhasil diraih, akan makin populer host tersebut. Dan nantinya, berbagai virtual gift akan mengalir sesuai dengan tingkat kepuasan para pemirsa terhadap host favoritnya.

Sensualitas Jadi Jalan Pintas

Sayangnya, ternyata tidak sedikit yang mengambil jalan pintas untuk menjadi terkenal atau agar bisa mengumpulkan berbagai gift atau follower dengan cara yang kurang terpuji.

Dengan mengandalkan daya tarik fisik dan sensualitas semata, makin banyak host perempuan yang menayangkan atraksi atau tayangan kurang senonoh demi sekadar mengumpulkan virtual gift. Tujuannya membuat senang pemirsa atau follower sehingga makin banyak yang menonton acaranya.

Ini yang terkadang membuat citra layanan live video streaming berkonotasi negatif. Guna menangkal citra ini, beberapa layanan berupaya untuk secara konsisten menghindari tampilan bernuansa negatif dari para host atau broadcaster-nya. Berbagai aturan pun dibuat guna meminimalkan hal yang tidak diinginkan.

Peraturan tidak boleh menyiarkan konten pornografi di salah satu aplikasi live video streaming.

Peraturan tidak boleh menyiarkan konten pornografi di salah satu aplikasi live video streaming.

Rata-rata layanan tersebut menerapkan peraturan yang serupa, seperti melarang menampilkan tayangan yang menjurus ke arah pornografi, menyebarkan konten berbau SARA, kekerasan, dan lainnya. Bagi yang melanggar, berbagai sanksi telah disiapkan seperti ditolak untuk tampil secara sementara atau secara permanen.

Namun tidak bisa dimungkiri, popularitas layanan ini memang dipicu pula oleh hal-hal bernuansa negatif tersebut. Contohnya Bigo Live yang meski hadir belakangan, mampu menyedot perhatian paling besar. Baru dirilis pada Maret 2016 lalu, hingga artikel ini dibuat, jumlah unduhannya sudah mencapai 10 jutaan. Itu hanya dari pengguna Android saja, belum termasuk pengguna iOS.

Akibat dipadati dengan konten video streaming berbau sensualitas dan pornografi, layanan Bigo Live pun baru-baru ini diblokir oleh Kemenkominfo.

Tidak mengherankan jika banyak yang membenci dan juga menyukai layanan tersebut karena alasan tadi. Layaknya dua sisi mata uang, layanan ini bisa menjadi manfaat atau sebaliknya. Dan Anda sebagai pengguna mesti pintar-pintar menggunakannya.

Comments

comments