Fitur Moka POS: Solusi Pembayaran Cloud Point of Sales untuk UKM

Moka POS: Solusi Pembayaran Cloud Point of Sales untuk UKM

“Karena selama ini mesin POS konvensional cuma bisa dimiliki bisnis dengan modal awal cukup besar” Haryanto Tanjo (Co-Founder dan CEO Moka POS).

“Selama ini mesin POS konvensional cuma bisa dimiliki bisnis dengan modal awal cukup besar,” kata Haryanto Tanjo (Co-Founder dan CEO Moka POS). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Jika sedang membayar di sebuah coffee shop, Anda mungkin bisa mengintip sejenak perangkat yang digunakan kasir. Jika mereka menggunakan iPad atau komputer tablet Android, dengan menu yang terlihat modern dan intuitif, besar kemungkinan mereka adalah pengguna Moka POS. Industri food and beverages, utamanya coffee shop, memang menjadi konsumen utama Moka POS.

Namun jika berbicara tentang pangsa pasar potensial Moka POS, hal ini bisa dibilang tidak terbatas. “Semua bisnis yang punya usaha offline bisa menggunakan Moka POS,” ungkap Haryanto Tanjo (Co-Founder sekaligus CEO Moka POS).

Membuka Aksesibilitas

Moka POS sendiri pada dasarnya adalah solusi seputar kasir atau point of sales (POS) berbasis cloud. Dari sisi back-end, pemilik usaha cukup masuk ke www.mokapos.com untuk mengelola segala hal tentang usahanya, seperti membuat menu, melihat transaksi, sampai mengecek inventori.

Sementara di front-end, Moka POS hadir dalam bentuk aplikasi berbasis iOS (untuk iPad) serta Android (komputer tablet maupun smartphone). Perangkat mobile ini berfungsi sebagai metode input, menggantikan mesin kasir konvensional. Ketika konsumen melakukan pembayaran, kasir tinggal memasukkan pesanan konsumen dari menu utama aplikasi Moka POS ini.

Jika konsumen bersedia, kuitansi pembayaran pun bisa dikirim ke konsumen via e-mail. Selain kuitansi, e-mail tersebut juga berisi formulir penilaian saat konsumen berbelanja di toko. Pendek kata, solusi Moka POS bisa memberikan berbagai fasilitas yang tidak dimiliki mesin POS tradisional.

Menurut Haryanto Tanjo, Moka POS hadir untuk memberikan aksesibilitas solusi POS kepada sektor UKM. “Karena selama ini mesin POS konvensional cuma bisa dimiliki bisnis dengan modal awal cukup besar,” ungkap Haryanto, menunjuk harga mesin kasir yang bisa mencapai Rp20 juta. Sementara di platform Moka POS, konsumen cukup membayar biaya penggunaan sebesar Rp250 ribu per bulan per toko.

Konsumen juga bisa dengan bebas memilih produk hardware yang mereka inginkan (meskipun Moka POS menyediakan paket pembelian hardware).

Dibanding sistem POS tradisional, Moka POS juga memiliki kelebihan pada sistemnya yang real-time. Ketika terjadi transaksi di toko, pemilik usaha bisa langsung melihat transaksi tersebut di sisi backend. Selain lebih informatif, faktor ini menjadi penting bagi pemilik usaha yang memiliki lebih dari satu cabang. Mereka bisa mengontrol semua cabang tersebut dari mana saja selama ada akses internet.

Untuk bisa menghasilkan laporan real-time ini, perangkat di toko tentu saja harus terhubung ke internet. Namun jika tidak dimungkinkan, ketiadaan internet bukan menjadi masalah. “Ketika offline, data tetap tersimpan dan tidak mengganggu operasional sama sekali,” ungkap Haryanto. Jadi internet dibutuhkan untuk mengirim laporan, namun tidak krusial untuk keperluan operasional di toko.

Hal lain yang menjadi fokus utama Moka POS adalah kemudahan penggunaan. “Bagi kami, penggunaan yang user friendly itu sangat penting,” ungkap Haryanto. Kemudahan itu tercermin dari testimonium pengguna di Jogjakarta yang mengaku bisa mengajarkan penggunaan Moka POS dalam tempo lima menit saja. “Padahal kami tidak pernah bertemu sama sekali,” ungkap Haryanto.

Rencana di Masa Depan

haryanto-tanjo-mokapos-1

Haryanto Tanjo (Co-Founder sekaligus CEO Moka POS).

Haryanto sendiri mendirikan Moka POS bersama dengan Grady Laksmono. Berawal dari diskusi seputar bisnis sambil menyeruput moccacino coffee, ide (dan nama) Moka POS pun hadir. “Kebutuhan mendasar dari sebuah bisnis, termasuk UKM, adalah memiliki sistem,” ungkap pria lulusan UC Berkeley ini.

Dalam konteks POS, keberadaan sistem akan memudahkan pemilik UKM mengelola bisnisnya. Transaksi bisa langsung tercatat di sistem tanpa harus dimasukkan secara manual. Inventori juga bisa terjaga karena sistem akan memberi notfikasi jika inventori menipis. “Jadi mereka bisa fokus mengembangkan bisnis tanpa habis waktu mengerjakan hal-hal administrasif,” tambah pria berusia 26 tahun ini.

Sejak berdiri pada Agustus 2014, Moka POS saat ini telah memiliki lebih dari seribu customer dari berbagai kota besar di Indonesia. Sekitar separuh dari jumlah customer berasal dari industri F&B, sedangkan sisanya berupa retail dan service (seperti barber shop). Nantinya, jumlah customer dipastikan akan bertambah besar seiring rencana Moka POS untuk terus melesat.

“Saat ini, kita sedang fokus mengakuisisi merchant dan tumbuh secepat mungkin,” ungkap Haryanto. Apalagi baru-baru ini, Moka mendapatkan pendanaan US$1,9 juta dari sekelompok venture capitalist seperti East Ventures, Fenox VC, dan Northstar Group.

Selain mendapatkan dana dari biaya berlangganan, Moka POS juga mendapat revenue lewat layanan payment bernama mPOS. Melalui mPOS, pemilik usaha bisa menerima pembayaran menggunakan kartu kredit atau kartu debit berlogo Visa dan Mastercard.

Enaknya, pemilik usaha tidak perlu bersusah payah mengajukan permohonan ke bank. Cukup bermodalkan KTP dan uang Rp2 juta untuk pembelian mesin, mereka sudah memiliki sistem pembayaran berbasis kartu. “Dalam tiga hari, mereka sudah bisa mendapatkan mPOS,” ungkap Heriyanto. Hal ini dikatakannya untuk menggambarkan kecepatan memiliki mPOS dibandingkan menunggu mesin EDC dari bank yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Sistem mPOS sendiri adalah hasil kerjasama Moka dengan Bank Mandiri sebagai acquiring bank. “Kami memiliki otoritas untuk memberikan mesin mPOS ini ke merchant yang mau menggunakan,” ungkap Haryanto. Nantinya, merchant akan dikenai biaya merchant discount rate sebesar 2,2% dari setiap transaksi. Ia mengklaim angka itu kompetitif jika dibandingkan sistem lain yang tersedia saat ini.

Ketika ditanya rencana di masa depan, Haryanto menyebut penambahan fitur adalah salah satu fokus utama Moka POS saat ini. Contohnya adalah fitur pencatatan pemesanan (taking order) yang langsung terhubung ke mesin kasir Moka POS. Haryanto juga memiliki obsesi tersendiri agar Moka POS memiliki tampilan yang cantik dan mudah digunakan. “Yang membedakan kami dengan solusi lain adalah user friendliness, jadi tampilan Moka POS harus disukai orang,” ungkapnya.

Ketika mudah digunakan, pemilik usaha UKM yang tidak terlalu akrab dengan teknologi pun akhirnya mau menggunakan Moka POS. Dan dengan jumlah UKM di Indonsia yang mencapai 60 juta, masa depan Moka POS terbilang sangat menjanjikan.

Comments

comments