Berita KUDO Genjot Talenta Programmer melalui Microservice

KUDO Genjot Talenta Programmer melalui Microservice

KUDO, sebagai startup teknologi dan pelopor business model O2O (online to offline) melakukan proses migrasi dari arsitektur monolitik ke microservice.

KUDO, sebagai startup teknologi dan pelopor business model O2O (online to offline) melakukan proses migrasi dari arsitektur monolitik ke microservice.

Teknologi digital terus mengalami perkembangan di dunia baik di negara maju dan berkembang. Lembaga riset International Data Corporation (IDC) Indonesia mencatat adanya peningkatan sebesar 8,3 persen dalam pembelanjaan teknologi informasi di Indonesia yaitu dari Rp199 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp214,4 triliun pada tahun 2016.

KUDO, sebagai startup teknologi dan pelopor business model O2O (online to offline) melakukan proses migrasi dari arsitektur monolitik ke microservice. Arsitektur microservice memiliki keunggulan utama yang berdampak positif bagi perkembangan dalam sistem teknologi yaitu language agnostic.

Trio Purnomo (Technology Evangelist KUDO) mengatakan migrasi ke arsitektur microservice memberikan kemudahan untuk membangun sebuah sistem tanpa bergantungkepada satu bahasa pemrograman yang berdampak positif dalam mengadopsi teknologi baru. Hal itu secara tidak langsung dapat mengembangkan kultur KUDO yang dinamis di dalam bidang teknologi dan selalu siap dengan perubahan teknologi.

“Arsitektur microservice membuat KUDO semakin optimis dalam mengembangkan teknologi dan bisnisnya untuk mencapai misinya untuk memberdayakan 1.000.000 pengusaha digital pada 2018 serta memberi peluang jutaan orang Indonesia untuk berbelanja online,” katanya dalam siaran persnya, Kamis.

Dengan migrasi itu, KUDO juga mempermudah tim Human Capital KUDO dalam mencari talenta-talenta programmer baru. Jika sebelumnya, arsitektur monolitik suatu sistemdibuat menggunakan satu bahasa pemrograman, dengan microservice dapat dipecah-pecah ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil, dan bagian-bagian kecil ini bisa dibangundengan beragam bahasa pemrograman.

Karena itu, talenta programmer dengan berbagai macam latar belakang bahasa pemrograman dapat bekerja sama membangun KUDO menjadi lebih baik.

Comments

comments