Fitur Jojonomic: Solusi Reimbursement Elektronik Bebas Repot

Jojonomic: Solusi Reimbursement Elektronik Bebas Repot

Indrasto Budisantoso (Founder & CEO, Jojonomic). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Indrasto Budisantoso (Founder & CEO, Jojonomic). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Ketika masih bekerja di Boston Consulting, Indrasto Budisantoso kerap melakukan perjalanan dinas. Pria yang akrab dipanggil Asto ini mengaku menikmati pekerjaan tersebut. Namun ada satu hal yang membuat ia malas. “Saya harus meluangkan waktu untuk menempel semua dokumen pengeluaran saya,” ungkap Asto.

Ketika berpindah sebagai CEO dan Country Head di Groupon Indonesia, Asto kembali mengalami masalah terkait reimbursement. Namun sebagai atasan, masalahnya adalah ia harus repot menyetujui dokumen reimbursement dari anak buahnya yang jumlahnya tidak sedikit.  “Saya bisa menghabiskan waktu setengah sampai satu jam setiap minggu hanya untuk mengurus reimbursement itu,” ujar Asto.

Dari pengalaman tersebut, Asto pun tersadar kalau pengurusan reimbursment berbasis manual itu merepotkan. Ia pun mencari solusi reimbursment yang lebih efisien. Ia menemukan solusi seperti itu di negara maju seperti AS dan Jepang, namun tidak untuk Indonesia atau bahkan Asia Tenggara.

Karena itulah sesaat setelah keluar dari Groupon, Asto memutuskan untuk membuat aplikasi reimbursment sendiri. Setelah menggodok rencana tersebut selama enam bulan, Jojonomic pun hadir di akhir 2015 lalu.

Penghematan Waktu

Secara sederhana, Jojonomic Pro adalah solusi reimbursement digital yang mengandalkan foto sebagai bukti transaksi.

Setiap melakukan transaksi yang membutuhkan penggantian, karyawan cukup membuka aplikasi Jojonomic Pro dari smartphone (Android maupun iOS), memotret bukti transaksi, lalu memasukkan nilai transaksi. Proses pemotretan itu juga menangkap informasi lokasi melalui GPS smartphone, sehingga setiap transaksi memiliki data tambahan berupa lokasi.

Di akhir bulan, karyawan tinggal mengirimkan semua data tersebut ke atasannya. Sang atasan nanti bisa melihat seluruh data transaksi melalui aplikasi Jojonomic maupun browser PC. Setiap transaksi akan menampilkan informasi lengkap, mulai dari foto struk, nilai transaksi, keperluan, sampai lokasi. Dengan semua data tersebut, atasan pun dengan mudah memastikan transaksi yang akan diganti tersebut telah memenuhi aturan.

Jika dibandingkan layanan reimburse yang sudah ada, Jojonomic diklaim lebih cocok dengan sistem kerja di Indonesia. Contohnya keberadaan fitur Cash Advance untuk kegiatan yang membutuhkan keberadaan uang di muka. “Karena Indonesia belum banyak perusahaan yang menggunakan corporate credit card,” ungkap Asto menjelaskan mengapa fitur ini dimiliki Jojonomic.

Dengan Cash Advance, karyawan bisa meminta uang muka (atau bon sementara) ke perusahaan untuk sebuah kegiatan. Setiap transaksi nantinya tinggal dimasukkan ke kategori Cash Advance. Di akhir kegiatan, perusahaan maupun karyawan dengan mudah mengetahui saldo yang tersisa.

Meskipun menawarkan kelebihan dibandingkan solusi sejenis, Asto melihat tantangan terbesar Jojonomic bukan di situ. Tantangan terbesar Jojonomic lebih kepada belum banyaknya perusahaan yang menyadari keberadaan solusi seperti ini. “Sekarang kita tidak masalah melakukan reimburse manual, karena semua orang mengira normalnya seperti itu,” tambah Asto. Baru ketika diperkenalkan soal Jojonomic, orang menyadari bahwa proses reimbursment manual itu memiliki banyak kekurangan.

Kelemahan itu sebenarnya menyentuh pain point semua pihak, sehingga Jojonomic menyodorkan value proporsition berbeda ke tiap stakeholder. “Ketika berbicara dengan CEO atau CFO, kita utamakan soal transparansi,” ungkap Asto. Perusahaan bisa melakukan efisiensi waktu dan pengeluaran ketika setiap proses reimbursment sudah berformat digital. Sementara saat berbicara dengan karyawan, Jojonomic lebih menekankan soal kemudahan dan kenyamanan karena tidak harus menyimpan bon yang rentan hilang.

Sebagai layanan SaaS, Jojonomic Pro menggunakan sistem pay-as-you-go dengan biaya sesuai jumlah pengguna dan kelengkapan fitur. “Kisarannya sekitar US$4 – 6 per bulan per pengguna” ungkap Asto.

Aneka fitur Jojonomic.

Aneka fitur Jojonomic.

Melebarkan Sayap

Sebagai layanan yang menyasar B2B, Asto menyadari Jojonomic harus mudah diintegrasikan dengan sistem yang sudah ada saat ini. Karena itu, Jojonomic sudah dirancang untuk bisa diintegrasikan dengan beberapa sistem akutansi dan HR, yaitu SAP, Xero, Zahir,  Jurnal, dan Talenta. Jojonomic juga bisa diintegrasikan dengan Mandiri e-Cash, sehingga setiap transaksi yang telah disetujui untuk diganti akan langsung masuk ke Mandiri e-Cash karyawan.

Meski semua data tersimpan di cloud, Asto menjamin keamanan data pengguna tetap aman tersimpan. “Karena semua data dienkripsi dengan standar yang sama dengan e-banking,” tambah Asto.

Asto sendiri mengklaim Jojonomic Pro kini sudah digunakan sekitar empat puluh perusahaan dengan jumlah pengguna total mencapai sepuluh ribuan orang. “Kebanyakan dari e-commerce,” ungkap Asto, sambil menyebut latar belakangnya di industri e-commerce sebagai alasan di balik itu.

Beberapa pengguna Jojonomic adalah Matahari Mall, Gojek, Tokopedia, Lee Cooper, dan Veritrans. “Salah satu BUMN terbesar di Indonesia juga telah menggunakan Jojonomic,” ungkap Asto tanpa menyebut nama BUMN tersebut.

Saat berbicara tentang rencananya di masa depan, dengan lugas Asto menjawab: membawa Jojonomic bersaing di tingkat dunia. “Kita ingin kuat dulu di Indonesia, kemudian menjajakan produk ini ke Asia Tenggara,” ungkap Asto. Langkah itu telah dimulai dengan membuka kantor perwakilan di Singapura. “Jojonomic ini adalah sepenuhnya karya anak bangsa, dan kita ingin karya anak bangsa ini juga bisa go-global,” tambah Asto.

Tantangan di luar sana memang tidak ringan, namun Asto yakin kualitas produknya tidak kalah dengan produk global.

Di awal tahun 2015, Jojonomic terpilih ke dalam program Google Launchpad Accelerator, sebuah program pelatihan khusus yang diadakan Google untuk developer dari negara berkembang seperti Indonesia, India, Meksiko, dan Brazil. Setelah mengikuti pelatihan insentif selama dua minggu di Silicon Valley, Asto mengaku timnya mendapat banyak masukan positif seputar Jojonomic.

Bahkan ketika orang diminta memilih antara Jojonomic dan aplikasi reimbursement yang mereka gunakan selama ini, mayoritas memilih Jojonomic. “Mereka menyebut user experience Jojonomic lebih enak dibandingkan aplikasi lain,” tambah Asto.

Dengan bekal itu, Asto pun yakin Jojonomic tidak saja bisa diterima pengguna di Indonesia namun juga di dunia.

Comments

comments