Profil Alexey Moiseenkov: Dari Rusia dengan Aplikasi Prisma

Alexey Moiseenkov: Dari Rusia dengan Aplikasi Prisma

Alexey Moiseenkov, penemu aplikasi Prisma.

Alexey Moiseenkov, penemu aplikasi Prisma.

Kalangan netizen, khususnya yang aktif di dunia maya menggunakan ponsel cerdas, belakangan ini dihebohkan oleh adanya aplikasi Prisma, aplikasi yang memberi efek terhadap foto hingga memberikan hasil menyerupai sebuah lukisan dengan gaya mirip goresan pelukis ternama.

Sosok di balik kesuksesan aplikasi Prisma adalah Alexey Moiseenkov. Dari namanya, sangat mudah diduga jika Moiseenkov berasal dari Eropa Timur. Ya, Alexey Moiseenkov memang lahir di Rusia, dua puluh lima tahun yang lalu.

Tak banyak yang bisa dikorek tentang masa kecilnya karena Moiseenkov relatif tertutup. Sifat tertutup Moiseenkov ini juga tampak dari sikapnya yang tidak bersedia membeberkan informasi detail mengenai sembilan orang anggota tim pengembang Prisma. Namun, alasan di balik hal ini memang cukup kuat juga, yakni supaya jejak mereka tidak terendus media dan bisa tetap fokus dalam pengembangan Prisma.

Menggunakan Kecerdasan Buatan

Mengapa Moiseenkov begitu ngotot supaya timnya fokus terhadap pengembangan Prisma? Sebabnya antara lain karena Prisma menggunakan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam melakukan pengolahan foto.

Jadi Prisma tidak sekadar menggunakan filter pengolah foto seperti halnya aplikasi yang lain. Namun, foto tersebut digambar ulang menggunakan kecerdasan buatan yang mampu “berpikir” sebagai seorang Vincent Van Gogh atau Pablo Picasso.

Tanpa mengecilkan peran pengembang pengolah foto berbasis filter biasa, pengembangan kecerdasan buatan sebagai pengolah foto tentunya memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi.

Moiseenkov memang sangat berminat terhadap pengembangan kecerdasan buatan. Apalagi setelah ia mempelajari sistem kecerdasan buatan bersifat open source bernama DeepArt.

Algoritma DeepArt dikembangkan oleh seorang mahasiswa pascasarjana (S3) asal Jerman yang memungkinkan kecerdasan buatan tersebut untuk menggambar ulang suatu foto berdasarkan gaya dan goresan kuas pelukis terkenal. Hasil olahan DeepArt dipamerkan di situs www.deepart.io.

Terinspirasi oleh DeepArt, sebuah gagasan muncul dalam benak Moiseenkov bahwa algoritma DeepArt bisa dibawa ke ranah aplikasi mobile. Moiseenkov mulai membentuk tim untuk mengembangkan sebuah aplikasi mobile yang akhirnya lahir sebagai Prisma tersebut mulai awal tahun 2016. Saat itu, dia masih bekerja di Mail.Ru, perusahaan penyedia layanan mail client terbesar di Rusia.

Namun, Moiseenkov tidak gegabah dan terburu-buru. Terbukti dia tidak segera mengambil keputusan untuk berhenti dari Mail.Ru. Salah satu hal yang masih menahannya adalah lambannya algoritma DeepArt dalam memproses sebuah foto.

Moiseenkov menyadari bahwa aplikasi yang dikembangkannya akan berhadapan secara langsung dengan Instagram. Meski Prisma memiliki algoritma dan hasil olahan foto yang berbeda dengan Instagram, pengguna tidak akan peduli akan hal tersebut. Yang menjadi perhatian pengguna salah satunya adalah soal kecepatan. Jika Prisma tidak mampu mengimbangi Instagram dalam hal kecepatan, dapat dipastikan Prisma bakal layu sebelum berkembang.

Dengan kerja keras selama kurang lebih empat bulan, tim Moiseenkov akhirnya berhasil meningkatkan kemampuan berpikir algoritma DeepArt hingga seribu kali lebih cepat. Bulan Juni 2016 akhirnya dianggap Moiseenkov sebagai waktu yang tepat untuk mengundurkan diri dari Mail.Ru dan mendirikan sebuah startup digital bernama Prisma Labs, Inc. Pada bulan Juni 2016 itu juga, tepatnya tanggal 11, aplikasi Prisma meluncur di App Store.

Aplikasi Prisma.

Aplikasi Prisma.

Meski yakin bakal sukses, Moiseenkov sedikit tak percaya juga bahwa hanya dalam waktu satu bulan, Prisma telah menjadi 1 dari 10 aplikasi yang paling banyak diunduh di App Store untuk semua kategori aplikasi. Kemudian pada tanggal 24 Juli 2016, versi Android Prisma menyusul beredar di Google Play Store.

Hebatnya, Moiseenkov tidak menggunakan berbagai jurus marketing yang dahsyat dalam mempopulerkan Prisma, melainkan hanya mengandalkan cerita dari mulut ke mulut para penggunanya. Usaha awal yang dilakukannya “hanya” membombardir Instagram dengan sekitar 30 ribu yang telah diolah dengan Prisma, pada akun dengan nama sama, Prisma.

Dalam sekejap saja, Prisma menjadi aplikasi yang terpopuler di Rusia, India, dan Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri, meski bukan yang paling populer, Prisma cukup menimbulkan kehebohan.

Moiseenkov menegaskan bahwa adalah sebuah hal yang normal bila orang ingin foto mereka nampak menarik dan lain daripada yang lain. Itulah salah satu hal yang memudahkan proses viralnya Prisma.

“Setiap orang di dunia ini ingin membuat sesuatu yang sedikit lebih baik daripada sekadar rata-rata, dan efek foto yang ada di Prisma membantu mereka untuk mencapai hal yang lebih baik daripada rata-rata tersebut. Ini sangat sejalan dengan visi saya”, ungkap Moiseenkov.

Meski telah mencapai popularitas yang luar biasa, Moiseenkov mengaku belum berpikir soal mendapatkan pemasukan dari Prisma. Saat ini dia masih fokus dalam pengembangan stabilitas dan penambahan fitur.

Kutu Loncat

Sebagai seorang sarjana teknik lulusan Polytechnic University Rusia, Moiseenkov dikenal memiliki ketertarikan yang kuat terhadap dunia aplikasi mobile.

Sebelum lulus, Moiseenkov telah mendirikan sebuah startup digital. Startup yang didirikan pada bulan Desember 2010 tersebut bernama Just Juice dan mengembangkan aplikasi berbasis lokasi yang memberikan rating terhadap lokasi tertentu.

Di startup Just Juice tersebut, Moiseenkov berperan sebagai pengembang aplikasi Android merangkap CEO. Selama kurang lebih tiga tahun, Moiseenkov terlibat dalam pengembangan Just Juice.

Menjelang berakhirnya “karier” Moiseenkov di Just Juice, dia mendapatkan posisi sebagai CTO di Le-Dantu. Le-Dantu adalah sebuah layanan yang membantu perusahaan melakukan analisis terhadap proses bisnis dan mendefinisikan tujuan kunci perusahaan tersebut.

Hanya sepuluh bulan bertahan di Le-Dantu, Moiseenkov kemudian berpindah ke e-Legion sebagai seorang manajer proyek. Perusahaan yang berbasis di Saint Petersburg ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan aplikasi mobile.

Alexey Moiseenkov ternyata tergolong seorang “kutu loncat”. Dia jarang bertahan lama di sebuah perusahaan. Karirnya di e-Legion ini menjadi yang terpendek dalam curriculum vitae-nya karena hanya berlangsung selama lima bulan saja.

Selepas dari e-Legion, Moiseenkov bekerja di Yandex, mesin pencari yang melayani wilayah terbatas untuk Rusia dan sekitarnya, seperti Ukraina, Kazakhstan, Belarusia, dan Turki.

Di Yandex, Moiseenkov bertanggung jawab dalam pengembangan aplikasi berbasis geoinformasi. Ada tiga proyek utama yang berada di bawah pengawasannya, yaitu Mobile Yandex Maps untuk Android, Mobile Yandex Maps untuk iOS, dan Mobile Yandex Transport untuk iOS dan Android.

Selepas dari Yandex, Moiseenkov berlabuh di Mail.Ru sampai akhirnya membuat aplikasi Prisma.