Berita Iklan Baris Mulai Usang, OLX Kenalkan Tampilan Ala Media Sosial

Iklan Baris Mulai Usang, OLX Kenalkan Tampilan Ala Media Sosial

Daniel Tumiwa, Chief Executive Officer OLX Indonesia dan Edward Kilian, Chief Marketing Officer OLX Indonesia, pada acara konferensi pers peresmian The All New OLX.

Istilah iklan baris online mulai populer sejak pertama kali OLX berdiri di Indonesia. Iklan baris online menyasar individu yang ingin menjual barang dari beragam kategori seperti mobil, properti, motor, gadget dan elektronik, fashion—baik barang yang baru maupun yang sudah tidak lagi digunakan—hingga menawarkan jasa.

Daniel Tumiwa (Chief Executive Officer, OLX Indonesia) mengatakan OLX telah menjadi platform iklan baris yang terbesar di Indonesia. Penjual telah mendapatkan manfaat berupa kecepatan menjual barang. Pembeli pun merasakan manfaatnya dengan mendapatkan tawaran harga yang sangat menarik

“Kita telah memasuki masa di mana kondisi pasar e-commerce sudah mulai terbaca dengan jelas,” kata Daniel di Jakarta, Selasa (7/2).

Belakangan, masyarakat terutama generasi millennial mulai tidak memahami dan mengenal model iklan baris. Hal itu disebabkan banyaknya jenis e-commerce yang bermunculan dan masyarakat hanya mengetahui istilah e-commerce atau online shop (toko online).

Padahal, fungsi platform, jenis barang, dan tipe penjual, di setiap jenis e-commerce berbeda satu sama lain.

Daniel mengatakan masyarakat pengguna mobile pun menyukai segala sesuatu bersifat visual, dinamis, simpel, dan praktis. Hal ini membuat bentuk iklan baris online saat ini tidak menarik bagi mereka.

“Bisnis OLX terus bertumbuh, namun mulai tidak relevan dengan kondisi pasar yaitu masyarakat mobile, terutama kalangan perempuan dan millennial. Mereka adalah orang-orang yang tertarik pada visual, mereka adalah treasure hunter yang membeli barang secara impulsif,” ujar Daniel.

“Hal ini membuat bentuk iklan baris online tidak menarik lagi. Di satu sisi, bisnis OLX terus tumbuh, sehingga perlu adanya tampilan aplikasi yang relevan bagi kalangan anak muda (millennial) dan perempuan,” katanya.

All-New OLX

Karena itu, OLX memperkenalkan tampilan baru All-New OLX dengan menampilkan rentetan fitur baru untuk mengikuti selera anak muda yang gemar berinteraksi di media sosial.

Daniel mengatakan tampilan All-New OLX ini akan memberikan kemudahan bagi pengguna yang ingin menjual barangnya yang sudah tidak terpakai lagi.

Tampilan All-New OLX mengusung empat konsep yaitu hyperlocal, hypersimple, C2C, dan trust. “OLX ingin memberikan manfaat yang maksimal kepada para pengguna lama ataupun baru. Empat konsep ini jadi pilar kami dalam perubahan penampilan OLX,” ungkap Daniel.

Tampilan All-New OLX baru terealisasi untuk smartphone berbasis Android dan belum ada perubahan pada tampilan di mobile web dan desktop. Sebagian besar pengguna mobile OLX membuka lamannya melalui smartphone berbasis Android.

Tampilan aplikasi All-New OLX Indonesia.

Halaman muka itu juga menampilkan konsep hyperlocal yang menampilkan barang-barang terdekat yang dijual di sekitar pengguna.

“Dengan tampilan muka semacam ini, para pengguna dapat bertransaksi dengan lebih praktis karena tidak perlu pergi terlalu jauh untuk melakukan cash on delivery (CoD),” katanya.

OLX juga mempermudah langkah untuk menjual barang dengan tidak mewajibkan penjual mengisi deskripsi sehingga proses menjual barang lebih simpel dan dapat diselesaikan hanya dalam tiga puluh detik.

Untuk keamanan, OLX juga mewajibkan penggunanya melakukan log-in dengan menggunakan akun Facebook atau Google sehingga profil pengguna dapat diketahui oleh calon pembeli atau penjual.

Dengan adanya tiga konsep tersebut, OLX optimistis makin banyak orang dapat memanfaatkan OLX untuk jual-beli, terutama untuk pengguna individu (customer to customer).

Daniel mengatakan OLX telah membantu 1,4 juta transaksi dengan nilai transaksi mencapai Rp31 triliun pada 2016. “Dibandingkan beberapa tahun lalu, angka tersebut meningkat drastis dan membuktikan bisnis ini berkembang,” ujarnya.

Menurut riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), ada 63,5 persen dari seluruh pengguna internet atau 84,2 juta orang telah memanfaatkan internet untuk melakukan transaksi online.