Profil Daniel G. Pratidya: Jadi Jutawan Berkat Bekerja Freelance

Daniel G. Pratidya: Jadi Jutawan Berkat Bekerja Freelance

Daniel G. Pratidya (Freelancer). [Foto: Dok. Pribadi]

Dari rumahnya di Cikarang, tanpa perlu keluar rumah, bebas macet, cukup dengan modal laptop dan koneksi internet, pria ini mampu mengumpulkan pundi-pundi hingga ribuan dolar dalam satu bulan. Bagaimana kisahnya?

Daniel G. Pratidya lahir di Jakarta, empat puluh tahun silam. Anak keempat dari lima bersaudara ini menghabiskan masa kecilnya hingga SMA di kota yang sama. Sejak kecil, ia mengaku sangat menyukai hal-hal berbau sains.

Beruntung, orangtua juga mendukung minatnya tersebut. Selepas SMA, Daniel pun melanjutkan ke jurusan mekanisasi pertanian di Institut Pertanian Bogor (IPB). Setelah lulus kuliah di tahun 1999, Daniel kemudian mengawali bekerja di sebuah perusahaan pengekspor kayu olahan di Sampit, Kalimantan Tengah. Di sana, ia bekerja sebagai programmer komputer. Lalu setahun kemudian, ia ditugasi menjadi staf di departemen ekspor hingga akhirnya diangkat sebagai shipping manager pada tahun 2002. Pada tahun yang sama Daniel juga sempat ditugaskan di Surabaya dan Gresik.  

Setelah selama empat tahun berada di Surabaya dan Gresik, pada 2006, Daniel memilih mengundurkan diri dan pulang ke Jakarta. Ia pun sempat bekerja di sebuah perusahaan coating di Jababeka, Cikarang sebagai PPIC. Dari sana, karier Daniel menanjak dan direkrut oleh perusahaan jasa filling/packing food & beverage pada 2007 sebagai kepala departemen resources and planning unit. Selang dua tahun kemudian, ia dipromosikan menjadi production manager, lalu setahun kemudian ditunjuk sebagai factory manager di perusahaan yang sama.

Setelah menjabat selama lima tahun, Daniel pun mengundurkan diri pada September 2015. Kali ini pilihannya bukan menjadi karyawan perusahaan lagi, melainkan memilih mandiri terjun di dunia online freelancing.  Di “alam baru” inilah, Daniel mengandalkan Visual Basic Application (VBA) untuk Excel  yang ia geluti hingga saat ini.

Awalnya Ingin Melunasi Hutang

Daniel bercerita, menjadi freelancer di dunia online merupakan ketidaksengajaan. Saat itu, keluarganya sedang membutuhkan biaya yang besar untuk membayar perawatan sang ibu mertua yang sedang sakit. Keadaan inilah yang lantas memaksanya memutar otak.

“Saya lalu mencari cara bagaimana agar bisa mendapatkan uang tambahan. Atas informasi dari seorang teman, saya menemukan di internet ada banyak website marketplace yang menyediakan tempat untuk bertemunya para pencari jasa dengan penyedia jasa freelance,” ujarnya. Daniel pun menyebut situs pertama yang ia coba kala itu adalah Freelancer.com.

Menjadi freelancer pun tidak bisa dibilang mudah. Daniel mengaku baru berhasil mendapatkan proyek dan memperoleh penghasilan tambahan setelah tiga bulan. Proyek pertama yang ia kerjakan saat itu adalah web-scrapping, yaitu meng-ekstrak data dari sebuah website kemudian mengolahnya menjadi laporan dalam bentuk spreadsheet secara semi-otomatis.

“Proyek tersebut saya menangkan dengan tarif 2 USD per jam untuk bekerja tiap hari selama 2 jam dan proyek tersebut dari Desember 2011 masih berlanjut sampai sekarang tapi dengan full-otomatis hanya memerlukan waktu kerja program 5 – 10 menit dan komputer saya bisa mengirimkan langsung hasilnya via e-mail secara otomatis. Dengan tambahan data-data yang diperlukan dan pengolahan secara otomatis, proyek ini lalu dibundel dengan harga 265 USD per bulan,” jelasnya.

Namun, bertolak dari situ, Daniel kemudian mulai memenangkan proyek-proyek lain dan terus mendapatkan uang tambahan. “Dari satu proyek 2 USD per jam, saya terus mendapatkan proyek-proyek berikutnya dari kisaran 30 USD per proyek sampai dengan 1.200 USD per proyek,” ujarnya. Ia pun mengaku pernah mengerjakan proyek senilai 3.500 USD dalam waktu satu bulan.

Daniel bahkan diklaim sebagai freelancer dengan penghasilan 40 ribu USD per tahun. “Tidak sampai setahun, saya akhirnya melunasi hutang-hutang saya yang berpuluh-puluh juta hanya dari bekerja sambilan sebagai freelancer online,” cetusnya.

Jika biasanya ia bekerja pagi-sore di kantor dan lanjut bekerja di rumah sampai larut malam, bahkan sampai menjelang pagi, setelah menjadi  full timer freelancer, ia  pun mengaku punya waktu lebih fleksibel dalam bekerja, termasuk membagi bersama keluarga dan beristirahat.

“… dengan menjadi freelancer saya bisa mengasah keahlian saya lebih jauh, menghadapi berbagai macam variasi proyek dan menjalin relasi networking dengan banyak sekali pelanggan dari seluruh penjuru dunia,” urai ayah empat anak ini.

Akrab dengan Visual Basic

Penulis buku Jadi Freelancer Kaya ini mengaku sudah mengenal komputer sejak kelas enam SD. Saat itu ia sudah akrab dengan pemrograman BASICA (DOS). Hingga lulus SD, Daniel mengaku sudah bisa membuat program sederhana menggunakan bahasa pemrograman BASICA.

Lanjut di bangku SMP, Daniel terus mengasah kecintaannya pada dunia TI dengan belajar di sekolah pemrograman Quick Basic (DOS). Lalu saat kuliah, Daniel secara otodidak juga mempelajari Turbo Basic (DOS) di pabrik tempatnya melakukan praktik kerja lapangan (PKL).

Keakraban Daniel dengan pemrograman terus berlanjut saat menyusun skripsi. “Di awal karier saya bekerja menjadi programmer, saya mempelajari dan mendalamiVisual Basic 4.0 sampai Visual Basic 6.0 (Windows), termasuk juga Visual Basic for Application (VBA),” ujar penggemar Bill Gates dan Ibu Teresa ini.

Daniel pun memiliki alasan tersendiri mengapa memilih VBA dan Excel sebagai bidang pekerjaannya. Ia beranggapan di beberapa negara maju seperti Amerika, Eropa, dan Australia, orang sudah banyak mengetahui kemampuan Excel. Banyaknya pembuatan laporan dan sistem di kantor yang memerlukan kecepatan pelaporan dan keakuratan data secara otomatis lantas mendorongnya agar lebih mendalami VBA untuk Excel yang terus ia tekuni sampai sekarang.

Meski diakui masih jauh kalah populer dari PHP, HTML5, Android/iOS developer dan lain-lain, Daniel mengklaim, jumlah saingan yang sedikitlah yang membuatnya kebanjiran order. Ia pun tak menampik apapun bidang pekerjaan yang digeluti, jika ditekuni akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Menemukan Jalan Keluar

“… dengan menjadi freelancer, saya bisa mengasah keahlian saya lebih jauh, menghadapi berbagai macam variasi proyek, dan menjalin relasi networking dengan banyak sekali pelanggan dari seluruh penjuru dunia,” urai Daniel Pratidya.

Freelancer.com diakui Daniel sebagai tempatnya menemukan jalan untuk keluar dari masalah keuangan. “Di situ saya menjalin relasi dengan banyak sekali pelanggan yang sangat berpotensi,” tegasnya. Beberapa fiturnya pun diakui Daniel cukup memudahkan pencari proyek seperti dirinya.

Sistem milestones payment, misalnya, cukup andal untuk mengamankan pembayaran dari pemberi kerja kepada si freelancer. Sistem ini bekerja dengan cara menahan dana yang dibayarkan oleh pemberi kerja dan baru akan dirilis ketika freelancer telah menyerahkan hasil pekerjaannya dan diverifikasi oleh pemberi kerja.

Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atau terjadi perselisihan, dana milestone bisa dipersengketakan dengan mengajukan bukti-bukti yang menunjang kepada tim arbitrase dari Freelancer.com. Tim arbitrase tersebutlah yang akan memutuskan siapa yang benar dan berhak mendapatkan dana milestone tersebut.  

Fitur Time Tracker juga tersedia untuk proyek-proyek yang tarifnya dihitung berdasarkan jumlah jam kerja si freelancer. Ini akan lebih efektif untuk proyek-proyek yang memerlukan pengembangan yang panjang dan berkelanjutan, baik bagi pemberi kerja maupun si freelancer.  Selain itu, penarikan dana hasil kerja para freelancer bisa dilakukan dengan sangat mudah melalui berbagai metode yang disediakan.

Selain fitur-fitur tersebut, Daniel pun menyebutkan salah satu fitur yang paling ia sukai, yakni sistem pengklasifikasian freelancer yang memiliki badge/lencana Freelancer Pilihan. Ini memungkinkan para freelancer berkesempatan mendapatkan proyek-proyek bernilai besar hingga di atas US$1.000 per proyek.

Menjadi freelancer, tak dimungkiri memiliki suka duka sendiri. Daniel membeberkan, salah satu tantangannya adalah harus bisa disiplin dan self-motivated. Pasalnya jika sampai mengabaikan hal ini, semua pekerjaan akan tertunda dan akhirnya kehilangan proyek karena pemberi kerja terlalu lama menunggu hasil atau sekadar menunggu konfirmasi. “Khususnya programmer, ada kalanya pikiran kita ‘mentok’ dan tidak bisa dipaksakan, tapi karena deadline, maka harus dipaksakan untuk selesai,” sebut Daniel.

Pemilik motto “no success can be reached without learning how to get up from falling” ini pun berbagi resep untuk menjadi freelancer yang sukses. Ketekunan, pikiran positif dan pantang menyerah ditambah kesabaran dan mengendalikan emosi, diklaim menjadi modal utama agar mampu menguasai kompetisi.