Profil Hilman Ramadhan: Imbangi Geliat Startup Digital lewat Sekolah Koding

Hilman Ramadhan: Imbangi Geliat Startup Digital lewat Sekolah Koding

Hilman Ramadhan (Pendiri Sekolah Koding).

Menjadi seorang web developer memang membutuhkan keahlian khusus. Tidak hanya bisa dilakukan oleh yang menyandang sarjana TI, menjadi web developer maupun programmer pada umumnya bisa dilakoni oleh siapapun, asalkan ada niat.

Lantas bagaimana dan di mana tempat belajar coding yang bisa dijangkau oleh awam? Jika mau ditelusuri, beberapa jasa kursus belajar coding dan sejenisnya bisa kita temukan. Nah, salah satu yang paling dikenal adalah Sekolah Koding yang digawangi oleh Hilman Ramadhan.

Hilman menuturkan bahwa awal perkenalan dirinya dengan dunia TI berlangsung tatkala ia diperkenalkan dengan HTML saat duduk di bangku SMP. Perkenalan pun berlanjut saat menginjak bangku SMA dan kuliah. “Mulai benar-benar ngeh dengan TI pada saat ‘studienkolleg’ (sekolah persiapan di Jerman, sebelum masuk kuliah), di sana berkenalan dengan bahasa Pascal dan langsung jatuh cinta,” sebut Hilman. Saat itu, pemrograman yang diajarkan masih sederhana di command prompt, seperti perhitungan atau kalkulator.

Perkenalan dengan dunia programming pun terus berlanjut, Hilman yang menghabiskan masa kecil di Makassar ini pun sempat membuat portal media religi dan aplikasi formasi klub sepakbola dunia. Hanya saja keduanya tidak ia publikasikan. Alasannya, hanya untuk pengalaman pribadi.

Kini, programming yang ia pilih pun lebih serius. Bersama tiga orang temannya, Hilman mengaku telah membuat aplikasi web untuk mengawal pembangunan fisik Pemerintah Indonesia. Tidak hanya itu, saat ini pun Hilman juga mengerjakan media informasi untuk dunia startup, desain, dan developer.

Sekolah Koding

Hilman yang menghabiskan masa SMP di Sukabumi dan masa SMA di Jakarta ini mengaku mulai membuat website komersial pada tahun 2014 silam. “Saya menawarkan ke keluarga yang punya usaha untuk dibuatkan website dan ikut lomba-lomba desain di internet,” tuturnya.

Sambil berkuliah, Hilman menyebut jika teman-temannya kerap memintanya menjadi tutor seputar programming. Awalnya Hilman masih bisa menyediakan waktu, namun lambat laun ia mulai mengalami kesulitan. Hilman pun mencari solusi. “Saya coba carikan referensi berbahasa Indonesia di internet yang ternyata sangat kurang, baik dari kualitas juga kuantitas,” sebutnya. Dari sana Hilman kemudian mencoba merekam video dan meng-upload ke Youtube yang ternyata mendapat banyak respons positif.

Hal inilah yang lantas menjadi cikal bakal Sekolah Koding. Hilman pun mulai menyebarkan informasi Sekolah Koding melalui media sosial pribadi pada Februari 2015. Saat itu, di website baru ada satu halaman diskusi, link ke Youtube dan tutorial berbentuk tulisan.

Hingga Juli 2015, Hilman mulai membuat sistem member, forum, dan membuka akses user untuk menonton langsung. Di tahun 2015 inilah, Hilman yang saat itu bekerja di sebuah perusahaan Berlin bernama First Finance GmbH sebagai Frontend Developer mulai mengembangkan Sekolah Koding.

Hilman menyebut, beberapa fitur menarik ditawarkan Sekolah Koding. Mulai dari “Kelas” yang berbentuk video untuk belajar, “Perjalanan” untuk membantu tahapan belajar, “Forum” untuk saling bertanya dan menjawab sesama member, serta “Perpustakaan” untuk menghadirkan tutorial berbentuk tulisan. Juga ada “Mading” yang bisa dipakai oleh member untuk saling memperlihatkan karya yang sudah dibuat, hingga “Podcast” untuk sharing ilmu atau nasihat nonteknis berbentuk audio.

Hilman mengklaim Sekolah Koding sangat mengutamakan kepedulian terhadap member-nya, bukan hanya skill namun juga hal-hal nonteknis. Sistem yang dianut Sekolah Koding juga tidak satu arah. “Kami sediakan forum kalau mereka ada masalah, menjelaskan tahapannya kalau bingung harus belajar apa, dan tutorialnya dalam bentuk video (mayoritas masih tulisan),” jelas Hilman.

Sistem Berlangganan dan Beasiswa

Sekolah Koding untuk saat ini lebih membidik orang-orang yang mau belajar seputar dunia programming, khususnya website. “Apalagi ada demam ‘startup digital’ sekarang yang perlu diimbangi dengan jumlah dan kualitas programmer yang mantap,” imbuh Hilman.

Ia pun menyebut jika target Sekolah Koding dalam 1 – 2 tahun ke depan bukan hanya ditujukan untuk kepentingan internal Sekolah Koding, namun menambah jumlah member Sekolah Koding yang bisa meluaskan manfaat. Caranya, dengan berkontribusi melalui programming untuk Indonesia dan dunia.

Hilman menyebut, Sekolah Koding saat ini memberlakukan sistem subscribe per bulan, namun ada beberapa video yang hanya bisa diakses pengguna setelah menjadi “member premium”. Untuk sistem berlangganannya, saat ini anggota akan dikenai biaya Rp50.000 per bulan. Lantas bagaimana dengan member yang kurang mampu? “Kita tetap menyediakan beasiswa kalau ada teman-teman yang tidak bisa mencari uang,” sebut Hilman.

Ia menambahkan, Sekolah Koding memiliki tujuan untuk mengedukasi masyarakat Indonesia. “Kalau ada layanan sejenis, biasanya kami dukung, Sekolah Koding tidak bersaing. Jujur tidak ada strategi untuk bersaing, kita fokus biar Sekolah Koding bisa benar-benar bermanfaat untuk orang-orang,” jelas Hilman.

Sistem berlangganan yang diterapkan di Sekolah Koding bukan hadir tanpa alasan. Yang pertama adalah dalam pembuatan tutorial web, Hilman kerap menemui kendala. Misalnya saja saat perekaman video. Biasanya Hilman memilih suasana yang sepi, yaitu malam atau pagi sekali. Tujuannya untuk menghindari suara-suara gaduh.

Tantangan kedua adalah edukasi user. Ia menyebut, banyak pengguna yang menginginkan cara yang instan, menanyakan rahasia, jurus maut, tanpa mau investasi waktu maupun uang. Cara menyiasatinya, Hilman banyak melakukan kampanye via media sosial dan blog. “Kalau ilmu itu mahal, bukan dari segi biaya, tapi harus ada usaha dan waktu yang diinvestasikan,” sebutnya.

Sekolah Koding sendiri baru satu kali mengikuti kompetisi, yaitu Nextdev pada 2015 silam. Namun ia menyebut jika mengikuti kompetisi bukanlah fokusnya. “Saya senang dengan acara yang banyak ilmu, tapi jangan sampai jadi fokus, fokusnya harus mengurus user, cukup satu kali [ikut kompetisi] untuk [mencari] pengalaman dan gali ilmu,” pungkasnya.