Profil IT Executive Membuat Perusahaan Startup Ala Evan Williams

Membuat Perusahaan Startup Ala Evan Williams

Apa rasanya menjadi seorang yang karya-karyanya digunakan oleh miliaran orang setiap hari? Tanyakan itu kepada Evan Williams. Dari dialah lahir Blogger.com (platform yang dijual kepada Google pada 2003), Twitter (yang mengubah cara manusia berkomunikasi), serta Medium.com.

Medium.com sejak 2012 disambut amat baik oleh kalangan penikmat media sosial, blogger, sekaligus ilmuwan, jurnalis, dan penulis, sebagai platform inovatif, unik, memiliki daya pikat yang berbeda berbanding platform komunikasi lainnya yang kita kenal saat ini.

Sebagaimana technopreneur sukses lainnya, Evan memang gila kerja. Karena demikian gilanya, ia rela tidak menamatkan kuliahnya di Universitas Nebraska. “Setelah lulus SMA, saya mendaftar di Universitas Nebraska di Lincoln, tetap saya hanya sanggup bertahan selama satu setengah tahun. Saya merasa kuliah itu membuang waktuku. Saya ingin segera bekerja,” ujarnya sebagaimana dikutip dari surat kabar The New York Times, 7 Maret 2009.

Lahir dan besar di keluarga petani, Evan, yang lahir pada 1972, akhirnya pindah ke Florida dan bekerja di perusahaan periklanan di bagian copywriting. Tidak lama berada di sana, ia pindah ke Texas, tinggal bersama kakaknya. Kemudian pada 1994 ia memutuskan kembali ke Nebraska dan merintis perusahaan bersama sang ayah di bidang internet.

Bangkrut, Kuras Uang Ayah

Yang menggelikan justru, Evan dan ayahnya tidak tahu sama sekali tentang internet. Yang mereka pahami hanyalah, bahwa internet kelak akan menjadi besar dan memiliki daya manfaat global. Produk pertama perusahaan itu adalah cakram optik yang berisikan video tutorial cara menggunakan internet.

Tak lama berselang, Evan pun menggandeng teman-temannya mengembangkan perusahaan, tetapi tidak satu pun di antara mereka yang memahami pemrograman untuk membuat peranti lunak. Namun demikian, tanpa kenal lelah, ia dan teman-temannya terus belajar, sambil “mengintip” cara berbisnis para pengusaha lain di California.

Tanpa diduga, sesuatu yang dianggap kerja keras dan mendulang sukses itu, justru melahirkan malapetaka bagi perusahaan. Evan tidak fokus menuntaskan pekerjaannya, kurang teliti soal laporan keuangan, dan membuat dia berutang besar kepada kantor pajak. Evan kehilangan semua uangnya, termasuk modal awal dari sang ayah. Singkat kata, perusahaan pun gulung tikar.

Namun, Evan bukannya mundur begitu saja. Pada tahun 1997, ia pindah ke California dan bekerja di O’Reilly Media, perusahaan penerbit buku pemrograman komputer. Merasa sudah memiliki modal pengetahuan mumpuni, setahun berselang, Evan pun angkat kaki dari perusahaan itu dan memulai pekerjaannnya sebagai pengembang lepas website.

Blogger Besar Karena Google

Pada tahun 1999, ia bersama sahabatnya Meg Hourihan mendirikan Pyra Labs yang berfokus pada pembuatan peranti lunak manajemen proyek, bersamaan dengan proyek lainnya, yaitu Blogger.

Dalam perjalananya, Pyra Labs tidaklah semulus yang dibayangkan. Proyek Blogger tidak menghasilkan laba sama sekali, sebab pengguna tidak perlu membayar sepeser pun untuk menggunakannya. Evan pun mencoba “meminta” donasi dari para pengguna sebagai ongkos menyewa server. Itu pun tidak berhasil. Para karyawan pun rela tak bergaji selama berbulan-bulan, yang berujung ancaman walk-out, termasuk pendirinya, Hourihan.

Akhirnya Evan sendirian mengerjakan Blogger, yang sebagiana besar format aslinya ditulis oleh programmer Paul Bausch dan Matthew Haughey, sambil menjajaki kemungkinan mendapatkan modal dari Dan Bricklin (Pendiri Trellix, layanan yang mirip seperti Blogger). Pada tahun 2002, Blogger sempat dijual kepada Globo.com di Brazil. Kemudian pada 2003, Blogger dibeli oleh Google, di mana Evan bekerja selama dua tahun di perusahaan raksasa itu.

Selain Blogger, pada 2006, Evan juga mengembangkan layanan podcasting, Odeo, bersama rekannya Noah Glass. Tetapi hal ini tidak bertahan lama, setelah ia mengetahui Apple membuat layanan serupa. Akhirnya,  Evan membeli kembali perusahaan itu dan memutar asetnya ke perusahaan lain yang dikembangkannya, Obvious, lalu mejual Odeo ke Sonic Mountain.

Pada 2003, Evan digelari sebagai satu dari seratus inovator terbaik dunia di bawah usia 35, versi MIT Technology Review TR100. Dan pada 2004, ia tercatat sebagai salah satu Tokoh Tahun Ini versi PC Magazine, bersama dengan Hourihan dan Paul Bausch, karena buah karya mereka mengembangkan Blogger.

Miliaran Cuitan Per Hari

Di saat yang sama, cikal bakal Twitter dikembangkan Evan bersama Noah dan Jack Dorsey. Kemudian pada 2007 Evan memasukkan Twitter sebagai badan hukum usaha tersendiri dan sukses hingga saat ini. Berdasarkan klaim Twitter sendiri, hingga bulan Juni 2016, terhitung ada 313 juta pengguna aktif Twitter dengan pendapatan bersih perusahaan hingga US$521 juta (pada 2015).

Pengerjaan Twitter dimulai pada 21 Maret 2006, ketika Dorsey memublikasikan pesan Twitter pertamanya pada pukul 9:50 PML, berbunyi: “just setting up my twttr”. Berikutnya, sebelum dipamerkan kepada publik, Twitter pun digunakan sebagai layanan internal bagi karyawan Odeo, dan versi lengkapnya diperkenalkan kepada publik pada tanggal 15 Juli 2006.

Titik puncak popularitas Twitter terjadi saat penyelenggaraan konferensi South by Southwest Interactive (SXSWi) pada  2007. Selama acara tersebut, penggunaan Twitter meningkat dari 20 ribu kicauan menjadi 60 ribu kicauan per hari. Strategi cerdiknya adalah dengan menempatkan layar plasma enam puluh inci di aula konferensi, yang secara eksklusif menayangkan pesan Twitter.

Pesan Twitter pertama yang dikirimkan dari luar Bumi, berasal dari Stasiun Luar Angkasa Internasional oleh astronot NASA T. J. Creamer pada 22 Januari 2010. Pada akhir November 2010, rata-rata selusin kicauan per hari di-posting dari akun @NASA_Astronauts. NASA juga telah menggelar lebih dari 25 tweetups, yaitu ajang yang menawarkan akses VIP ke fasilitas NASA bagi para peserta di jejaring sosial.

Pada Oktober 2008, Evan menjabat CEO Twitter, menggantikan Jack Dorsey yang menjadi ketua dewan. Pada Februari 2009, Compete.com menempatkan Twitter sebagai jaringan sosial ketiga yang paling banyak digunakan, yakni 6 sampai 55 juta pengunjung setiap bulan. Pada 4 Oktober 2010, Evan mundur dari CEO dan menyerahkan jabatannya kepada Dick Costolo.

Medium.com, Sederhana Tapi Efektif

Kini “mainan” baru Ecan adalah Medium (medium.com). Medium sesungguhnya merupakan platform blogging biasa, layaknya Anda menulis di WordPress.com atau Blogspot.com. Di sana ada fitur pemeringkatan artikel-artikel terpopuler, lengkap dengan pengategorian dan tag.

Hanya saja, Evan dan kawan-kawannya menempatkan Medium sebagai blogging platform yang amat sederhana dan memudahkan. Pengguna baru cukup mendaftar dengan akun Twitter, Google, dan Facebook, dan langsung bisa menulis dan memublikasikan pemikirannya.

Tidak hanya itu, tampilan halaman depan pengguna akan berbeda dengan pengguna lainnya, bergantung kepada jumlah dan pengguna lainnya yang di-follow atau kategori-kategori artikel lainnya yang ingin dibaca. Kian banyak pengguna yang Anda ikuti, makin bervariasi pula artikel-artikel yang ditampilkan.

Yang menarik adalah, setiap pengguna dapat memberikan sorotan khusus di setiap bagian artikel dan meninggalkan catatan khusus di bagian pinggir artikel. Pengguna juga dapat berkolaborasi secara langsung dengan pengguna lainnya dalam menulis, sebelum tulisan diterbitkan.

Setiap artikel yang telah terbit, secara otomatis memilik label seperti, jumlah view, durasi waktu membaca, dan rasio tingkat keterbacaan artikel dibandingkan dengan jumlah view yang ada.

Selain itu dapat diketahui berapa banyak orang yang merekomendasikan artikel kepada orang lain, selain menandainya sebagai bookmark. Dengan demikian Medium menawarkan secara efektif, tentang strategi yang tepat agar artikel dapat lebih menarik bagi para pembaca.

Evan sendiri bermimpi Medium akan menjadi platform tempat setiap orang bercerita. Bahkan ia berani mengatakan, Medium akan menggantikan media sebagai tempat mencari bacaan menarik. Apakah Medium akan sukses seperti Blogger dan Twitter? Kita tunggu saja.