Profil IT Executive Tan Wijaya: Memimpin CDT Manfaatkan Momentum Transformasi

Tan Wijaya: Memimpin CDT Manfaatkan Momentum Transformasi

Tan Wijaya (Direktur, Central Data Technology). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Cloud computing kian menemukan momentumnya. Lembaga riset Gartner memperkirakan, layanan public cloud global akan menyentuh nilai US$208,6 miliar di tahun 2016 ini, atau naik sekitar 17,2% dibandingkan tahun lalu. Tren serupa juga diungkap IDC, yang menyebut pembelian infrastruktur TI untuk teknologi cloud mencapai US$37,4 miliar atau naik sebesar 16,2%.

Fenomena itu menimbulkan konsekuensi tersendiri bagi Central Data Technology (CDT). Sebagai distributor solusi TI, CDT harus menerima kenyataan bahwa klien mereka kini memiliki opsi untuk mengadopsi cloud dan “menghilangkan” peran distributor.

Namun Tan Wijaya sebagai Director CDT, memandang perubahan itu sebagai tantangan yang menarik. “Kami tidak bisa lagi hanya menjual produk. Kami harus menyediakan added-value di atasnya,” ungkap pria yang sejak Januari 2016 dipercaya memimpin CDT.

Mengubah Model Bisnis

Kiprah CDT dimulai sejak perusahaan itu berdiri di tahun 2011. Namun “benih” CDT bisa dibilang berawal sejak tahun 2004. Kala itu, CTI atau Computrade Technology Indonesia mendapat kesempatan untuk mendistribusikan solusi terkait Oracle. Seiring perjalanan waktu, produk yang dipegang CTI kian banyak. Hal ini mendorong CTI membuat beberapa anak perusahaan dengan spesialisasi produk tertentu, salah satunya adalah CDT dengan spesialisasi solusi Oracle.

Akan tetapi, CDT kini tidak cuma menangani solusi Oracle. Mereka kini menawarkan solusi dari sembilan penyedia teknologi seperti Fujitsu, PureStorage, MapR, Rittal, Commvault, Hitachi Data System, F5, dan DBvisit. “Semua solusi ini saling melengkapi, sehingga kami merancangnya menjadi sebuah sinergi,” ungkap Tan saat menyinggung kesamaan dari seluruh solusi yang ditawarkan CDT.

Contohnya, Oracle tidak memiliki solusi sekuriti untuk application directory, namun solusi seperti itu bisa disediakan F5. Atau ketika perusahaan ingin menganalisis big data untuk data ERP-nya, mereka bisa memanfaatkan software MapR.

Seiring membesarnya fenomena cloud, Tan mengakui adanya pergeseran konsumsi solusi TI dari klien mereka. “Dari sisi hardware, ada yang meminta appliance, namun ada juga yang meminta on-cloud,” ungkap Tan. Di sisi software pun terjadi fenomena yang sama. Jika biasanya berbasis lisensi, kini banyak solusi yang ditawarkan CDT berbasis langganan atau subscription. “Kita harus bisa melayani dua business model tersebut,” tambah Tan.

Keluwesan melayani dua dunia ini menjadi krusial mengingat tren di masa depan mengarah ke perpaduan antara pendekatan on-premise dan cloud. Hal ini tidak lepas dari masih adanya resistensi dari perusahaan Indonesia untuk beralih ke cloud. “Berdasarkan survei kami, ada tiga faktor yang menjadi alasan resistensi tersebut,” tambah Tan. Faktor-faktor itu adalah aturan pemerintah, sekuriti, dan inter-connectivity. “Jadi semuanya mengarah ke hybrid cloud,” tambah Tan.

Karena itu, Tan melihat CDT harus bisa bergerak di dua dunia tersebut. Di dunia on-premise, mereka akan meneruskan hal yang selama ini dilakukan. Sementara di dunia cloud, Tan melihat kesempatan di bidang layanan tambahan alias add-on dari layanan cloud. “Contohnya backup service, monitoring, security, sampai migration service,” ungkap Tan.

Tren di Masa Depan

“Solusi kami harus bisa memiliki impact terhadap bisnis, sehingga dibutuhkan orang-orang yang memiliki industry knowledge yang mumpuni,” ujar Tan Wijaya.

Perubahan di sisi model bisnis tentu saja menimbulkan konsekuensi di internal CDT. Mereka harus mengubah skillset yang mereka miliki agar tetap relevan dengan perubahan yang sedang terjadi. Di sinilah Tan melihat tantangan terbesarnya memimpin CDT yang memiliki sekitar lima puluh karyawan.

“Solusi kami harus bisa memiliki impact terhadap bisnis, sehingga dibutuhkan orang-orang yang memiliki industry knowledge yang mumpuni,” tambah Tan.

Karena itulah ketika ditanya targetnya dalam 1 – 2 tahun mendatang, Tan menyebut pengembangan SDM adalah salah satu misi utamanya. “Bagaimana membangun skill karena tulang punggung TI adalah people,” tambah Tan.

Mendorong transformasi ini memang tidak mudah. Namun Tan terbilang terbiasa menghadapi situasi menantang. Saat masih kuliah, misalnya, ia menempuh dua kuliah sekaligus di Teknik Fisika UI dan Computer Science Bina Nusantara. Keduanya berhasil dilalui dengan baik, bahkan ia lulus dengan predikat cum laude di bidang studi itu.

Setelah lulus kuliah, Tan masuk dunia TI dengan bekerja di salah satu distributor tape backup. Setelah itu, ia sempat ke Imation sebelum bergabung dengan IBM selama sembilan tahun. Sempat mencicipi berbagai posisi, mulai dari Teritory Manager sampai Executive Assistant untuk GM IBM ASEAN, di awal tahun ini Tan memutuskan untuk bergabung dengan CDT.

Dengan pengalaman yang cukup panjang tersebut, Tan memiliki pandangan tersendiri mengenai tren yang harus diantisipasi CIO. “Dalam 3 – 4 tahun ini, kita akrab dengan megatrend yang disebut digital transformation, yaitu proses transformasi yang membuat company lebih IT-oriented,” tambah Tan. Transformasi itu memunculkan konsekuensi munculnya tren baru di sisi teknologi.

Tren itu meliputi mobility ketika aktivitas perusahaan bergeser ke perangkat mobile, utamanya smartphone. Tren lain adalah social engagement ketika hubungan antarperusahaan dengan karyawan maupun perusahaan dengan klien menjadi lebih sosial. Tuntutan akan infrastruktur TI yang luwes menyebabkan munculnya tren cloud. Tren terakhir adalah sekuriti yang dibutuhkan perusahaan untuk melindungi beragam teknologi baru tersebut.

Tan juga melihat peran CIO dan divisi TI juga dituntut untuk bisa bertransformasi. “Saat ini budget untuk divisi TI berkurang, namun IT spending terus naik,” ungkap ayah dua anak ini. Hal ini menunjukkan belanja teknologi kini tidak lagi didominasi divisi TI, namun seluruh line of business. Jika tidak bisa bertransformasi, divisi TI nantinya cuma menjadi unit pendukung yang tidak berpengaruh signifikan terhadap bisnis.

Karena itulah, Tan menyarankan divisi TI untuk terus menaikkan levelnya. Jika semula hanya memastikan infrastruktur TI berjalan tanpa masalah, divisi TI harus naik satu tingkat menjadi kolaborator antardivisi. “Misalnya saat implementasi ERP, yang merupakan kolaborasi antartim procurement, distribusi, dan lainnya,” ungkap Tan mencontohkan peran TI sebagai kolaborator.

Jika sudah, TI bisa naik satu level lagi menjadi business intellegence yang bisa meningkatkan keuntungan atau menurunkan biaya. Level lebih atas adalah ketika TI bisa menjadi revenue generator bagi perusahaan. “Untuk mencapai hal ini, orang IT tidak cuma tahu teknis, tapi tahu bisnisnya juga,” tambah Tan.

Pendek kata, transformasi adalah kata kunci di era yang penuh dinamika seperti sekarang. Tan sendiri memiliki tiga prinsip kerja yang ia harap bisa menyukseskan transformasi ini di CDT. Tiga prinsip tersebut adalah commitment, dicipline, dan teamwork. “Kebetulan, singkatan prinsip itu adalah CDT,” ungkap Tan sambil tertawa lebar.