Berita Scale-Up Asia 2017 Jakarta Ingin Cetak Wirausahawan Lokal dengan Dampak Besar

Scale-Up Asia 2017 Jakarta Ingin Cetak Wirausahawan Lokal dengan Dampak Besar

Konferensi Scale-Up Asia 2017 menghadirkan 150 mentor yang telah sukses di bidangnya dan lebih dari 500 entrepreneur dari Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya.

Sektor ekonomi kreatif telah menjadi salah satu dari 10 tulang punggung pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Pada tahun 2013, sektor ini berkontribusi 7,05% pada PDB (Produk Domestik Bruto) nasional dan diprediksi akan meningkat hingga 12% pada tahun 2019.

Agar mampu mewujudkan prediksi itu, para pelaku ekonomi kreatif Indonesia, meliputi para entrepreneur atau wirausahawan dan pebisnis lokal, harus mendapat dukungan dan bantuan untuk menghadapi beragam tantangan dalam mengakselerasi bisnisnya.

“Beberapa tantangan tersebut di antaranya sulitnya mengakses permodalan, rendahnya kepercayaan investor, keterbatasan manajemen yang berkualitas, minimnya role model, serta kurangnya akses terhadap network,” tukas Triawan Munaf (Kepala Badan Ekonomi Kreatif/Bekraf).

Oleh karena itu, Triawan mengapresiasi acara Scale-Up Asia 2017 yang diselenggarakan oleh Endeavor Indonesia, organisasi nirlaba yang fokus pada pengembangan high impact entrepreneur, di Jakarta pada hari Rabu (15/3).

Scale-Up Asia 2017 menghadirkan 150 mentor yang telah sukses di bidangnya dan lebih dari 500 entrepreneur dari Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya. Melalui konferensi ini, para entrepreneur dan pembicara membahas topik seputar bisnis dan kewirausahaan, di antaranya “Membangun Budaya Bisnis dan Tim yang Kuat”.

Kemudian, dalam sesi one-on-one speed mentoring, para wirausahawan memiliki kesempatan untuk berdiskusi secara tatap muka dengan mentor mengenai tantangan dalam meningkatkan skala bisnisnya. Para peserta juga memiliki kesempatan untuk membangun jaringan bisnis dengan mentor, investor, dan sesama wirausahawan dalam sesi cocktail networking.

Harus Memberi Dampak bagi Masyarakat

Harun Hajadi (Board Chairman, Endeavor Indonesia) mengutarakan, “Dalam bidang kewirausahaan, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Entrepreneur harus mampu memberikan dampak terhadap masyarakat, menyokong ekosistem kewirausahaan, dan menjadi katalisator bagi ekonomi.”

Sebagai gambaran, 19 Endeavor Entrepreneur dari 17 perusahaan mampu menciptakan sebanyak 6.340 lapangan pekerjaan baru dan kontribusi terhadap ekonomi sebesar Rp2,2 triliun di tahun 2015.  Saat ini, Endeavor Indonesia sudah memiliki 35 entrepreneur dari 28 perusahaan di dalam jaringannya.

“Kami percaya bahwa high impact entrepreneur dapat menciptakan siklus kewirausahaan kondusif, yang secara jangka panjang mampu berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan. Scale-Up Indonesia hadir sebagai wadah untuk membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih kuat dan mendukung lebih banyak lagi high impact entrepreneur,” papar Harun.

Suasana mentoring dan networking bisnis dalam Scale-Up Asia 2017.

Lebih dari 50 pemimpin bisnis, entrepreneur, dan praktisi bergabung sebagai mentor dalam jaringan Endeavor Indonesia, seperti Husodo Angkosubroto (Pimpinan PT Gunung Sewu Kencana), Suzy Hutomo (Pimpinan The Body Shop Indonesia), dan Martin Gil (Presiden Direktur, Coca Cola Indonesia).

Sementara itu, beberapa entrepreneur yang telah menjadi Endeavor Entrepreneur adalah Achmad Zaky (Pendiri dan CEO, Bukalapak), Niki Luhur (Kartuku), Aldi Haryopratomo (RUMA – Rekan Usaha Mikro Anda), Arief Widhiyasa (CEO Agate Studio), Anton Wirjono (CEO, The Goods Dept), Gibran Huzaifah (CEO, eFishery), Odi Anindito (Managing Director, Coffee Toffee), dan Hanifa Ambadar (CEO dan pendiri, Female Daily Network).

4 Juta Wirausahawan dalam 10 Tahun

Pertumbuhan wirausahawan di berbagai sektor terus tumbuh dangan sangat pesat. Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016 mencatat adanya kenaikan 4 juta wirausahawan dalam kurun waktu 10 tahun belakangan.

Namun, kuantitas wirausahawan saja tentunya tidak cukup untuk membantu menyokong pertumbuhan ekonomi tanah air. Banyak wirausahawan yang membuat bisnis, namun akhirnya tidak mampu menghadapi tantangan persaingan yang tinggi dan kemudian mati suri.

“Di tahun 2016 lalu, Bekraf menggagas program BEKUP (Bekraf for Pre-Startup) yang bertujuan untuk meningkatkan jumlah startup berkualitas di Indonesia. Program tersebut membekali calon pendiri startup dengan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan sehingga dapat meminimalkan kegagalan,” ujar Triawan.

“Kami melihat program Scale-Up Asia ini sebagai bentuk kelanjutan dari program BEKUP, di mana startup tidak hanya dibekali agar dapat mendirikan dan mempertahankan bisnis yang berkualitas, tetapi juga difasilitasi agar dapat mengembangkan bisnisnya ke tingkat yang lebih lanjut sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih besar dan menjadi inspirasi yang berkontribusi mencipatakan iklim kewirausahaan yang sehat,” pungkas Triawan.

Leave a Reply

Komentari artikel ini

Notifikasi tentang
avatar
wpDiscuz