CTI Summit 2017 Penuh Tantangan, Machine Learning Tetap Masuk Agenda Utama CIO di Tahun 2017

Penuh Tantangan, Machine Learning Tetap Masuk Agenda Utama CIO di Tahun 2017

Jonathan Krause (Vice President Southeast Asia, Gartner Advisory) berbicara soal tren machine learning dalam konferensi CTI IT Infrastructure Summit 2017 di Ballroom Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (8/3).

Dalam beberapa tahun terakhir ini, sejumlah perusahaan di berbagai industri ramai-ramai mengadopsi teknologi machine learning. Padahal, sebetulnya machine learning bukanlah istilah atau teknologi yang benar-benar baru.

Sejak tahun 1950, tokoh-tokoh seperti Alan Turing, Arthur Samuel, dan Gerland De Jong telah meracik dan mendefinisikan pemahaman tentang machine learning. Namun, pada saat itu, dengan keterbatasan sumber daya komputasi dan infrastruktur, teknologi ini dianggap masih abstrak dan mengawang-awang sehingga belum banyak orang yang menggelutinya.

Hal yang jauh berbeda terjadi sekarang. Pertumbuhan data makin cepat, volumenya membengkak, dan jenis data pun kian kompleks—istilahnya kita kenal dengan big data. Di satu sisi, big data ini dipandang sebagai harta karun yang sangat berharga di era bisnis digital. Di sisi lain, nyaris tidak mungkin bagi manusia untuk menganalisis dan memahami semua informasi yang terkandung di dalam big data.

Oleh karena itulah, manusia membutuhkan bantuan dari sistem atau mesin pintar yang mampu menghimpun, mempelajari, dan mengekstrak kumpulan data menjadi wawasan berharga.

“Pada 10 tahun yang lalu, kita sulit untuk mencari 10 buah saja aplikasi bisnis yang berbasis machine learning. Sebaliknya, dalam 10 tahun ke depan, kita akan sulit menemukan 10 aplikasi bisnis yang tidak berbasis machine learning,” ujar Jonathan Krause (Vice President Southeast Asia, Gartner Advisory) dalam konferensi CTI IT Infrastructure Summit 2017 di Ballroom Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (8/3).

Masuk Agenda Utama CIO

Berdasarkan riset Gartner, machine learning saat ini berada dalam daftar topik terpopuler dalam bidang data science dan smart machine, di samping teknologi speech recognition, chatbot, dan artificial intelligence (AI). “Pada tahun 2020, kami memprediksi orang akan lebih sering berbicara dengan bot daripada pasangan sendiri,” imbuh Krause.

Bahkan, penerapan machine learning sudah masuk ke dalam salah satu agenda utama para CIO pada tahun 2017. Sebanyak 27% CIO di Asia Pasifik mengaku berniat memakai teknologi itu pada tahun ini. Yang menarik, teknologi prioritas para CIO lainnya seperti advanced analytics, digital security, Internet of Things, virtual customer assistant, dan autonomous vehicle pun tidak bisa dilepaskan dari peran machine learning.

Apa yang mendorong peningkatan adopsi machine learning oleh para pemimpin TI? Krause menyebut tiga faktor utama, yakni the rise of GPU (Graphic Processing Unit) yang lebih bertenaga daripada CPU (Central Processing Unit), deep neural network yang makin luas, dan tentu saja pertumbuhan big data.

Namun, CIO juga harus memperhatikan tantangan dalam penerapan machine learning, antara lain kebutuhan data dan tenaga komputasi dalam jumlah besar, makin rumitnya strategi integrasi data, pemahaman SDM yang belum merata, dan yang tidak kalah penting, perlunya membentuk tim data science untuk membantu mendidik mesin dan bekerjasama dengannya.

“Karena bagaimanapun, machine learning tidak bisa disamakan dengan kemampuan otak manusia. Bahkan saat ini tidak sampai 1%-nya,” Krause mengingatkan.

Terakhir, Krause memberi rekomendasi bagi perusahaan yang ingin memulai implementasi machine learning, yaitu terus belajar dan bereksperimen, mulai dari solusi-solusi yang sederhana, bentuk tim multidisiplin agar bisa memberi pembelajaran dari sudut pandang TI, data science, operasional, dan bisnis, gunakan infrastruktur cloud yang lebih terjangkau, serta bekerjasama dengan akademisi dan penyedia solusi.

Machine learning adalah topik utama dalam CTI IT Infrastructure Summit 2017, konferensi dan pameran teknologi tahunan dari CTI Group yang sudah digelar keempat kalinya.

Selain menghadirkan pembicara utama dari Gartner dan IBM, acara ini juga diikuti oleh Herry Abdul Aziz (Penasihat Ahli Menkominfo RI), Leonardo Koesmanto (Head of Digital Banking, Bank DBS Indonesia), Ridzki Kramadibrata (Managing Director, Grab Indonesia), dan Ying Shao Wei (COO DataSpark, part of Singtel Group).