Fitur Enterprise Bizzy Ingin Hadirkan Transparansi Pengadaan Barang Lewat Layanan Online

Bizzy Ingin Hadirkan Transparansi Pengadaan Barang Lewat Layanan Online

Jika dibandingkan dengan sistem pengadaan barang secara tradisional, layanan pengadaan online seperti Bizzy memang menawarkan beberapa kelebihan.

Saat masih bekerja di Microsoft dan Intel, Hermawan Sutanto praktis tidak perlu menjelaskan perusahaan tempat ia bekerja. Namun ketika kini ia menjadi Chief Operation Officer sebuah perusahaan bernama Bizzy, menerangkan apa itu Bizzy kerap mendominasi pembicaraan. Dan itu bukan hal yang mudah. “Bizzy masih sering dianggap e-commerce biasa dengan audience B2B,” ungkap pria yang sudah belasan tahun berkiprah di dunia teknologi ini.

Padahal, Bizzy lebih dari itu. Bizzy menawarkan sistem pengadaan barang atau procurement modern yang bisa mendorong perusahaan lebih efisien, cepat, dan transparan.

Kecepatan dan Konsolidasi

Sekilas, tampilan situs Bizzy (bizzy.co.id) memang mirip e-commerce biasa yang menjual aneka kebutuhan kantor. Di sana Anda akan menemukan 60 ribu jenis barang yang terbagi dalam 14 kategori, seperti office supplies, pantry, industry tools, sampai services (seperti pembuatan spanduk).

Namun jika ditilik lebih dalam, sistem Bizzy telah disesuaikan dengan alur pembelian serta sistem dokumentasi yang biasanya dilakukan perusahaan. “Contohnya approval workflow, budgeting, quotation, hingga term of payment,” jelas Hermawan.

Kerumitan sistem inilah yang bisa menjelaskan mengapa layanan e-commerce B2B seperti Bizzy terbilang jarang. Selain Bizzy, praktis hanya Mbiz dan Bhinneka.com yang melayani segmen B2B ini di Indonesia—itu pun dengan catatan keduanya bagian dari B2C. Dalam konteks yang lebih luas, raksasa e-commerce seperti Amazon baru merambah segmen B2B di April 2015.

Namun dibanding sistem procurement tradisional, layanan procurement digital seperti Bizzy memang menawarkan beberapa kelebihan. Contohnya dari sisi skema harga. Untuk mengakomodasi pembelian B2B yang biasanya dalam volume besar, Bizzy menyediakan tiga tingkat harga tergantung volume pembelian. Untuk pulpen merek Faster, misalnya, harganya bisa Rp2.900 jika membeli antara 1 – 72 buah atau Rp2.200 jika membeli di atas 145 buah.

Sistem transaksi di Bizzy juga mengenal faktor restitusi pajak. Jadi pada setiap transaksi, Bizzy menyediakan faktur pajak yang bisa perusahaan klaim di kemudian hari. “Jadi harga di Bizzy virtually didiskon 10%,” ungkap Hermawan (10% adalah angka restitusi pajak yang bisa diklaim perusahaan ke Dirjen Pajak).

Di luar harga yang kompetitif, Bizzy juga menjanjikan kemudahan dan kecepatan. Hal ini terjadi karena perusahaan hanya perlu berhadapan dengan Bizzy. Bizzy sendiri mendapatkan produk perkantoran tersebut dari 700 supplier yang telah bekerja sama, namun prosesnya akan terkonsolidasi. Semua tahapan, mulai dari purchase order, invoice, sampai pengiriman akan disatukan sehingga perusahaan tinggal “tahu beres”.

Pengiriman barang yang dipesan di Bizzy juga gratis untuk area Jabodetabek, dengan catatan nilai transaksi di atas Rp.500 ribu. Sedangkan di luar Jabodetabek, Bizzy akan melakukan pengiriman melalui pihak ketiga dengan biaya sesuai tarif yang berlaku.

Menyumbang Teknologi

Mulai beroperasi sejak Juni 2015, usia Bizzy memang terbilang belia. Meski begitu,  puluhan perusahaan sudah menggunakan layanan ini, baik secara berlangganan maupun eceran. Beberapa nama di antaranya adalah AIG, Sinarmas Agro Resources, dan Tokopedia. Bizzy juga menerima pembelian perorangan selama nilai transaksinya di atas Rp100 ribu. “Karena kami juga ingin melayani pengusaha kelas mikro,” ungkap Hermawan menjelaskan alasannya.

Dalam waktu dekat, Bizzy akan menyediakan program lebih premium yang disebut Bizzy Select. Dengan masuk program ini, perusahaan berkomitmen melakukan pembelian barang di Bizzy sesuai nilai transaksi tertentu. Sebagai imbal balik, perusahaan akan mendapatkan harga grosir mulai dari pembelian pertama.

“Misalnya sebuah perusahaan tahun lalu membeli 1.000 rim kertas,” ungkap Hermawan mencontohkan. Angka konsumsi ini kemudian menjadi patokan untuk menentukan harga satu rim kertas di tahun ini (yang tentu lebih murah karena secara volume tinggi). Nanti ketika perusahaan membeli kertas, harganya sudah harga grosir sejak pembelian pertama.

Keuntungan lain menjadi anggota Bizzy Select adalah perusahaan akan mendapatkan domain sendiri (seperti infokomputer.bizzy.co.id). Perusahaan juga bisa menyusun e-catalogue berisi produk yang sudah disepakati sejak awal. Jadi ketika user masuk, produk yang ditampilkan hanya yang sudah disetujui perusahaan. Hal ini memudahkan standarisasi barang sekaligus meningkatkan efisiensi. “Contohnya tipe printer yang dibeli sama sehingga tintanya pun juga sama,” tambah Hermawan.

Perusahaan yang bergabung di Bizzy Select juga mendapat kemudahan dalam proses pengantaran barang. Mereka bisa mendapatkan fasilitas pengantaran bebas biaya hanya dengan nilai transaksi Rp100 ribu (berbanding Rp500 ribu jika menjadi konsumen Bizzy standar).

Ke depan, beberapa terobosan juga sudah disiapkan Bizzy. Contohnya Bizzy akan mengubah proses bisnisnya menjadi marketplace. Pada model baru ini, konsumen akan mendapatkan pilihan sebuah produk dari berbagai supplier. Hal ini berbeda dengan model saat ini ketika supplier yang terpilih ditentukan algoritma internal Bizzy. Model bisnis Bizzy juga akan berubah, dari mengambil komisi melalui supplier menjadi fee per transaksi.

Pelebaran produk juga dilakukan melalui layanan Bizzy Travel. Melalui layanan ini, Bizzy akan menyediakan layanan pemesanan hotel untuk keperluan perjalanan dinas karyawan. Bizzy juga akan merambah ke area B2B2C, dengan memperbolehkan karyawan dari perusahaan yang menjadi pelanggan Bizzy untuk berbelanja di Bizzy dengan harga korporat.

Hermawan Sutanto (Chief Operating Officer, Bizzy.co.id).

Namun Hermawan mengatakan, semua terobosan itu bukan berarti Bizzy berambisi menjadi raja di dunia e-commerce B2B. “Kami lebih ingin menyumbang teknologi,” sebut Hermawan.

Melalui teknologi, Bizzy ingin menciptakan sistem procurement yang transparan di perusahaan Indonesia. Manajemen bisa dengan mudah melihat performa dari tiap pos pengeluaran, termasuk menelusuri tiap transaksi yang terjadi. Bizzy juga memiliki sistem approval berbasis email sehingga setiap transaksi bisa dikontrol tanpa mengorbankan kecepatan.

Dalam konteks lebih luas, Bizzy juga mencoba membangun ekosistem yang maju bersama. Contohnya perusahaan bisa merekomendasikan supplier langganannya untuk masuk ke platform Bizzy. Dengan begitu, supplier tersebut tidak kehilangan pelanggan, bahkan mendapatkan akses ke pasar yang lebih luas. Perusahaan yang menjadi pelanggan Bizzy juga bisa sekaligus menjadi supplier jika produk perusahaan ini cocok untuk segmen B2B. “Jadi InfoKomputer juga bisa menawarkan program langganan majalah di Bizzy,” Hermawan mencontohkan.

Hermawan mengakui, teknologi tidak serta-merta bisa mengubah sistem procurement yang telah berjalan selama ini. Ada faktor manusia di sana, dan faktor inilah yang menjadi tantangan terbesar Bizzy saat ini. “Kami harus menyakinkan semua pihak untuk beralih sistem yang transparan,” kata Hermawan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, mengingat transparansi masih menjadi isu besar di negara berkembang seperti Indonesia.

Akan tetapi, Hermawan yakin cepat atau lambat Bizzy dapat menghadirkan budaya transparansi itu di perusahaan Indonesia. Jika sudah berhasil, mimpi yang lebih besar adalah membawa Bizzy ke level Asia Tenggara. “Proses di B2B itu pada dasarnya sama. Jika kita berhasil di Indonesia yang kompleks geografinya, platform yang sama bisa kita langsung ‘nyalakan’ di negara lain,” ujar Hermawan. “Sekali-kali inovasi datang dari Indonesia,” imbuhnya.

Jika mimpi itu berhasil, Hermawan mungkin tidak perlu lagi menjelaskan Bizzy ke tiap orang yang ia temui. Karena semua orang sudah tahu, Bizzy adalah perusahaan procurement modern asal Indonesia yang sukses merambah ke level regional atau bahkan dunia.

Leave a Reply

Komentari artikel ini

Notifikasi tentang
avatar
wpDiscuz