Profil IT Leader Ibrahim Arief: Mengelola Kekuatan Engineering di Bukalapak

Ibrahim Arief: Mengelola Kekuatan Engineering di Bukalapak

Ibrahim Arief (Vice President of Engineering, Bukalapak). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Kepulangan Ibrahim Arief ke Indonesia sekitar delapan bulan lalu mengundang cukup banyak pertanyaan dari teman-teman sejawatnya. Pasalnya, saat itu karier pria yang akrab dipanggil Ibam ini sedang cemerlang di Eropa. Posisi sebagai Senior Software Engineer di bol.com, perusahaan e-commerce terbesar di Belanda dan Belgia, ada dalam genggamannya.

Kesempatan mendulang lebih banyak pengalaman dan memberi pendidikan terbaik untuk putri kecilnya yang lahir di Rotterdam, Belanda, tentu akan lebih besar jika ia menetap lebih lama di sana. Lantas untuk apa ia mengakhiri “petualangan” studi dan kariernya di Eropa?

“Sering banget ada yang nanyain ini,” jawab Ibam seraya tertawa kecil. Karena demikian seringnya, sampai-sampai Ibam merasa perlu membuat tulisan di jejaring sosial LinkedIn, khusus untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Ada dua hal yang melatarbelakangi keputusan Ibam. Pertama, sebagai orang tua, ia ingin putrinya tumbuh dekat dengan keluarga besarnya di tanah air. Alasan lain, Ibam melihat potensi pasar e-commerce Indonesia yang berpotensi melebihi Singapura, Eropa, bahkan Amerika.

Menurutnya, pasar Eropa sudah stagnan, termasuk di Belanda. “Pertumbuhan sepuluh persen saja sudah sangat bagus untuk sebuah perusahaan. Sementara [pertumbuhan] ekonomi negara-negaranya [di Eropa] cuma naik setengah persen,” papar sarjana Teknik Informatika ITB itu.

Hal itu terjadi karena pasar kian jenuh. Dengan jumlah penduduk Belanda dan Belgia yang tidak sampai tiga puluh juta, pasar e-commerce cepat mengalami saturasi karena akuisisi pelanggan baru juga bertambah sulit. “Sebagian besar sudah menjadi member dari perusahaan e-commerce tempat saya kerja,” ungkap Ibam.

Sementara itu, ia melihat sebuah tantangan sekaligus peluang baru di tanah air yang cukup disayangkan jika dilewatkan. Indonesia diprediksi memiliki potensi pertumbuhan yang jauh lebih besar daripada Singapura, Eropa, dan bahkan Amerika Serikat.

Pria yang kini menduduki posisi Vice President of Engineering di Bukalapak ini memaparkan bahwa pertumbuhan pasar e-commerce Indonesia diprediksi akan mencapai 39 persen per tahun dalam waktu sepuluh tahun mendatang, dari hanya sebesar US$1,7 miliar pada tahun 2015 menjadi US$46 miliar di tahun 2025. “[Pertumbuhan e-commerce di] Belanda itu hanya sepersepuluhnya Indonesia,” tandas Ibam.

Di bol.com pun sebenarnya ia tidak mengalami kekurangan tantangan, terutama dari kacamata orang TI. Pasar yang sudah jenuh mengharuskan bisnis menerapkan strategi yang secara intensif memanfaatkan teknologi untuk memenangi kompetisi. “Misalnya melakukan personalisasi dan rekomendasi [produk] dengan crunching big data berskala besar,” cerita Ibam tentang tugasnya sebagai lead engineer di bol.com.    

Menjaga Skalabilitas Organisasi dan Proses

I will always be an engineer at heart, di antara tantangan-tantangan tadi, satu yang paling saya suka adalah tantangan skalabilitas,” tulis Ibrahim Arief di halaman LinkedIn-nya.

Skalabilitas mulai menarik minat Ibam ketika ia harus mendesain dan mengembangkan sistem transaksi keuangan yang scalable. Sistem tersebut harus mampu melakukan scaling sebesar seratus kali lipat dalam waktu dua belas bulan untuk melayani pengguna yang mencapai skala jutaan.

Isu skalabilitas menjadi makin menarik setelah ia menemui kenyataan bahwa organisasi pun harus memiliki kemampuan scaling. “Ketika saya di bol.com itu, kami mengalami pertumbuhan yang sangat masif dalam hal jumlah orang. Pas saya masuk, [jumlah] engineer-nya itu kurang lebih 150. Dalam dua tahun, [jumlahnya] tumbuh jadi 300 orang,” papar pemegang gelar Master Computer Vision, Informatics, Media Technology itu.

Scaling up sumber daya manusia tidak bisa dilakukan hanya dengan menambah lebih banyak orang, lalu berharap produktivitas mereka akan meningkat secara linier. Di sinilah kemampuan skalabilitas dibutuhkan sebuah organisasi agar proses scaling tidak memicu bottleneck.

Sebagai salah satu platform e-commerce terbesar di Indonesia, Bukalapak.com pun tidak bisa lepas dari urusan menambah jumlah sumber daya manusia. “Di sini kami juga sedang scale up. Ketika saya masuk, ada 60 engineer. Sekarang kami punya 100 orang. Proyeksinya sampai sekitar 120 engineer,” tutur Ibam. Dan salah satu tugasnya sebagai VP of Engineering adalah merancang dan memastikan proses development berjalan secara scalable.  

Bukalapak.com mengadopsi banyak model untuk menjaga skalabilitas. Salah satunya bersumber dari pengalaman Ibam. “Kami merancang setiap tim independen satu sama lain. Setiap tim menangani vertical slice dari customer journey Bukalapak. Misalnya satu tim khusus meng-handle search engine, tim lain menangani checkout process,” jelas penyuka game strategi ini.

“Di sini C-Level-nya semua background-nya adalah computer science, jadi mereka ngerti banget potensi dan power dari engineering team yang solid,” ujar Ibrahim Arief.

Membangun Kultur, Menjaga Potensi

Meskipun ada kata engineering pada jabatannya, Ibrahim Arief lebih banyak berkutat mengelola proses dan pengembangan SDM, khususnya tim Engineering. Dan ia menganggap people sebagai tantangan terbesar.

Dari sisi hiring process, Bukalapak sudah menerapkan seleksi yang ketat dengan menerima hanya 1 – 2 persen dari top applicant yang masuk. “Dari sisi talent yang masuk, kami senang karena kualitasnya tinggi,” ujarnya.

Menjadi menantang bagi Ibam karena ia bertanggung jawab merancang tangga karier yang menantang untuk para engineer bertalenta yang jumlahnya mencapai seratus orang itu. Jumlah SDM yang cukup banyak ini membuat Ibam merasa belum bisa melakukan tugasnya secara efektif, terutama dalam memberikan masukan perbaikan pada setiap engineer.

“Di sisi lain, mereka semua excited, punya passion dan energi yang luar biasa. Dan challenge-nya adalah bagaimana kami mengarahkan energi itu,” paparnya lagi. Para engineer yang rata-rata berusia muda juga mengharuskan lelaki yang berkelana di Eropa selama tujuh tahun itu untuk melatih mereka agar lebih independen.

Ibam pun berupaya membangun kultur atau budaya kerja yang menyenangkan bagi para engineer Bukalapak, misalnya dengan membuka klub-klub untuk penyuka aktivitas seperti bermain board game, lari, bahkan bermain Pokémon Go. Satu hal yang ingin dibangun adalah hubungan di kantor bukan sebatas hubungan kerja, melainkan juga persahabatan dan kekeluargaan.

Ibrahim Arief bersyukur ia didukung dan diberi ruang gerak yang cukup oleh jajaran top management Bukalapak untuk membangun budaya kerja yang baik dan menyenangkan di antara para engineer. “Di sini C-Level-nya semua background-nya adalah computer science, jadi mereka ngerti banget potensi dan power dari engineering team yang solid,” ujar profesional TI yang pernah bercita-cita menjadi ahli astronomi ini.  

Ada satu peristiwa yang seakan memvalidasi upaya-upayanya selama ini, yaitu ketika seorang engineer Bukalapak akan meneruskan sekolah ke luar negeri. “Pas saya tanya dia, ‘Kamu nggak mau spend hari terakhir sama keluarga atau teman-teman?’ Dia jawab begini, ‘Keluarga saya di sini, Mas’. Itu bikin saya speechless, karena artinya we are doing the right thing,” pungkas Ibam.