Tags Posts tagged with "CTI group"

CTI group

 Di era serba digital seperti saat ini, jumlah perangkat yang terhubung ke internet kian meroket. Ditambah lagi serbuan era Internet of Things (IoT) yang menghadirkan tantangan infrastruktur jaringan bagi industri.

Peranan internet di era IoT semakin kompleks karena mampu menghubungkan objek, aplikasi, proses bisnis dan individu yang menimbulkan pertukaran data digital secara masif. Pertukaran itu pun dituntut untuk memiliki infrastruktur network yang cepat, handal, namun ekonomis serta sesuai dengan perangkat mission critical yang ada.

Demi menjawab tantangan ini, Blue Power Technology (BPT), sebagai solusi penyedia infrastruktur TI dan anak perusahaan dari CTI Group menyediakan solusi dan layanan networking yang membidik segmen enterprise hasil kerjasama dengan Extreme Networks.

Dalam perannya sebagai value-added distributor dan IT Expert Partner, BPT menawarkan produk dan solusi jaringan lengkap mulai dari kabel ke nirkabel, desktop, hingga datacenter milik Extreme Networks. Extreme Networks sendiri telah dikenal oleh perusahaan berskala enterprise, namun banyak juga diimplementasikan oleh bisnis retail dan startups.

Lugas M Satrio (Presiden Direktur BPT) menuturkan jika peranan internet akan semakin krusial baik untuk kebutuhan pribadi maupun bisnis di mana lebih dari 1,5 miliar perangkat baru akan saling terkoneksi. “Tantangannya sekarang adalah bagaimana bisnis dapat menyediakan infrastruktur network terbaik yang bisa bebas dari koneksi lambat bahkan terputus, sehingga produktivitas karyawan maupun relasi dengan stakeholder dapat terjaga,” ujar Lugas.

Sementara itu, beberapa produk dan solusi yang ditawarkan Extreme Networks meliputi Wireless access points dan wired switches, Extreme Analytics, Extreme Cloud, Extreme Management, Extreme Security Information and Event Management (SIEM), dan Software-Defined Network (SDN).

Ilustrasi machine learning. [kredit: Shutterstock]

Kurang dari sebulan, ajang tahunan CTI IT Infrastructure Summit 2017 akan digelar. Untuk tahun ini, ajang prestisius tersebut akan mengangkat tema Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business.

Machine learning sendiri adalah salah satu cabang computer science yang memungkinkan komputer menganalisa data tanpa harus dipogram secara spesifik. Hal ini berbeda dengan aplikasi pada umumnya yang harus secara detail memperhitungkan segala kemungkinan. Aplikasi berbasis machine learning memungkinan komputer mempelajari pola dari semua data yang ia miliki, untuk kemudian memberikan insight yang bisa membantu kita mengambil keputusan.

Dalam konteks yang lebih luas, machine learning adalah bagian dari konsep Artificial Intelligence dan cognitive computing yang kini dikembangkan banyak perusahaan teknologi dunia.

Ada alasan tersendiri mengapa CTI IT Infrastructure Summit 2017 mengambil tema machine learning. Dalam beberapa tahun terakhir, machine learning telah menjadi bagian penting dari akselerasi perusahaan dunia. Perusahaan seperti Amazon, SoftBank, atau PayPal adalah beberapa contoh perusahaan yang telah memanfaatkan machine learning.

Akan tetapi, machine learning, AI, dan cognitive computing memang belum terlalu populer di dunia IT Indonesia. Hal ini diakui Gunawan Susanto (President Director, IBM Indonesia) yang menjadi salah satu pendukung acara CTI Infrastructure Summit 2017. “Cognitive computing adalah salah satu cara Indonesia mengejar ketertinggalan dengan negara lain,” ungkap Gunawan.

Apalagi, beberapa negara tetangga sudah mulai memanfaatkan cognitive computing sebagai competitive advantage. Bumrungrad Hospital di Thailand, misalnya, menggunakan cognitive computing untuk membantu dokter spesialis kanker (oncologist) dalam memberikan perawatan yang tepat bagi pasien kanker. Dengan menganalisis literatur medis mengenai kanker dari seluruh dunia, cognitive computing bisa memberikan saran kepada dokter mengenai perawatan terbaik bagi sang pasien.

Contoh lain adalah perusahaan akomodasi Starwood Hotels & Resorts yang terkenal dengan jaringan hotel Sheraton dan Westin. Mereka telah menggunakan machine learning pada Revenue Optimization System (ROS ) mereka atau sistem pengaturan harga kamar. Sistem ini mampu mempelajari aneka data dalam menentukan harga kamar secara real-time menggunakan berbagai data internal, seperti jumlah ketersediaan kamar, tingkat pemesanan, pembatalan, tipe kamar, dan harga kamar harian. ROS juga menganalisis data eksternal seperti harga hotel pesaing, cuaca di sekitar, dan acara-acara besar yang diselenggarakan di dekat lokasi hotel. Hasilnya, lebih dari 1.000 hotel milik Starwood bisa mengubah harga kamar setiap menitnya demi menentukan harga yang paling efisien untuk meningkatkan pemasukan dan keuntungan perusahaan.

Dua contoh di atas menunjukkan, cognitive computing mampu memberikan keunggulan unik bagi perusahaan. Peluangnya pun terbilang tak terbatas karena pemanfaatan cognitive computing bisa dilakukan untuk berbagai skenario. Perusahaan retail, misalnya, bisa memanfaatkan cognitive computing untuk memprediksi stok sebuah produk berdasarkan pola pembelian konsumen selama ini. Nelayan pun bisa memanfaatkan sistem pintar ini untuk memperkirakan area laut yang padat ikan berdasarkan data cuaca dan pola arus laut.

Pendek kata, semua kebutuhan bisnis bisa memanfaatkan machine learning. Namun karena prinsip dasar dari machine learning adalah “belajar”, tiap skenario membutuhkan data dan proses pembelajaran yang berbeda. Karena itulah Gunawan Susanto mengajak semua pihak di ekosistem IT Indonesia untuk memanfaatkan machine learning berdasarkan kebutuhan unik bangsa ini. “Jangan sampai kita cuma menikmati service [berbasis machine learning]-nya, namun player-nya dari negara lain,” ujar Gunawan.

Ingin mengetahui lebih jauh mengenai pemanfaatan machine learning di berbagai industri? Daftarkan diri Anda di alamat ini untuk mengikuti CTI IT Infrastructure Summit 2017. Akan ada pembicara dari Grab, Singtel, DBS, dan berbagai perusahaan lain yang akan membahas bagaimana mereka memanfaatkan machine learning.

Tan Wijaya (Direktur, Central Data Technology). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Cloud computing kian menemukan momentumnya. Lembaga riset Gartner memperkirakan, layanan public cloud global akan menyentuh nilai US$208,6 miliar di tahun 2016 ini, atau naik sekitar 17,2% dibandingkan tahun lalu. Tren serupa juga diungkap IDC, yang menyebut pembelian infrastruktur TI untuk teknologi cloud mencapai US$37,4 miliar atau naik sebesar 16,2%.

Fenomena itu menimbulkan konsekuensi tersendiri bagi Central Data Technology (CDT). Sebagai distributor solusi TI, CDT harus menerima kenyataan bahwa klien mereka kini memiliki opsi untuk mengadopsi cloud dan “menghilangkan” peran distributor.

Namun Tan Wijaya sebagai Director CDT, memandang perubahan itu sebagai tantangan yang menarik. “Kami tidak bisa lagi hanya menjual produk. Kami harus menyediakan added-value di atasnya,” ungkap pria yang sejak Januari 2016 dipercaya memimpin CDT.

Mengubah Model Bisnis

Kiprah CDT dimulai sejak perusahaan itu berdiri di tahun 2011. Namun “benih” CDT bisa dibilang berawal sejak tahun 2004. Kala itu, CTI atau Computrade Technology Indonesia mendapat kesempatan untuk mendistribusikan solusi terkait Oracle. Seiring perjalanan waktu, produk yang dipegang CTI kian banyak. Hal ini mendorong CTI membuat beberapa anak perusahaan dengan spesialisasi produk tertentu, salah satunya adalah CDT dengan spesialisasi solusi Oracle.

Akan tetapi, CDT kini tidak cuma menangani solusi Oracle. Mereka kini menawarkan solusi dari sembilan penyedia teknologi seperti Fujitsu, PureStorage, MapR, Rittal, Commvault, Hitachi Data System, F5, dan DBvisit. “Semua solusi ini saling melengkapi, sehingga kami merancangnya menjadi sebuah sinergi,” ungkap Tan saat menyinggung kesamaan dari seluruh solusi yang ditawarkan CDT.

Contohnya, Oracle tidak memiliki solusi sekuriti untuk application directory, namun solusi seperti itu bisa disediakan F5. Atau ketika perusahaan ingin menganalisis big data untuk data ERP-nya, mereka bisa memanfaatkan software MapR.

Seiring membesarnya fenomena cloud, Tan mengakui adanya pergeseran konsumsi solusi TI dari klien mereka. “Dari sisi hardware, ada yang meminta appliance, namun ada juga yang meminta on-cloud,” ungkap Tan. Di sisi software pun terjadi fenomena yang sama. Jika biasanya berbasis lisensi, kini banyak solusi yang ditawarkan CDT berbasis langganan atau subscription. “Kita harus bisa melayani dua business model tersebut,” tambah Tan.

Keluwesan melayani dua dunia ini menjadi krusial mengingat tren di masa depan mengarah ke perpaduan antara pendekatan on-premise dan cloud. Hal ini tidak lepas dari masih adanya resistensi dari perusahaan Indonesia untuk beralih ke cloud. “Berdasarkan survei kami, ada tiga faktor yang menjadi alasan resistensi tersebut,” tambah Tan. Faktor-faktor itu adalah aturan pemerintah, sekuriti, dan inter-connectivity. “Jadi semuanya mengarah ke hybrid cloud,” tambah Tan.

Karena itu, Tan melihat CDT harus bisa bergerak di dua dunia tersebut. Di dunia on-premise, mereka akan meneruskan hal yang selama ini dilakukan. Sementara di dunia cloud, Tan melihat kesempatan di bidang layanan tambahan alias add-on dari layanan cloud. “Contohnya backup service, monitoring, security, sampai migration service,” ungkap Tan.

Tren di Masa Depan

“Solusi kami harus bisa memiliki impact terhadap bisnis, sehingga dibutuhkan orang-orang yang memiliki industry knowledge yang mumpuni,” ujar Tan Wijaya.

Perubahan di sisi model bisnis tentu saja menimbulkan konsekuensi di internal CDT. Mereka harus mengubah skillset yang mereka miliki agar tetap relevan dengan perubahan yang sedang terjadi. Di sinilah Tan melihat tantangan terbesarnya memimpin CDT yang memiliki sekitar lima puluh karyawan.

“Solusi kami harus bisa memiliki impact terhadap bisnis, sehingga dibutuhkan orang-orang yang memiliki industry knowledge yang mumpuni,” tambah Tan.

Karena itulah ketika ditanya targetnya dalam 1 – 2 tahun mendatang, Tan menyebut pengembangan SDM adalah salah satu misi utamanya. “Bagaimana membangun skill karena tulang punggung TI adalah people,” tambah Tan.

Mendorong transformasi ini memang tidak mudah. Namun Tan terbilang terbiasa menghadapi situasi menantang. Saat masih kuliah, misalnya, ia menempuh dua kuliah sekaligus di Teknik Fisika UI dan Computer Science Bina Nusantara. Keduanya berhasil dilalui dengan baik, bahkan ia lulus dengan predikat cum laude di bidang studi itu.

Setelah lulus kuliah, Tan masuk dunia TI dengan bekerja di salah satu distributor tape backup. Setelah itu, ia sempat ke Imation sebelum bergabung dengan IBM selama sembilan tahun. Sempat mencicipi berbagai posisi, mulai dari Teritory Manager sampai Executive Assistant untuk GM IBM ASEAN, di awal tahun ini Tan memutuskan untuk bergabung dengan CDT.

Dengan pengalaman yang cukup panjang tersebut, Tan memiliki pandangan tersendiri mengenai tren yang harus diantisipasi CIO. “Dalam 3 – 4 tahun ini, kita akrab dengan megatrend yang disebut digital transformation, yaitu proses transformasi yang membuat company lebih IT-oriented,” tambah Tan. Transformasi itu memunculkan konsekuensi munculnya tren baru di sisi teknologi.

Tren itu meliputi mobility ketika aktivitas perusahaan bergeser ke perangkat mobile, utamanya smartphone. Tren lain adalah social engagement ketika hubungan antarperusahaan dengan karyawan maupun perusahaan dengan klien menjadi lebih sosial. Tuntutan akan infrastruktur TI yang luwes menyebabkan munculnya tren cloud. Tren terakhir adalah sekuriti yang dibutuhkan perusahaan untuk melindungi beragam teknologi baru tersebut.

Tan juga melihat peran CIO dan divisi TI juga dituntut untuk bisa bertransformasi. “Saat ini budget untuk divisi TI berkurang, namun IT spending terus naik,” ungkap ayah dua anak ini. Hal ini menunjukkan belanja teknologi kini tidak lagi didominasi divisi TI, namun seluruh line of business. Jika tidak bisa bertransformasi, divisi TI nantinya cuma menjadi unit pendukung yang tidak berpengaruh signifikan terhadap bisnis.

Karena itulah, Tan menyarankan divisi TI untuk terus menaikkan levelnya. Jika semula hanya memastikan infrastruktur TI berjalan tanpa masalah, divisi TI harus naik satu tingkat menjadi kolaborator antardivisi. “Misalnya saat implementasi ERP, yang merupakan kolaborasi antartim procurement, distribusi, dan lainnya,” ungkap Tan mencontohkan peran TI sebagai kolaborator.

Jika sudah, TI bisa naik satu level lagi menjadi business intellegence yang bisa meningkatkan keuntungan atau menurunkan biaya. Level lebih atas adalah ketika TI bisa menjadi revenue generator bagi perusahaan. “Untuk mencapai hal ini, orang IT tidak cuma tahu teknis, tapi tahu bisnisnya juga,” tambah Tan.

Pendek kata, transformasi adalah kata kunci di era yang penuh dinamika seperti sekarang. Tan sendiri memiliki tiga prinsip kerja yang ia harap bisa menyukseskan transformasi ini di CDT. Tiga prinsip tersebut adalah commitment, dicipline, dan teamwork. “Kebetulan, singkatan prinsip itu adalah CDT,” ungkap Tan sambil tertawa lebar.

Rachmat Gunawan (Direktur, CTI Group) dan Gunawan Susanto (Presiden Direktur, IBM Indonesia) dalam konferensi pers kick off CTI IT Infrastructure Summit 2017.

CTI Group kembali akan menggelar seminar dan pameran infrastruktur CTI IT Infrastructure Summit 2017 pada tanggal 8 Maret 2017 di Hotel Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta.

Penyelenggaraan kali ini telah memasuki tahun keempat dan akan mengangkat topik “Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business”. Harapannya, para peserta dapat memahami peran teknologi machine learning dalam membantu organisasi mengolah data dan informasi menjadi insight berharga demi pertumbuhan bisnis.

Mengapa machine learning dipilih oleh CTI Group sebagai tema besar tahun ini?

“Dengan begitu dahsyatnya pertumbuhan data di seluruh dunia, di mana sekitar 2,5 quintillion data digital tercipta per hari, bisnis tidak lagi mampu menganalisis data tersebut secara tradisional untuk memperoleh insight penting. Di sinilah kehadiran machine learning diperlukan untuk menganalisis data secara otomatis dan memprediksi masa depan untuk mendongkrak pemasukan,” jelas Rachmat Gunawan (Direktur, CTI Group) dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/2).

IDC mencatat 75% enterprise dan pengembang software akan menerapkan fungsi machine learning dengan tool analitik bisnis yang lengkap, minimal dalam satu aplikasi perusahaan. Sedangkan Gartner memperkirakan pada tahun 2018, lebih dari separuh perusahaan enterprise di dunia akan meningkatkan daya saing melalui implementasi advanced analytics dan algoritma yang nantinya mampu mendisrupsi seluruh industri.

Machine learning juga diprediksi akan mengalami peningkatan dalam sisi service market dari US$613,4 juta di 2016 menjadi US$3,755 juta pada 2021 dengan Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan (CAGR) sebesar 43,7%.

“IBM memiliki solusi pendekatan Cognitive yang mampu menganalisis, memberikan rekomendasi di seluruh industri. IBM Watson merupakan produk dari solusi Cognitive kami yang memiliki kemampuan untuk membuka data-data yang tidak teridentifikasi,” jelas Gunawan Susanto (Presiden Direktur, IBM Indonesia).

“Melalui CTI IT Infrastructure Summit 2017, kami ingin menjadi mitra industri dalam menerapkan teknologi cognitive computing untuk mendorong keberhasilan bisnis di era transformasi digital saat ini,” imbuh Rachmat.

Seleksi iCIO Awards 2017

Seperti tahun-tahun sebelumnya, CTI IT Infrastructure Summit 2017 bakal menghadirkan beragam solusi TI terkini dan sharing best practice, tidak hanya bagi profesional di bidang TI, tetapi juga pemasaran, keuangan, produksi, dan sektor lainnya dari lintas industri di Indonesia.

Pada acara ini, juga akan diumumkan para CIO dan IT leader yang memenangi penghargaan iCIO Awards 2017 sebagai “The Most Influential CIO”, “The Most Intelligent CIO”, dan “The Most Innovative CIO”.

Saat ini, sembilan CIO dari berbagai latar belakang industri, yakni keuangan, pemerintahan, e-commerce, edukasi, dan transportasi berhasil lolos dalam tahapan seleksi formulir aplikasi dan akan mengikuti tahap akhir dari proses pemilihan, yakni wawancara dan presentasi dengan Dewan Juri.

Dewan Juri iCIO Awards 2017 terdiri dari Hasnul Suhaimi (Executive & Business Coach, mantan CEO XL Axiata), Hendra Godjali (CEO, Ernst & Young), Prihadiyanto (Managing Director, Accenture Indonesia), Arif Budisusilo (Pemimpin Redaksi Harian Bisnis Indonesia), dan Richardus Eko Indrajit (Kepala Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer/APTIKOM).

“iCIO Community memberikan penghargaan setinggi-tingginya untuk para CIO yang telah mengikuti proses seleksi iCIO Awards 2017. Kami berharap mereka nantinya dapat menjadi role model bagi para praktisi TIK, khususnya para CIO lain, dalam mengatasi berbagai tantangan penerapan TIK di organisasinya serta memberikan kontribusi peningkatan kinerja bisnis dan membangun daya saing organisasi secara berkelanjutan.” ujar Harry Surjanto (Founder and Advisor, iCIO Community).

CTI IT Infrastructure Summit 2017 didukung oleh lembaga riset Gartner dan Grab Indonesia serta vendor-vendor TI terkemuka di dunia, seperti IBM, FireEye, Dell-EMC, Fujitsu, Hewlett-Packard Enterprise, Lenovo, F5, Hitachi Data Systems, Lexmark, Varonis, Data Spark, Samsung, Pure Storage, dan Progress Software.

Untuk registrasi atau mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai CTI IT Infrastructure Summit 2017, silakan kunjungi: www.itinfrastructuresummit.com.

Bunga apa yang pantas diberikan bagi istri yang akan berulang tahun esok hari? Bagi banyak suami, pertanyaan itu mungkin hanya bisa dijawab dengan tatapan kosong dan wajah bingung. Namun jangan khawatir, ada Gwyn yang siap membantu.

Cukup mengunjungi alamat https://www.1800flowers.com/gwyn-1800flowers, Anda bisa berkonsultasi dengan Gwyn. Dia akan menanyakan warna kesukaan sang istri, jenis bunga yang disukai, dan setelah itu memberikan rekomendasi bunga apa yang bisa diberikan kepada sang istri. Kedengarannya memang simpel, namun ada teknologi yang menarik di balik itu.

Gwyn (yang sebenarnya merupakan singkatan dari Gift When You Need) adalah asisten berbasis artificial intelligence (AI). Fungsi Gwyn adalah mengetahui keinginan konsumen untuk kemudian menyajikan bunga yang tepat dari koleksi 16 perusahaan bunga di bawah 1-800-Flowers.com. “Kami menciptakan Gwyn sebagai bagian dari usaha kami meningkatkan customer experience,” ungkap Chris McCann, President 1-800-Flowers.com.

Sebagai “asisten” yang bertugas mengulik keinginan konsumen, tugas Gwyn tentu saja tidak mudah. Gwyn harus bisa mengetahui keinginan konsumen berdasarkan medium chatting yang menggunakan natural language manusia. Artinya, Gwyn tidak bisa diprogram menggunakan algoritma standar. Gwyn harus menggunakan pendekatan machine learning yang bisa mengintepretasikan natural language tersebut menjadi bahasa yang dimengerti mesin.

Untuk menciptakan Gwyn ini, 1-800-Flowers.com menggunakan solusi IBM Watson Engagement Advisor (WEA). Tidak cuma memahami bahasa manusia, IBM WEA juga membantu Gwyn menemukan konteks berdasarkan berbagai data. Contohnya history data konsumen selama ini, kesukaan mereka, dan juga momen yang sesuai dengan waktu permintaan (seperti menyediakan bunga warna pink menjelang Hari Valentine).

Sedangkan untuk di sisi backend, Gwyn juga memanfaatkan IBM Watson Explorer (WEX) untuk memindai seluruh inventori. Dengan begitu, Gwyn bisa memberikan rekomendasi bunga yang memang tersedia di inventori 1-800-Flowers.com.

Gwyn merupakan contoh bagaimana teknologi machine learning bisa digunakan untuk mempelajari berbagai data dan informasi, dari bentuk numerik yang dipahami mesin sampai bahasa manusia yang mesti diinterpretasikan lebih lanjut. Berdasarkan pemahaman ini, Gwyn bisa secara cerdas mengumpulkan dan menganalisis data, lalu merekomendasikan bunga yang sesuai selera dan kebutuhan konsumen dengan AI.

Cerita soal Gwyn di atas adalah satu dari kian banyaknya contoh implementasi AI di industri retail. Contoh lainnya adalah perusahaan outdoor apparel North Face yang juga memanfaatkan AI untuk membantu konsumen memilih produk yang tepat.

Implementasi AI pun tidak cuma di sisi pengguna. IBM Watson memiliki fitur Order Optimizer yang akan memberikan saran terkait strategi inventori toko retail. Saran itu diberikan setelah menganalisa pola pembelian konsumen, tingkat laku sebuah produk, sampai kondisi cuaca yang mempengaruhi pembelian sebuah produk.

Implementasi AI juga bisa digunakan untuk menyediakan produk yang personal dan menjawab kebutuhan tiap konsumen. Dengan menganalisis social profile, preferensi personal, sampai tren yang ada saat ini, industri retail bisa memberikan produk yang sesuai berbasis individu. Dengan begitu, setiap konsumen merasa kebutuhannya terpenuhi dan mendapat sentuhan personal dari toko retail tersebut.

Pendek kata, AI dan machine learning akan mentransformasi industri retail dalam skala yang luar biasa.

Artificial Intelligence untuk Semua

Penerapan AI dan machine learning sebenarnya tidak cuma untuk industri retail. Semua industri bisa menjadikan AI sebagai competitive advantage.

Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana AI bisa mentransformasi industri perbankan, telekomunikasi, sampai e-commerce, Anda bisa mengikuti acara CTI IT Infrastructure Summit 2017. Pada acara bertajuk “Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business”, Anda bisa belajar dari perusahaan yang telah berhasil memanfaatkan machine learning.

Segera daftarkan diri Anda di www.itinfrastructuresummit.com mengingat tempat yang terbatas.

Membedakan foto sepatu dan baju adalah sebuah pekerjaan yang sangat mudah dilakukan manusia. Namun bagaimana jika ada jutaan foto yang harus disortir?

Masalah seperti ini benar dialami oleh Lazada. Setiap produk yang dipampang di platform mereka harus diperiksa dan diverifikasi. “Apakah kualitas fotonya bagus? Apakah nama produknya akurat? Setelah itu, kami harus menempatkannya di kategori produk yang tepat,” cerita John Berns (SVP Head of Data Science, Lazada).

Awalnya, Lazada melakukan proses tersebut secara manual oleh manusia. Namun mengingat setiap tahun ada 30 juta foto yang harus diolah, proses manual tersebut menuntut waktu dan tenaga yang tak sedikit. Hal inilah yang mendorong Lazada untuk membangun sistem berbasis teknologi machine learning.

“Sistem ini bisa melihat gambar, menganalisis, lalu menaruhnya di kategori yang tepat,” kata Berns. Ketika dilakukan secara manual, proses verifikasi biasanya berlangsung 30 detik Namun ketika menggunakan sistem berbasis machine learning, waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 5-6 detik.

Akurasi sistem tersebut juga bisa diandalkan. “Sekitar 90% produk dapat diklasifikasikan berdasarkan machine learning, sementara sisanya masuk ke dalam suggestion untuk diproses secara manual,” tambah Berns.

Implementasi Luas

Machine learning sendiri adalah salah satu cabang ilmu komputer yang memiliki kemampuan belajar dari pola data, baik yang diberikan sebelumnya maupun data baru. Machine learning erat kaitannya dengan computational computing karena mengandalkan pola statistik dari data yang ia proses. Seperti contoh di atas, sistem machine learning Lazada bisa mengenali foto sebuah baju karena ia mengenali ciri-ciri baju dari jutaan foto baju yang telah ia proses.

Teknologi machine learning sebenarnya bukan hal yang baru. Pada tahun 1960, Joseph Weizenbaum membuat komputer bernama Eliza yang mengambil pendekatan machine learning. Namun implementasi machine learningmendapat momentumnya dalam beberapa tahun terakhir karena ekosistem yang mendukung. Contohnya peningkatan kecepatan komputasi yang bisa memproses data ukuran raksasa dengan lebih cepat. Selain itu, algoritma machine learning juga kian matang seiring kian seriusnya perusahaan teknologi raksasa, seperti Google, Microsoft, dan Amazon, dalam mengimplementasikan machine learning.

Perusahaan dari berbagai industri pun kini mulai melirik machine learning sebagai competitive advantage. Survei yang dilakukan MIT terhadap 168 perusahaan dengan pendapatan di atas US$500 juta menunjukkan, 76% responden telah menggunakan aplikasi berbasis machine learning untuk mengejar kenaikan pendapatan.

Sementara lembaga survei McKinsey menyebut, lebih dari selusin bank di Eropa telah mengganti sistem statistik yang biasa mereka gunakan dengan sistem baru berbasis machine learning. Hasilnya pun sangat positif. Bank yang telah menggunakan machine learning ini berhasil meningkatkan pendapatan 10% terhadap produk baru, serta penurunan churn (angka nasabah yang berhenti menggunakan jasa keuangan) sampai 20%.

Hal ini bisa dicapai karena sistem berbasia machine learning bisa memberikan rekomendasi yang lebih presisi dalam menawarkan produk baru maupun mendeteksi nasabah yang akan berhenti. Dalam konteks yang lebih luas, machine learning juga bisa digunakan untuk memprediksi potensi fraud, meningkatkan layanan masyarakat dan kesehatan, serta memperbaiki pola pelatihan olahraga.

Pendek kata, machine learning adalah tools yang akan membantu tiap perusahaan dalam meningkatkan kinerja mereka. Pertanyaan besarnya, apakah perusahaan Anda siap mengimplementasikannya?

Ingin tahu lebih banyak bagaimana machine learning bisa membantu perusahaan Anda?

Anda ingin tahu lebih banyak bagaimana machine learning bisa membantu perusahaan Anda? Anda bisa mengikuti CTI IT Infrastructure Summit yang akan diselenggarakan pada 8 Maret 2017. Pada acara yang bertajuk “Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business”, narasumber dari berbagai industri akan berbagi strategi mereka dalam mengimplementasikan machine learning.

Segera daftarkan diri Anda di http://www.itinfrastructuresummit.com/preregister mengingat tempat yang terbatas.

icio_community

iCIO Community menggelar Executive Leadership Forum dengan mengundang puluhan CIO dan jajaran dewan direksi lainnya dari berbagai sektor industri serta pemerintah guna membahas fenomena ekonomi digital berikut peluang dan tantangannya.

iCIO Executive Leadership Forum 2017 mengusung tema “Unlock the Full Potential of Digital Economy” untuk membantu industri memaksimalkan potensi ekonomi digital sebagai penentu inovasi dan pertumbuhan bisnis melalui kolaborasi dari beberapa aspek seperti teknologi digital, dukungan kebijakan dan utilisasi data.

Acara seminar dan diskusi ini didukung oleh para profesional industri, pakar bisnis serta pemerintah sebagai pembicara kunci, di antaranya Menteri Keuangan Sri Mulyani, Handry Satriago (CEO General Electrics Indonesia), dan Derianto Kusuma (Co-founder Traveloka).

“Melalui event ini, kami ingin menjembatani komunikasi antara pemerintah dan pelaku bisnis lintas industri untuk dapat saling bertukar pikiran maupun berinovasi dalam mengembangkan ekonomi digital.  Didukung pula oleh kemitraan iCIO dengan perguruan tinggi, kita ingin memperkuat kolaborasi antara tiga pilar ini, sejalan dengan penerapan yang oleh para pakar disebut sebagai triple helix for innovation,” ujar Agus Wicaksono (Chairman iCIO Community).

 

Lembaga riset Gartner  memprediksi pada 2018, koneksi menjadi ekonomi baru yang mendorong organisasi untuk meningkatkan investasi pada aset dan sistem fisik sebanyak 30%. Kehadiran teknologi digital di mana semua perangkat terkoneksi mampu meningkatkan nilai produk dan layanan yang sifatnya tradisional melalui pemanfaatan data, konten, algoritma, analisis, serta hubungan antar pelaku ekonomi dalam sebuah ekosistem digital.

Ke depannya CIO, Chief Data Officer dan Chief Digital Officer semakin dituntut untuk mampu mengidentifikasi sumber potensial dari nilai digital, asset digital yang sudah ada, produk dan jasa, serta value dari tiap komponen tersebut.

Christian Atmadjaja (Direktur Virtus Technology Indonesia) mengisi seminar Virtus Executive Gathering di Hotel Mulia Senayan Jakarta.

Christian Atmadjaja (Direktur Virtus Technology Indonesia) mengisi seminar Virtus Executive Gathering di Hotel Mulia Senayan Jakarta.

Era digital melahirkan ancaman keamanan Informasi bagi masyarakat baik individu maupun korporasi. Riset menyebutkan perusahaan harus membayar rata-rata US$551,000 perkejadian dan US$38,000 untuk level UKM. pasca serangan siber.

PT Virtus Technology Indonesia menawarkan solusi keamanan dan layanan end-to-end untuk memberikan proteksi menyeluruh bagi sistem TI perusahaan. Christian Atmadjaja (Direktur Virtus Technology Indonesia) mengatakan dunia digital hadir untuk mempermudah kehidupan manusia dan menciptakan kemudahan bagi para pelaku kejahatan siber untuk mencuri data penting. Sayangnya, para pelaku bisnis yang sudah melakukan transformasi digital masih belum menempatkan keamanan digital sebagai prioritas utama mereka.

“Hacking telah menjadi sebuah bisnis dan para pelaku menjual informasi rahasia di pasar gelap bahkan memeras si pemilik data,” katanya dalam ajang Virtus Executive Gathering di Hotel Mulia Senayan Jakarta.

Menurut penelitian Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (Id-SIRTII), Indonesia masih menjadi target serangan siber dimana ada sekitar 89 juta serangan yang terjadi selama semester I tahun ini didominasi oleh serangan malware sebanyak 46,3 juta serangan. Dari riset itu, ada enam ribu insiden website yang berhasil dijebol hacker dan hampir 16 ribu celah keamanan ditemukan pada sistem website di Indonesia.

Virtus sebagai value added distributor akan bertindak sebagai konsultan bagi para pelanggannya dalam menentukan solusi yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan TI pelanggan selain menyediakan dukungan lengkap berupa certified sales dan engineer, fasilitas Technology Center, dan layanan customer care 24 jam.

Virtus menawarkan rangkaian solusi meliputi perlindungan pada Operating System; Virtualization and Cloud; Database and Application; Data and Information; Network and Gateway; User, Endpoint and Mobile; Security Information and Event Management; serta Governance Risk and Compliance. Solusi tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan sejumlah merk ternama seperti CheckPoint, VMware, RSA Security, HPE Security, Sophos, Radware, TrendMicro, Menlo Security, Ruckus, Savvius, dan Gigamon.

Dalam event bertajuk How to Survive the Modern Attack ini, Virtus mengumpulkan sejumlah petinggi TI perusahaan di seluruh Indonesia untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan terkait tren TI terbaru, khususnya di bidang keamanan, dari Ketua Id-SIRTII Rudi Lumanto, Senior Director and Country Manager VMware Indonesia Adi Rusli, Country Manager Check Point Indonesia Dhanny Kurniawan, dan Senior Technology Consultant RSA Security Fransiskus Indromojo, CISSP.

“Ransomware menjadi satu tipe malware yang mengalami peningkatan aktivitas di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Tahun ini, ada peningkatan sampai 200 jenis family ransomware yang ada. Di Indonesia, kasus ransomware diketahui secara sporadis,” ujarnya dalam siaran persnya, Minggu.

Menurut Checkpoint Security Report 2016, ada sekitar 82 persen dari perusahaan mengakses sebuah website yang berbahaya atau malicious, 88 persen perusahaan mengalami insiden kehilangan data, 89 persen perusahaan mengunduh malicious file. Pencurian data yang terjadi, menurut riset Ponemon Institute, menimbulkan kerugian hingga rata-rata US$4 juta per kejadian dengan rincian kerugian sekitar US$158 per data atau informasi rahasia yang dicuri.

Christian Atmadjaja, (Director PT Virtus Technology Indonesia) membuka acara Virtus Showcase 2016

Christian Atmadjaja (Director PT Virtus Technology Indonesia) membuka acara Virtus Showcase 2016.

Virtus Technology Indonesia kembali menyelenggarakan Virtus Showcase 2016 di Hotel Four Seasons, Jakarta untuk menjawab tantangan industri di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK).

Virtus Showcase 2016 mengusung tema “The Essential Challenge in Digital Era” untuk membantu industri mengidentifikasi tantangan dan permasalahan yang berpotensi terjadi dalam proses bisnis bertransformasi ke arah digital.

Acara itu dihadiri oleh Ridzki Kramadibrata (Managing Director Grab Indonesia), Irvan Yasni (Corporate IT Director PT Sinarmas Land), dan Achmad Royhan (VP Information Technology PT Citilink Indonesia).

Christian Atmadjaja (Direktur Virtus Technology Indonesia) mengharapkan acara Virtus Showcase dapat membantu para profesional bisnis dan TI di Indonesia untuk menemukan peluang pasar yang baru dan mengatasi berbagai tantangan serta meminimalisir risiko.

Saat ini ada empat pilar digital yaitu cloud computing, social media, big data analytics, dan mobility.

“Saat ini perusahaan dituntut untuk mengubah model bisnis menjadi lebih efisien dan menyusun strategi perusahaan yang efektif sehingga mampu menghadirkan value baru,” katanya.

Virtus Indonesia berkomitmen menyajikan portofolio produk dan solusi mencakup empat pilar digital ditambah solusi network dan security untuk membantu para pelanggan memaksimalkan proses transformasi.

“Pelanggan kami akan mendapatkan layanan lengkap mulai dari tahap perencanaan, implementasi, hingga pemeliharaan solusi melalui perpaduan pengalaman, dukungan engineer bersertifikat internasional, dan fasilitas Technology Center,” ucapnya.

Enam Tantangan

Studi Deloitte mencatat ada enam tantangan yang paling sering dialami oleh perusahaan di era digital, yaitu faktor biaya, masalah keamanan, strategi yang lemah, minimnya responsivitas terhadap perubahan dan peluang, serta kemampuan teknis yang kurang memadai.

“Dengan teknologi, perusahaan dapat bergerak lebih lincah, terhubung lebih baik dengan sumber daya manusia dan barang, mendapatkan masukan untuk mengambil keputusan yang lebih baik, dan melindungi data-data penting,” ucap Catherine Lian (Managing Director Dell Indonesia).

Meskipun transformasi digital telah menjadi prioritas sebagian besar perusahaan di dunia, tingkat kesadaran akan pentingnya keamanan informasi masih relatif rendah. Sebuah studi mengungkapkan mayoritas pelanggaran keamanan informasi disebabkan oleh human error para karyawan.

“Di era Internet of Things (IoT) dimana milyaran perangkat saling terhubung, keamanan informasi harusnya menjadi perhatian utama seluruh perusahaan dan perlu disusun strategi kemanan preventif yang tepat,” pungkas Bruce Chai (Head of Threat Prevention, Asia, Check Point Software Technologies).

csr cti ke univ telkom 2

Sebagai perwujudan program Corporate Social Responsibility (CSR), CTI Group memberikan bantuan berupa sejumlah perangkat TI kepada Universitas Telkom, Bandung.

Sejumlah perangkat TI yang diserahkan kepada Universitas Telkom meliputi server, switch, wireless access point, advance management module, I/O expansion card, dan cooling module. Keseluruhan perangkat ini akan digunakan oleh para mahasiswa D3 Teknik Informatika untuk melakukan kegiatan praktikum, selain untuk penelitian oleh para dosen program studi terkait.

Bantuan perangkat TI dari CTI Group ini akan memungkinkan Universitas Telkom meningkatkan materi pendidikan dengan kegiatan praktikum dan penelitian, khususnya mata kuliah Jaringan Komputer dan Pemrograman bagi para mahasiswa D3 Teknik Informatika.

Kemitraan CTI Group dan Universitas Telkom ini juga diharapkan dapat dimanfaatkan mahasiswa-mahasiswa lainnya untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan pengalaman sebelum mereka benar-benar terjun ke dunia kerja.

csr cti ke univ telkom 1

Ronny Christian (General Manager Corporate Competency Development, CTI Group) mengatakan bahwa pada tahun 2020, perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia akan kesulitan memenuhi kebutuhan SDM yang sesuai kualifikasi dari pendidikan tinggi di Indonesia karena kurangnya skill dan pelatihan yang diterimanya selama kuliah.

“Universitas Telkom sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi di bidang TIK memiliki tanggung jawab besar untuk melengkapi materi perkuliahan dengan berbagai pelatihan dalam menyiapkan skill lulusannya. Kami berharap bisa memberikan kontribusi positif dalam peningkatan kualitas lulusan Universitas Telkom,” kata Ronny.

Ama Suyanto (Wakil Rektor III Bidang Admisi & Kerja Sama Universitas Telkom) mengatakan, ”Kerja sama ini merupakan langkah penting dalam upaya kami untuk meningkatkan skill lulusan Universitas Telkom. Mahasiswa D3 Teknik Informatika akan sangat terbantu dalam mempraktikkan teori yang mereka peroleh di dalam kelas melalui laboratorium yang telah dilengkapi perangkat TI bantuan dari CTI Group.”