Tags Posts tagged with "CTI IT Infrastructure Summit"

CTI IT Infrastructure Summit

Leonardo Koesmanto (Head of Digibank, DBS Indonesia). [Foto: Abdul Aziz/InfoKomputer]

Dengan memanfaatkan machine learning, sebuah bank bisa lebih efisien sekaligus memberikan layanan optimal bagi nasabahnya. Kesimpulan itulah yang bisa ditarik dari pengalaman Bank DBS yang saat ini mulai memanfaatkan machine learning.

Salah satu implementasi machine learning di DBS adalah memberi insight bagi Relationship Manager (RM) saat berhubungan dengan nasabahnya. “Ketika akan bertemu nasabah, seorang RM itu harus riset dulu setiap nasabahnya,” cerita Leonardo Koesmanto (Head of Digibank, DBS Indonesia). Riset tersebut meliputi karakter investasi nasabah (seperti risk taker atau risk averse) dan juga kondisi pasar saat itu. Jika dalam sehari seorang RM harus bertemu lima nasabah, tentu proses riset akan membutuhkan waktu yang lama.

Hal itulah yang mendorong DBS untuk melirik machine learning. Proses riset yang biasanya dilakukan secara manual, kini menggunakan komputer. Machine learning akan menganalisis berbagai faktor, seperti latar belakang konsumen dan kondisi pasar, untuk kemudian memberikan saran kepada RM dalam membuat penawaran investasi. Berdasarkan masukan tersebut, sang RM bisa dengan cepat memberikan saran investasi yang tepat bagi nasabah.

Penggunaan machine learning pun bisa meluas ke sisi digital personal assistant. Personal assistant ini bisa menjawab pertanyaan nasabah seputar produk perbankan yang biasanya ditangani oleh customer service. “Karena 80% pertanyaan ke customer service pada dasarnya sama,” tambah pria yang akrab dipanggil Leo ini.

Lebih jauh lagi, digital personal assistant ini juga bisa membantu proses perbankan. Ketika ingin membayar tagihan telepon, misalnya, nasabah tinggal berkata atau mengetikkan “Saya ingin membayar tagihan telepon.” Hal yang sama pun bisa dilakukan ketika nasabah ingin mengecek saldo, melakukan transfer, dan berbagai kegiatan perbankan lainnya.

Semua kemudahan itu sejalan dengan visi DBS yang menginginkan bank menjadi satu hal yang invisible. “Kalau dulu, ketika kita melakukan kegiatan perbankan, kita harus pergi ke bank,” ungkap Leo. Sedangkan ke depannya, semua yang dilakukan nasabah di bank, bisa dilakukan menggunakan smartphone-nya. Kata “bank” pun akan bertransformasi menjadi sebuah kegiatan dan bukan lagi bentuk fisik. “Kita berada di belakang dari setiap transaksi yang dilakukan,” tambah Leo menggambarkan visi DBS ke depan.

Untuk mencapai ke sana, tantangannya memang tidak sedikit. Tantangan terbesar adalah bagaimana “melatih” machine learning ini untuk bisa bekerja dengan sempurna. “Machine learning itu ibarat anak yang harus diajari dulu,” tambah Leo. Contohnya, sang mesin harus bisa menangkap pertanyaan mengenai cara membuka rekening di DBS yang diungkapkan dengan bahasa resmi maupun sehari-hari.

Agar bisa belajar, sang mesin harus terus dipakai sehingga perbendaharaan kata dan kalimat yang ia mengerti bisa semakin besar. “Kami baru saja implementasi, jadi perlu waktu untuk dia menjadi pintar,” ujar Leo. Namun ia yakin, peran machine learning akan semakin besar di masa depan. “Saya cukup optimistis implementasinya akan banyak,” ungkap Leo.

Leonardo Koesmanto adalah salah satu pembicara pada acara CTI IT Infrastructure Summit 2017. Di acara ini, Leo akan membahas lebih jauh mengenai starategi DBS dalam menerapkan machine learning. Jika tertarik untuk ikut, silakan daftarkan diri Anda di alamat ini.

Ilustrasi machine learning. [kredit: Shutterstock]

Kurang dari sebulan, ajang tahunan CTI IT Infrastructure Summit 2017 akan digelar. Untuk tahun ini, ajang prestisius tersebut akan mengangkat tema Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business.

Machine learning sendiri adalah salah satu cabang computer science yang memungkinkan komputer menganalisa data tanpa harus dipogram secara spesifik. Hal ini berbeda dengan aplikasi pada umumnya yang harus secara detail memperhitungkan segala kemungkinan. Aplikasi berbasis machine learning memungkinan komputer mempelajari pola dari semua data yang ia miliki, untuk kemudian memberikan insight yang bisa membantu kita mengambil keputusan.

Dalam konteks yang lebih luas, machine learning adalah bagian dari konsep Artificial Intelligence dan cognitive computing yang kini dikembangkan banyak perusahaan teknologi dunia.

Ada alasan tersendiri mengapa CTI IT Infrastructure Summit 2017 mengambil tema machine learning. Dalam beberapa tahun terakhir, machine learning telah menjadi bagian penting dari akselerasi perusahaan dunia. Perusahaan seperti Amazon, SoftBank, atau PayPal adalah beberapa contoh perusahaan yang telah memanfaatkan machine learning.

Akan tetapi, machine learning, AI, dan cognitive computing memang belum terlalu populer di dunia IT Indonesia. Hal ini diakui Gunawan Susanto (President Director, IBM Indonesia) yang menjadi salah satu pendukung acara CTI Infrastructure Summit 2017. “Cognitive computing adalah salah satu cara Indonesia mengejar ketertinggalan dengan negara lain,” ungkap Gunawan.

Apalagi, beberapa negara tetangga sudah mulai memanfaatkan cognitive computing sebagai competitive advantage. Bumrungrad Hospital di Thailand, misalnya, menggunakan cognitive computing untuk membantu dokter spesialis kanker (oncologist) dalam memberikan perawatan yang tepat bagi pasien kanker. Dengan menganalisis literatur medis mengenai kanker dari seluruh dunia, cognitive computing bisa memberikan saran kepada dokter mengenai perawatan terbaik bagi sang pasien.

Contoh lain adalah perusahaan akomodasi Starwood Hotels & Resorts yang terkenal dengan jaringan hotel Sheraton dan Westin. Mereka telah menggunakan machine learning pada Revenue Optimization System (ROS ) mereka atau sistem pengaturan harga kamar. Sistem ini mampu mempelajari aneka data dalam menentukan harga kamar secara real-time menggunakan berbagai data internal, seperti jumlah ketersediaan kamar, tingkat pemesanan, pembatalan, tipe kamar, dan harga kamar harian. ROS juga menganalisis data eksternal seperti harga hotel pesaing, cuaca di sekitar, dan acara-acara besar yang diselenggarakan di dekat lokasi hotel. Hasilnya, lebih dari 1.000 hotel milik Starwood bisa mengubah harga kamar setiap menitnya demi menentukan harga yang paling efisien untuk meningkatkan pemasukan dan keuntungan perusahaan.

Dua contoh di atas menunjukkan, cognitive computing mampu memberikan keunggulan unik bagi perusahaan. Peluangnya pun terbilang tak terbatas karena pemanfaatan cognitive computing bisa dilakukan untuk berbagai skenario. Perusahaan retail, misalnya, bisa memanfaatkan cognitive computing untuk memprediksi stok sebuah produk berdasarkan pola pembelian konsumen selama ini. Nelayan pun bisa memanfaatkan sistem pintar ini untuk memperkirakan area laut yang padat ikan berdasarkan data cuaca dan pola arus laut.

Pendek kata, semua kebutuhan bisnis bisa memanfaatkan machine learning. Namun karena prinsip dasar dari machine learning adalah “belajar”, tiap skenario membutuhkan data dan proses pembelajaran yang berbeda. Karena itulah Gunawan Susanto mengajak semua pihak di ekosistem IT Indonesia untuk memanfaatkan machine learning berdasarkan kebutuhan unik bangsa ini. “Jangan sampai kita cuma menikmati service [berbasis machine learning]-nya, namun player-nya dari negara lain,” ujar Gunawan.

Ingin mengetahui lebih jauh mengenai pemanfaatan machine learning di berbagai industri? Daftarkan diri Anda di alamat ini untuk mengikuti CTI IT Infrastructure Summit 2017. Akan ada pembicara dari Grab, Singtel, DBS, dan berbagai perusahaan lain yang akan membahas bagaimana mereka memanfaatkan machine learning.

Rachmat Gunawan (Direktur, CTI Group) dan Gunawan Susanto (Presiden Direktur, IBM Indonesia) dalam konferensi pers kick off CTI IT Infrastructure Summit 2017.

CTI Group kembali akan menggelar seminar dan pameran infrastruktur CTI IT Infrastructure Summit 2017 pada tanggal 8 Maret 2017 di Hotel Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta.

Penyelenggaraan kali ini telah memasuki tahun keempat dan akan mengangkat topik “Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business”. Harapannya, para peserta dapat memahami peran teknologi machine learning dalam membantu organisasi mengolah data dan informasi menjadi insight berharga demi pertumbuhan bisnis.

Mengapa machine learning dipilih oleh CTI Group sebagai tema besar tahun ini?

“Dengan begitu dahsyatnya pertumbuhan data di seluruh dunia, di mana sekitar 2,5 quintillion data digital tercipta per hari, bisnis tidak lagi mampu menganalisis data tersebut secara tradisional untuk memperoleh insight penting. Di sinilah kehadiran machine learning diperlukan untuk menganalisis data secara otomatis dan memprediksi masa depan untuk mendongkrak pemasukan,” jelas Rachmat Gunawan (Direktur, CTI Group) dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/2).

IDC mencatat 75% enterprise dan pengembang software akan menerapkan fungsi machine learning dengan tool analitik bisnis yang lengkap, minimal dalam satu aplikasi perusahaan. Sedangkan Gartner memperkirakan pada tahun 2018, lebih dari separuh perusahaan enterprise di dunia akan meningkatkan daya saing melalui implementasi advanced analytics dan algoritma yang nantinya mampu mendisrupsi seluruh industri.

Machine learning juga diprediksi akan mengalami peningkatan dalam sisi service market dari US$613,4 juta di 2016 menjadi US$3,755 juta pada 2021 dengan Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan (CAGR) sebesar 43,7%.

“IBM memiliki solusi pendekatan Cognitive yang mampu menganalisis, memberikan rekomendasi di seluruh industri. IBM Watson merupakan produk dari solusi Cognitive kami yang memiliki kemampuan untuk membuka data-data yang tidak teridentifikasi,” jelas Gunawan Susanto (Presiden Direktur, IBM Indonesia).

“Melalui CTI IT Infrastructure Summit 2017, kami ingin menjadi mitra industri dalam menerapkan teknologi cognitive computing untuk mendorong keberhasilan bisnis di era transformasi digital saat ini,” imbuh Rachmat.

Seleksi iCIO Awards 2017

Seperti tahun-tahun sebelumnya, CTI IT Infrastructure Summit 2017 bakal menghadirkan beragam solusi TI terkini dan sharing best practice, tidak hanya bagi profesional di bidang TI, tetapi juga pemasaran, keuangan, produksi, dan sektor lainnya dari lintas industri di Indonesia.

Pada acara ini, juga akan diumumkan para CIO dan IT leader yang memenangi penghargaan iCIO Awards 2017 sebagai “The Most Influential CIO”, “The Most Intelligent CIO”, dan “The Most Innovative CIO”.

Saat ini, sembilan CIO dari berbagai latar belakang industri, yakni keuangan, pemerintahan, e-commerce, edukasi, dan transportasi berhasil lolos dalam tahapan seleksi formulir aplikasi dan akan mengikuti tahap akhir dari proses pemilihan, yakni wawancara dan presentasi dengan Dewan Juri.

Dewan Juri iCIO Awards 2017 terdiri dari Hasnul Suhaimi (Executive & Business Coach, mantan CEO XL Axiata), Hendra Godjali (CEO, Ernst & Young), Prihadiyanto (Managing Director, Accenture Indonesia), Arif Budisusilo (Pemimpin Redaksi Harian Bisnis Indonesia), dan Richardus Eko Indrajit (Kepala Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer/APTIKOM).

“iCIO Community memberikan penghargaan setinggi-tingginya untuk para CIO yang telah mengikuti proses seleksi iCIO Awards 2017. Kami berharap mereka nantinya dapat menjadi role model bagi para praktisi TIK, khususnya para CIO lain, dalam mengatasi berbagai tantangan penerapan TIK di organisasinya serta memberikan kontribusi peningkatan kinerja bisnis dan membangun daya saing organisasi secara berkelanjutan.” ujar Harry Surjanto (Founder and Advisor, iCIO Community).

CTI IT Infrastructure Summit 2017 didukung oleh lembaga riset Gartner dan Grab Indonesia serta vendor-vendor TI terkemuka di dunia, seperti IBM, FireEye, Dell-EMC, Fujitsu, Hewlett-Packard Enterprise, Lenovo, F5, Hitachi Data Systems, Lexmark, Varonis, Data Spark, Samsung, Pure Storage, dan Progress Software.

Untuk registrasi atau mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai CTI IT Infrastructure Summit 2017, silakan kunjungi: www.itinfrastructuresummit.com.

Membedakan foto sepatu dan baju adalah sebuah pekerjaan yang sangat mudah dilakukan manusia. Namun bagaimana jika ada jutaan foto yang harus disortir?

Masalah seperti ini benar dialami oleh Lazada. Setiap produk yang dipampang di platform mereka harus diperiksa dan diverifikasi. “Apakah kualitas fotonya bagus? Apakah nama produknya akurat? Setelah itu, kami harus menempatkannya di kategori produk yang tepat,” cerita John Berns (SVP Head of Data Science, Lazada).

Awalnya, Lazada melakukan proses tersebut secara manual oleh manusia. Namun mengingat setiap tahun ada 30 juta foto yang harus diolah, proses manual tersebut menuntut waktu dan tenaga yang tak sedikit. Hal inilah yang mendorong Lazada untuk membangun sistem berbasis teknologi machine learning.

“Sistem ini bisa melihat gambar, menganalisis, lalu menaruhnya di kategori yang tepat,” kata Berns. Ketika dilakukan secara manual, proses verifikasi biasanya berlangsung 30 detik Namun ketika menggunakan sistem berbasis machine learning, waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 5-6 detik.

Akurasi sistem tersebut juga bisa diandalkan. “Sekitar 90% produk dapat diklasifikasikan berdasarkan machine learning, sementara sisanya masuk ke dalam suggestion untuk diproses secara manual,” tambah Berns.

Implementasi Luas

Machine learning sendiri adalah salah satu cabang ilmu komputer yang memiliki kemampuan belajar dari pola data, baik yang diberikan sebelumnya maupun data baru. Machine learning erat kaitannya dengan computational computing karena mengandalkan pola statistik dari data yang ia proses. Seperti contoh di atas, sistem machine learning Lazada bisa mengenali foto sebuah baju karena ia mengenali ciri-ciri baju dari jutaan foto baju yang telah ia proses.

Teknologi machine learning sebenarnya bukan hal yang baru. Pada tahun 1960, Joseph Weizenbaum membuat komputer bernama Eliza yang mengambil pendekatan machine learning. Namun implementasi machine learningmendapat momentumnya dalam beberapa tahun terakhir karena ekosistem yang mendukung. Contohnya peningkatan kecepatan komputasi yang bisa memproses data ukuran raksasa dengan lebih cepat. Selain itu, algoritma machine learning juga kian matang seiring kian seriusnya perusahaan teknologi raksasa, seperti Google, Microsoft, dan Amazon, dalam mengimplementasikan machine learning.

Perusahaan dari berbagai industri pun kini mulai melirik machine learning sebagai competitive advantage. Survei yang dilakukan MIT terhadap 168 perusahaan dengan pendapatan di atas US$500 juta menunjukkan, 76% responden telah menggunakan aplikasi berbasis machine learning untuk mengejar kenaikan pendapatan.

Sementara lembaga survei McKinsey menyebut, lebih dari selusin bank di Eropa telah mengganti sistem statistik yang biasa mereka gunakan dengan sistem baru berbasis machine learning. Hasilnya pun sangat positif. Bank yang telah menggunakan machine learning ini berhasil meningkatkan pendapatan 10% terhadap produk baru, serta penurunan churn (angka nasabah yang berhenti menggunakan jasa keuangan) sampai 20%.

Hal ini bisa dicapai karena sistem berbasia machine learning bisa memberikan rekomendasi yang lebih presisi dalam menawarkan produk baru maupun mendeteksi nasabah yang akan berhenti. Dalam konteks yang lebih luas, machine learning juga bisa digunakan untuk memprediksi potensi fraud, meningkatkan layanan masyarakat dan kesehatan, serta memperbaiki pola pelatihan olahraga.

Pendek kata, machine learning adalah tools yang akan membantu tiap perusahaan dalam meningkatkan kinerja mereka. Pertanyaan besarnya, apakah perusahaan Anda siap mengimplementasikannya?

Ingin tahu lebih banyak bagaimana machine learning bisa membantu perusahaan Anda?

Anda ingin tahu lebih banyak bagaimana machine learning bisa membantu perusahaan Anda? Anda bisa mengikuti CTI IT Infrastructure Summit yang akan diselenggarakan pada 8 Maret 2017. Pada acara yang bertajuk “Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business”, narasumber dari berbagai industri akan berbagi strategi mereka dalam mengimplementasikan machine learning.

Segera daftarkan diri Anda di http://www.itinfrastructuresummit.com/preregister mengingat tempat yang terbatas.

CTI

Rachmat Gunawan (Director CTI Group) sedang memberi penjelasan tentang CTI IT Infrastructure Summit 2016 didampingi oleh Suresh Nair (Managing Director Hitachi Data Systems Indonesia/HDS Indonesia) (Foto RW/InfoKomputer)

Dalam rangka mempercepat transformasi perusahaan dari tradisional ke digital, PT Computrade Technology International (CTI Group), penyedia solusi infrastruktur TI, akan kembali menggelar seminar dan pameran infrastruktur TI, yakni CTI IT Infrastructure Summit 2016, pada tanggal 3 Maret 2016 mendatang.

Bertempat di Hotel Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, CTI IT Infrastructure Summit 2016 merupakan acara yang digelar untuk ketiga kalinya. Acara yang mengambil tema “Digital Transformation: Digitizing Your Business to Discover New Market Opportunities” ini akan menghadirkan berbagai solusi TI terbaru serta sharing best practice untuk membantu perusahaan-perusahaan mempercepat transformasi bisnis dari ranah tradisional ke arah digital. CTI Group menyatakan bahwa acara ini juga ditujukan bagi petinggi perusahaan di luar divisi TI seperti CMO (chief management officer), CFO (chief financial officer), COO (chief operating officer) dan lainnya yang akan terlibat aktif dalam mewujudkan transformasi digital di perusahaan.

CTI IT Infrastructure Summit 2016 ini akan didukung oleh lembaga riset Gartner dan vendor-vendor TI seperti HDS Indonesia, IBM, Huawei, Double Take, Defenxor, Tableau, VMware, Dell, dan Redhat.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Capgemini, perusahaan yang melakukan transformasi digital mendapatkan peningkatan pendapatan sebesar 9%, 26% profit, dan 12% dalam penilaian pasar terhadap perusahaan yang bersangkutan. Gartner CIO Agenda Insights juga mencatat bahwa para CIO tahun ini akan menargetkan peningkatan pendapatan sebesar 37% melalui jalur digital dari angka 16% di tahun lalu. Karena itu, inisiatif digital nantinya tidak hanya datang dari CIO, namun dari seluruh fungsi bisnis yang turut menciptakan platform digital dan mempekerjakan digital native.

Menurut Rachmat Gunawan (Director CTI Group) digitalisasi bisnis telah menjadi faktor esensial di balik pertumbuhan bisnis. “IDC memprediksi 60% pemimpin perusahaan (CEO) di kawasan Asia Pasifik akan menempatkan transformasi digital sebagai strategi utama perusahaan pada 2017,” katanya.

Pria yang akrab disapa Pak Gun ini juga menyatakan bahwa pada era digital ini, perusahaan dituntut menjadi lebih kompetitif, mampu memberi pelayanan kepada pelanggan secara lebih baik, sekaligus meningkatkan profit. “Kami berharap CTI Group dapat menjadi mitra serta membantu perusahaan mengakselerasi ‘digital journey’ mereka. CTI IT Infrastructure Summit 2016 akan menghadirkan solusi teknologi terkini dan best practice yang bisa menjadi referensi tepat para profesional bisnis dan TI dalam melakukan transformasi digital secara lebih baik dan komprehensif,” ujarnya lagi.

Dalam penjelasannya lebih jauh kepada para jurnalis pada acara konferensi pers hari ini (9/2) di Jakarta, Rachmat Gunawan menyatakan bahwa melalui seminar ini CTI Group ingin memberi informasi apa yang terjadi di dunia TI saat ini. Sekaligus juga, akan dipaparkan apa saja hambatan dan tantangan dalam dunia TI yang akan dihadapi perusahaan dalam era digital. “Karena itu, CMO juga akan kami undang. Tentunya mereka ingin melihat market share serta ingin melihat experience pengguna terhadap solusi dan produknya,” ujar Rachmat Gunawan. Rachmat juga menjelaskan bahwa dalam acara ini nantinya akan ditampilkan pula CTI Technology Center. Di sini, akan ditampilkan end to end solution yang dimiliki CTI Group, antara lain solusi big data analytic dan digital marketing.

Sementara Suresh Nair (Managing Director Hitachi Data Systems Indonesia, HDS Indonesia) dalam sambutannya menyatakan bahwa selain faktor people, kesuksesan transformasi digital terletak pada teknologi digital itu sendiri yaitu bagaimana mengintegrasikan teknologi social, mobile, data analytics dan cloud menjadi sebuah layanan yang mengubah proses bisnis maupun cara kerja. “Kami menyadari kebutuhan tersebut dan terus melakukan inovasi pada solusi dan layanan TI yang kami hadirkan. Hitachi Data Systems tengah fokus membantu para end-consumer meningkatkan kepuasan pelanggan mereka melalui teknologi analitik yang mengolah data digital untuk membantu manajemen mendapatkan wawasan bisnis dan meningkatkan layanan. Kami juga siap mendukung implementasi smart city di Indonesia melalui solusi Inovasi Sosial,” ujar Suresh.

Berminat mengikuti acara ini? Jika ya, silakan kunjungi www.itinfrastructuresummit.com

TERBARU

Dengan memanfaatkan machine learning, sebuah bank bisa lebih efisien sekaligus memberikan layanan optimal bagi nasabahnya. Kesimpulan itulah yang bisa ditarik dari pengalaman Bank DBS yang saat ini mulai memanfaatkan machine learning.