Tags Posts tagged with "CTI Summit 2017"

CTI Summit 2017

Ilustrasi machine learning. [kredit: Shutterstock]

Kurang dari sebulan, ajang tahunan CTI IT Infrastructure Summit 2017 akan digelar. Untuk tahun ini, ajang prestisius tersebut akan mengangkat tema Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business.

Machine learning sendiri adalah salah satu cabang computer science yang memungkinkan komputer menganalisa data tanpa harus dipogram secara spesifik. Hal ini berbeda dengan aplikasi pada umumnya yang harus secara detail memperhitungkan segala kemungkinan. Aplikasi berbasis machine learning memungkinan komputer mempelajari pola dari semua data yang ia miliki, untuk kemudian memberikan insight yang bisa membantu kita mengambil keputusan.

Dalam konteks yang lebih luas, machine learning adalah bagian dari konsep Artificial Intelligence dan cognitive computing yang kini dikembangkan banyak perusahaan teknologi dunia.

Ada alasan tersendiri mengapa CTI IT Infrastructure Summit 2017 mengambil tema machine learning. Dalam beberapa tahun terakhir, machine learning telah menjadi bagian penting dari akselerasi perusahaan dunia. Perusahaan seperti Amazon, SoftBank, atau PayPal adalah beberapa contoh perusahaan yang telah memanfaatkan machine learning.

Akan tetapi, machine learning, AI, dan cognitive computing memang belum terlalu populer di dunia IT Indonesia. Hal ini diakui Gunawan Susanto (President Director, IBM Indonesia) yang menjadi salah satu pendukung acara CTI Infrastructure Summit 2017. “Cognitive computing adalah salah satu cara Indonesia mengejar ketertinggalan dengan negara lain,” ungkap Gunawan.

Apalagi, beberapa negara tetangga sudah mulai memanfaatkan cognitive computing sebagai competitive advantage. Bumrungrad Hospital di Thailand, misalnya, menggunakan cognitive computing untuk membantu dokter spesialis kanker (oncologist) dalam memberikan perawatan yang tepat bagi pasien kanker. Dengan menganalisis literatur medis mengenai kanker dari seluruh dunia, cognitive computing bisa memberikan saran kepada dokter mengenai perawatan terbaik bagi sang pasien.

Contoh lain adalah perusahaan akomodasi Starwood Hotels & Resorts yang terkenal dengan jaringan hotel Sheraton dan Westin. Mereka telah menggunakan machine learning pada Revenue Optimization System (ROS ) mereka atau sistem pengaturan harga kamar. Sistem ini mampu mempelajari aneka data dalam menentukan harga kamar secara real-time menggunakan berbagai data internal, seperti jumlah ketersediaan kamar, tingkat pemesanan, pembatalan, tipe kamar, dan harga kamar harian. ROS juga menganalisis data eksternal seperti harga hotel pesaing, cuaca di sekitar, dan acara-acara besar yang diselenggarakan di dekat lokasi hotel. Hasilnya, lebih dari 1.000 hotel milik Starwood bisa mengubah harga kamar setiap menitnya demi menentukan harga yang paling efisien untuk meningkatkan pemasukan dan keuntungan perusahaan.

Dua contoh di atas menunjukkan, cognitive computing mampu memberikan keunggulan unik bagi perusahaan. Peluangnya pun terbilang tak terbatas karena pemanfaatan cognitive computing bisa dilakukan untuk berbagai skenario. Perusahaan retail, misalnya, bisa memanfaatkan cognitive computing untuk memprediksi stok sebuah produk berdasarkan pola pembelian konsumen selama ini. Nelayan pun bisa memanfaatkan sistem pintar ini untuk memperkirakan area laut yang padat ikan berdasarkan data cuaca dan pola arus laut.

Pendek kata, semua kebutuhan bisnis bisa memanfaatkan machine learning. Namun karena prinsip dasar dari machine learning adalah “belajar”, tiap skenario membutuhkan data dan proses pembelajaran yang berbeda. Karena itulah Gunawan Susanto mengajak semua pihak di ekosistem IT Indonesia untuk memanfaatkan machine learning berdasarkan kebutuhan unik bangsa ini. “Jangan sampai kita cuma menikmati service [berbasis machine learning]-nya, namun player-nya dari negara lain,” ujar Gunawan.

Ingin mengetahui lebih jauh mengenai pemanfaatan machine learning di berbagai industri? Daftarkan diri Anda di alamat ini untuk mengikuti CTI IT Infrastructure Summit 2017. Akan ada pembicara dari Grab, Singtel, DBS, dan berbagai perusahaan lain yang akan membahas bagaimana mereka memanfaatkan machine learning.

Rachmat Gunawan (Direktur, CTI Group) dan Gunawan Susanto (Presiden Direktur, IBM Indonesia) dalam konferensi pers kick off CTI IT Infrastructure Summit 2017.

CTI Group kembali akan menggelar seminar dan pameran infrastruktur CTI IT Infrastructure Summit 2017 pada tanggal 8 Maret 2017 di Hotel Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta.

Penyelenggaraan kali ini telah memasuki tahun keempat dan akan mengangkat topik “Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business”. Harapannya, para peserta dapat memahami peran teknologi machine learning dalam membantu organisasi mengolah data dan informasi menjadi insight berharga demi pertumbuhan bisnis.

Mengapa machine learning dipilih oleh CTI Group sebagai tema besar tahun ini?

“Dengan begitu dahsyatnya pertumbuhan data di seluruh dunia, di mana sekitar 2,5 quintillion data digital tercipta per hari, bisnis tidak lagi mampu menganalisis data tersebut secara tradisional untuk memperoleh insight penting. Di sinilah kehadiran machine learning diperlukan untuk menganalisis data secara otomatis dan memprediksi masa depan untuk mendongkrak pemasukan,” jelas Rachmat Gunawan (Direktur, CTI Group) dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/2).

IDC mencatat 75% enterprise dan pengembang software akan menerapkan fungsi machine learning dengan tool analitik bisnis yang lengkap, minimal dalam satu aplikasi perusahaan. Sedangkan Gartner memperkirakan pada tahun 2018, lebih dari separuh perusahaan enterprise di dunia akan meningkatkan daya saing melalui implementasi advanced analytics dan algoritma yang nantinya mampu mendisrupsi seluruh industri.

Machine learning juga diprediksi akan mengalami peningkatan dalam sisi service market dari US$613,4 juta di 2016 menjadi US$3,755 juta pada 2021 dengan Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan (CAGR) sebesar 43,7%.

“IBM memiliki solusi pendekatan Cognitive yang mampu menganalisis, memberikan rekomendasi di seluruh industri. IBM Watson merupakan produk dari solusi Cognitive kami yang memiliki kemampuan untuk membuka data-data yang tidak teridentifikasi,” jelas Gunawan Susanto (Presiden Direktur, IBM Indonesia).

“Melalui CTI IT Infrastructure Summit 2017, kami ingin menjadi mitra industri dalam menerapkan teknologi cognitive computing untuk mendorong keberhasilan bisnis di era transformasi digital saat ini,” imbuh Rachmat.

Seleksi iCIO Awards 2017

Seperti tahun-tahun sebelumnya, CTI IT Infrastructure Summit 2017 bakal menghadirkan beragam solusi TI terkini dan sharing best practice, tidak hanya bagi profesional di bidang TI, tetapi juga pemasaran, keuangan, produksi, dan sektor lainnya dari lintas industri di Indonesia.

Pada acara ini, juga akan diumumkan para CIO dan IT leader yang memenangi penghargaan iCIO Awards 2017 sebagai “The Most Influential CIO”, “The Most Intelligent CIO”, dan “The Most Innovative CIO”.

Saat ini, sembilan CIO dari berbagai latar belakang industri, yakni keuangan, pemerintahan, e-commerce, edukasi, dan transportasi berhasil lolos dalam tahapan seleksi formulir aplikasi dan akan mengikuti tahap akhir dari proses pemilihan, yakni wawancara dan presentasi dengan Dewan Juri.

Dewan Juri iCIO Awards 2017 terdiri dari Hasnul Suhaimi (Executive & Business Coach, mantan CEO XL Axiata), Hendra Godjali (CEO, Ernst & Young), Prihadiyanto (Managing Director, Accenture Indonesia), Arif Budisusilo (Pemimpin Redaksi Harian Bisnis Indonesia), dan Richardus Eko Indrajit (Kepala Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer/APTIKOM).

“iCIO Community memberikan penghargaan setinggi-tingginya untuk para CIO yang telah mengikuti proses seleksi iCIO Awards 2017. Kami berharap mereka nantinya dapat menjadi role model bagi para praktisi TIK, khususnya para CIO lain, dalam mengatasi berbagai tantangan penerapan TIK di organisasinya serta memberikan kontribusi peningkatan kinerja bisnis dan membangun daya saing organisasi secara berkelanjutan.” ujar Harry Surjanto (Founder and Advisor, iCIO Community).

CTI IT Infrastructure Summit 2017 didukung oleh lembaga riset Gartner dan Grab Indonesia serta vendor-vendor TI terkemuka di dunia, seperti IBM, FireEye, Dell-EMC, Fujitsu, Hewlett-Packard Enterprise, Lenovo, F5, Hitachi Data Systems, Lexmark, Varonis, Data Spark, Samsung, Pure Storage, dan Progress Software.

Untuk registrasi atau mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai CTI IT Infrastructure Summit 2017, silakan kunjungi: www.itinfrastructuresummit.com.

Bunga apa yang pantas diberikan bagi istri yang akan berulang tahun esok hari? Bagi banyak suami, pertanyaan itu mungkin hanya bisa dijawab dengan tatapan kosong dan wajah bingung. Namun jangan khawatir, ada Gwyn yang siap membantu.

Cukup mengunjungi alamat https://www.1800flowers.com/gwyn-1800flowers, Anda bisa berkonsultasi dengan Gwyn. Dia akan menanyakan warna kesukaan sang istri, jenis bunga yang disukai, dan setelah itu memberikan rekomendasi bunga apa yang bisa diberikan kepada sang istri. Kedengarannya memang simpel, namun ada teknologi yang menarik di balik itu.

Gwyn (yang sebenarnya merupakan singkatan dari Gift When You Need) adalah asisten berbasis artificial intelligence (AI). Fungsi Gwyn adalah mengetahui keinginan konsumen untuk kemudian menyajikan bunga yang tepat dari koleksi 16 perusahaan bunga di bawah 1-800-Flowers.com. “Kami menciptakan Gwyn sebagai bagian dari usaha kami meningkatkan customer experience,” ungkap Chris McCann, President 1-800-Flowers.com.

Sebagai “asisten” yang bertugas mengulik keinginan konsumen, tugas Gwyn tentu saja tidak mudah. Gwyn harus bisa mengetahui keinginan konsumen berdasarkan medium chatting yang menggunakan natural language manusia. Artinya, Gwyn tidak bisa diprogram menggunakan algoritma standar. Gwyn harus menggunakan pendekatan machine learning yang bisa mengintepretasikan natural language tersebut menjadi bahasa yang dimengerti mesin.

Untuk menciptakan Gwyn ini, 1-800-Flowers.com menggunakan solusi IBM Watson Engagement Advisor (WEA). Tidak cuma memahami bahasa manusia, IBM WEA juga membantu Gwyn menemukan konteks berdasarkan berbagai data. Contohnya history data konsumen selama ini, kesukaan mereka, dan juga momen yang sesuai dengan waktu permintaan (seperti menyediakan bunga warna pink menjelang Hari Valentine).

Sedangkan untuk di sisi backend, Gwyn juga memanfaatkan IBM Watson Explorer (WEX) untuk memindai seluruh inventori. Dengan begitu, Gwyn bisa memberikan rekomendasi bunga yang memang tersedia di inventori 1-800-Flowers.com.

Gwyn merupakan contoh bagaimana teknologi machine learning bisa digunakan untuk mempelajari berbagai data dan informasi, dari bentuk numerik yang dipahami mesin sampai bahasa manusia yang mesti diinterpretasikan lebih lanjut. Berdasarkan pemahaman ini, Gwyn bisa secara cerdas mengumpulkan dan menganalisis data, lalu merekomendasikan bunga yang sesuai selera dan kebutuhan konsumen dengan AI.

Cerita soal Gwyn di atas adalah satu dari kian banyaknya contoh implementasi AI di industri retail. Contoh lainnya adalah perusahaan outdoor apparel North Face yang juga memanfaatkan AI untuk membantu konsumen memilih produk yang tepat.

Implementasi AI pun tidak cuma di sisi pengguna. IBM Watson memiliki fitur Order Optimizer yang akan memberikan saran terkait strategi inventori toko retail. Saran itu diberikan setelah menganalisa pola pembelian konsumen, tingkat laku sebuah produk, sampai kondisi cuaca yang mempengaruhi pembelian sebuah produk.

Implementasi AI juga bisa digunakan untuk menyediakan produk yang personal dan menjawab kebutuhan tiap konsumen. Dengan menganalisis social profile, preferensi personal, sampai tren yang ada saat ini, industri retail bisa memberikan produk yang sesuai berbasis individu. Dengan begitu, setiap konsumen merasa kebutuhannya terpenuhi dan mendapat sentuhan personal dari toko retail tersebut.

Pendek kata, AI dan machine learning akan mentransformasi industri retail dalam skala yang luar biasa.

Artificial Intelligence untuk Semua

Penerapan AI dan machine learning sebenarnya tidak cuma untuk industri retail. Semua industri bisa menjadikan AI sebagai competitive advantage.

Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana AI bisa mentransformasi industri perbankan, telekomunikasi, sampai e-commerce, Anda bisa mengikuti acara CTI IT Infrastructure Summit 2017. Pada acara bertajuk “Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business”, Anda bisa belajar dari perusahaan yang telah berhasil memanfaatkan machine learning.

Segera daftarkan diri Anda di www.itinfrastructuresummit.com mengingat tempat yang terbatas.

Membedakan foto sepatu dan baju adalah sebuah pekerjaan yang sangat mudah dilakukan manusia. Namun bagaimana jika ada jutaan foto yang harus disortir?

Masalah seperti ini benar dialami oleh Lazada. Setiap produk yang dipampang di platform mereka harus diperiksa dan diverifikasi. “Apakah kualitas fotonya bagus? Apakah nama produknya akurat? Setelah itu, kami harus menempatkannya di kategori produk yang tepat,” cerita John Berns (SVP Head of Data Science, Lazada).

Awalnya, Lazada melakukan proses tersebut secara manual oleh manusia. Namun mengingat setiap tahun ada 30 juta foto yang harus diolah, proses manual tersebut menuntut waktu dan tenaga yang tak sedikit. Hal inilah yang mendorong Lazada untuk membangun sistem berbasis teknologi machine learning.

“Sistem ini bisa melihat gambar, menganalisis, lalu menaruhnya di kategori yang tepat,” kata Berns. Ketika dilakukan secara manual, proses verifikasi biasanya berlangsung 30 detik Namun ketika menggunakan sistem berbasis machine learning, waktu yang dibutuhkan hanya sekitar 5-6 detik.

Akurasi sistem tersebut juga bisa diandalkan. “Sekitar 90% produk dapat diklasifikasikan berdasarkan machine learning, sementara sisanya masuk ke dalam suggestion untuk diproses secara manual,” tambah Berns.

Implementasi Luas

Machine learning sendiri adalah salah satu cabang ilmu komputer yang memiliki kemampuan belajar dari pola data, baik yang diberikan sebelumnya maupun data baru. Machine learning erat kaitannya dengan computational computing karena mengandalkan pola statistik dari data yang ia proses. Seperti contoh di atas, sistem machine learning Lazada bisa mengenali foto sebuah baju karena ia mengenali ciri-ciri baju dari jutaan foto baju yang telah ia proses.

Teknologi machine learning sebenarnya bukan hal yang baru. Pada tahun 1960, Joseph Weizenbaum membuat komputer bernama Eliza yang mengambil pendekatan machine learning. Namun implementasi machine learningmendapat momentumnya dalam beberapa tahun terakhir karena ekosistem yang mendukung. Contohnya peningkatan kecepatan komputasi yang bisa memproses data ukuran raksasa dengan lebih cepat. Selain itu, algoritma machine learning juga kian matang seiring kian seriusnya perusahaan teknologi raksasa, seperti Google, Microsoft, dan Amazon, dalam mengimplementasikan machine learning.

Perusahaan dari berbagai industri pun kini mulai melirik machine learning sebagai competitive advantage. Survei yang dilakukan MIT terhadap 168 perusahaan dengan pendapatan di atas US$500 juta menunjukkan, 76% responden telah menggunakan aplikasi berbasis machine learning untuk mengejar kenaikan pendapatan.

Sementara lembaga survei McKinsey menyebut, lebih dari selusin bank di Eropa telah mengganti sistem statistik yang biasa mereka gunakan dengan sistem baru berbasis machine learning. Hasilnya pun sangat positif. Bank yang telah menggunakan machine learning ini berhasil meningkatkan pendapatan 10% terhadap produk baru, serta penurunan churn (angka nasabah yang berhenti menggunakan jasa keuangan) sampai 20%.

Hal ini bisa dicapai karena sistem berbasia machine learning bisa memberikan rekomendasi yang lebih presisi dalam menawarkan produk baru maupun mendeteksi nasabah yang akan berhenti. Dalam konteks yang lebih luas, machine learning juga bisa digunakan untuk memprediksi potensi fraud, meningkatkan layanan masyarakat dan kesehatan, serta memperbaiki pola pelatihan olahraga.

Pendek kata, machine learning adalah tools yang akan membantu tiap perusahaan dalam meningkatkan kinerja mereka. Pertanyaan besarnya, apakah perusahaan Anda siap mengimplementasikannya?

Ingin tahu lebih banyak bagaimana machine learning bisa membantu perusahaan Anda?

Anda ingin tahu lebih banyak bagaimana machine learning bisa membantu perusahaan Anda? Anda bisa mengikuti CTI IT Infrastructure Summit yang akan diselenggarakan pada 8 Maret 2017. Pada acara yang bertajuk “Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business”, narasumber dari berbagai industri akan berbagi strategi mereka dalam mengimplementasikan machine learning.

Segera daftarkan diri Anda di http://www.itinfrastructuresummit.com/preregister mengingat tempat yang terbatas.