Tags Posts tagged with "IBM"

IBM

Ilustrasi IBM Watson

IBM Watson adalah machine learning tercerdas yang ada di pasar saat ini. Terbukti IBM Watson bisa memenangi kompetisi pengetahuan umum Jeopardy, main catur, bahkan menentukan pengobatan penderita kanker di Thailand.

Namun, Louis Richardson (IBM Watson Chief Storyteller) mengatakan bahwa IBM Watson tidak akan mampu mengalahkan kecerdasan manusia secara keseluruhan, mengingat IBM Watson hanya mendukung manusia dalam berbagai bidang.

“Watson memang memiliki kemampuan memahami data dan dapat lebih cerdas dibandingkan satu manusia. Tapi, Watson tidak akan pernah bisa mengalahkan kecerdasan umat manusia secara keseluruhan,” katanya di Jakarta.

Richardson mengatakan kehadiran Watson membantu manusia melakukan banyak hal dan memungkinkan penggunanya untuk bekerja lebih cerdas. Tetapi, kecerdasan Watson hanya sebatas menghadirkan informasi untuk mendukung proses pengambilan keputusan.

“Watson akan membantu manusia untuk mengeksplorasi data lebih jauh dan menemukan solusi terbaik untuk setiap permasalahan. Watson hanya membantu mempersingkat proses pengambilan keputusan tetapi tidak mungkin Watson bertindak sebagai pengambil keputusan,” ujarnya.

Karena itu, IBM Watson tidak bisa berdiri sendiri dan tetap membutuhkan bantuan serta kecerdasan manusia untuk memahami dan mempelajari data.

IBM Watson sendiri mengusung Cognitive Computing (CC) yang merupakan platform teknologi yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu seperti machine learning, natural language processing (NLP), speech and image recognition, dan sebagainya.

Cognitive computing adalah cara memindahkan kemampuan kognitif manusia ke dalam komputer sehingga komputer dapat berpikir lebih cepat dan mendekati cara berpikir manusia. IBM telah memelopori hal ini dengan menghadirkan IBM Watson.

IBM Watson

Penyebaran berita hoax alias palsu memang sangat meresahkan warga dan bisa menyulutkan api permusuhan. Media jejaring sosial Facebook dan Twitter dkk pun menyiapkan strategi khusus berupa tools untuk mengatasai berita hoax di media jejaring sosialnya.

Ternyata, teknologi machine learning IBM Watson bisa mengenali dan memberantas berita hoax yang menyebar di media sosial. Bahkan, ada salah institusi pemerintah yang telah menggunakan IBM Watson untuk menganalisa dan mengenali isu-isu SARA termasuk berita hoax yang menyebar di media sosial.

Novan Adian (Country Manager Hardware IBM Indonesia) mengatakan IBM Watson memiliki prospek yang besar di Indonesia IBM Watson memiliki banyak kemampuan dan memiliki kecerdasan yang luar biasa. IBM Watson bisa digunakan untuk bidang kesehatan, finansial dan industri lainnya.

“Saat ini ada dua perusahaan di Indonesia yang sudah menggunakan IBM Watson. Yang satu perusahaan swasta yang menggunakan IBM Watson untuk bidang finansial. Satu lagi, instansi pemerintah yang menggunakan IBM Watson untuk menganalisa isu-isu yang menyebar di media dan media sosial termasuk isu SARA dan berita Hoax,” katanya di Jakarta.

Sayangnya, Novan tidak ingin menyebutkan nama perusahaan dan instansi yang telah menggunakan IBM Watson di Indonesia karena masalah kerahasiaan. Nantinya, instansi pemerintah itu akan cepat mengambil keputusan dan menangkis penyebaran berita Hoax itu di Indonesia.

Meskipun pintar dan canggih, tidak serta merta membuat IBM Watson bisa diterima begitu saja di Indonesia. Novan mengatakan tidak semua perusahaan ingin membagi data-datanya kepada IBM Watson.

“Apakah semua perusahaan ingin men-share datanya ke IBM Watson?. Tidak semuakan,” ucapnya.

Sebelum menjalankan tugasnya, perusahaan atau instansi harus mengajarkan atau menginput data-data kepada IBM Watson terlebih dahulu.

IBM Watson sendiri mengusung Cognitive computing (CC) yang merupakan platform teknologi yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu seperti machine learning, natural language processing (NLP), speech and image recognition, dan sebagainya.

Cognitive computing adalah bagaimana manusia memindahkan kemampuan kognitif manusia ke dalam komputer sehingga komputer dapat berpikir lebih cepat dan mendekati cara berpikir manusia. IBM telah mempelopori hal ini dengan menghadirkan IBM Watson.

Cognitive computing memiliki empat kemampuan utama yaitu pemahaman, pembentukan hipotesis, kemampuan belajar dan komunikasi dengan manusia.

“Di masa depan, setiap keputusan manusia akan dibuat berdasarkan informasi dari sistem kognitif seperti Watson, dan kehidupan kita akan jadi lebih baik karenanya,” ucapnya.

“Cognitive system dapat memicu bentuk kerja sama baru antara manusia dan mesin,” kata Shanker V. Selvadurai (CTO, Software and Cognitive Solutions, IBM Asia Pacific) di panggung CTI IT Infrastructure Summit 2017.

Salah satu penyedia solusi machine learning terkemuka di dunia adalah IBM yang dikenal melalui “mesin pintar” Watson. Keunggulan IBM Watson sebagai cognitive system—istilah IBM untuk machine learning—terletak pada tiga kemampuan utama: understanding, reasoning, dan learning.

Cognitive system dapat memicu bentuk kerja sama baru antara manusia dan mesin,” kata Shanker V. Selvadurai (CTO, Software and Cognitive Solutions, IBM Asia Pacific). Kerja sama ini diharapkan mampu memadukan karakteristik-karakteristik positif yang dimiliki setiap unsur. Sifat manusiawi seperti akal sehat, moral, imajinasi, welas asih, dan sebagainya, digabungkan dengan sifat khas mesin seperti pemahaman pola, natural language, ketidakberpihakan, dan kapasitas yang tak terbatas.

Shanker mengklaim bahwa IBM Watson telah digunakan di 25 negara oleh 20 jenis industri serta akan segera menyentuh 1 miliar pengguna dalam 9 bahasa berbeda.

Ia mencontohkan tiga studi kasus utama dari IBM Watson. Salah satunya yang bisa dimanfaatkan di Indonesia yaitu expertise at scale, terutama di bidang kesehatan. Watson dapat membantu mendiagnosis gejala penyakit-penyakit kritis, misalnya stroke, diabetes, dan serangan jantung. Walhasil, pemerintah bisa memasang komputer berbasis Watson di pusat layanan kesehatan daerah, alih-alih mengirim ratusan dokter ke daerah-daerah terpencil.

Studi kasus kedua yaitu personalize at scale. Contoh penggunaan di institusi pendidikan, Watson bisa menyesuaikan materi ajar sesuai dengan gaya belajar, kemampuan, dan data akademis setiap siswa. Contoh ini juga bisa dipakai di industri perbankan, telekomunikasi, dan pemerintahan.

Studi kasus terakhir adalah discover at scale, misalnya di industri kreatif. Shanker memberi contoh seorang musisi asal Amerika Serikat, Alex da Kid, yang membuat lagu berdasarkan hasil analisis Watson terhadap lagu-lagu terpopuler di tangga lagu Billboard. Alex pun dapat mengetahui komposisi musik dan lirik seperti apa yang paling disukai oleh masyarakat.

Penting dalam Era Bisnis Digital

Machine learning adalah topik utama dalam CTI IT Infrastructure Summit 2017, konferensi dan pameran teknologi tahunan dari CTI Group yang sudah digelar keempat kalinya.

Selain menghadirkan pembicara utama dari Gartner dan IBM, acara ini juga diikuti oleh Herry Abdul Aziz (Penasihat Ahli Menkominfo RI), Leonardo Koesmanto (Head of Digital Banking, Bank DBS Indonesia), Ridzki Kramadibrata (Managing Director, Grab Indonesia), dan Ying Shao Wei (COO DataSpark, part of Singtel Group).

Dalam acara ini, CTI Group juga menganugerahkan penghargaan iCIO Awards 2017 kepada tiga pemenang, yaitu Iwan Djuniardi (Direktur Transformasi Teknologi Informasi dan Komunikasi, Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan RI) selaku The Most Innovative CIO, Rita Mas’oen (Direktur Operasional & Teknologi Informasi, PT Bank CIMB Niaga Tbk.) selaku The Most Influential CIO, dan Kharim Indra Gupta Siregar (Direktur Teknologi Informasi, PT BTPN) selaku The Most Intelligent CIO.

Harry Surjanto (President Director, CTI Group) di panggung CTI IT Infrastructure Summit 2017.

“Di era bisnis berbasis digital sekarang ini, machine learning sudah diakui perannya untuk membantu mengoptimalkan pemasukan, mempelajari kebutuhan konsumen, dan meningkatkan kinerja penjualan,” tutur Harry Surjanto (President Director, CTI Group).

CTI Group pun menawarkan berbagai solusi menyeluruh, mulai infrastruktur, solusi, aplikasi, sampai jasa konsultasi, dari vendor-vendor TI terkemuka di dunia, seperti IBM, FireEye, Dell-EMC, Fujitsu, Hewlett Packard Enterprise, F5, Hitachi Data Systems, Lexmark, Varonis, DataSpark, dan Samsung.

Asisten Suara IBM Havyn yang Berbasis IBM Watson

IBM telah menguji perangkat kecerdasan buatan Watson untuk keamanan siber. Beberapa tahun terakhir, Watson telah mempelajari satu juta dokumen keamanan. Nantinya, analis keamanan bisa menggunakan Watson untuk menguji dan menilai ribuan penelitian bahasa alami

Menurut IBM, ada 200 ribuan pergantian petugas keamanan setiap harinya dengan menyebab 20 ribu jam terbuang sia-sia dan angka itu akan terus bertambah di masa depan.  Karena itu, perusahaan atau instansi membutuhkan sebuah teknologi yang dapat mempercepat proses deteksi.

Watson for Cyber Security akan mengintegrasikan platform SOC Cognitive IBM yang merupakan pusat dari IBM QRadar Advisor.

Nantinya, IBM Watson dapat merespon berbagai ancaman endpoints, jaringan, pengguna dan komputas awan. Sebanyak 40 pelanggan siap menggunakan aplikasi terbaru tersebut termasuk Avnet, Universitas New Brunswick dan Sopra Steria.

“Saat ancaman dan serangan keamanan siber sangat luar biasa dan beragam. Analis keamanan kami menemukan kesulitan untuk melawan ancaman tersebut di antara lautan data,” kata Sean Valcamp (Chief Information Security Officer Avnet) seperti dikutip AccesAI.

“Watson membuat serangan siber itu sulit bergerak dan bersembunyi dengan langsung menganalisa lautan data dan menyerangkan dengan sistem kecerdasan keamanan terbaru. Watson juga akan menganalisa serangan siber dalam hitungan menit dam kecepatan tinggi,” ucapnya.

IBM juga telah meluncurkan Havyn, asisten keamanan berbasis suara yang mendukung teknologi percakapan Watson. Nantinya, Watson dapat menjawab bahasa alami dan perintah analis keamanan secara verbal.

Havyn mengusung Watson APIs, BlueMix dan IBM Cloud untuk menjawab permintaan dan perintah secara verbal. Misal, Havyn bisa memberikan ancaman siber terbaru kepada pengamat keamanan dan memberikan rekomendasi cara mengatasinya.

Ilustrasi machine learning. [kredit: Shutterstock]

Kurang dari sebulan, ajang tahunan CTI IT Infrastructure Summit 2017 akan digelar. Untuk tahun ini, ajang prestisius tersebut akan mengangkat tema Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business.

Machine learning sendiri adalah salah satu cabang computer science yang memungkinkan komputer menganalisa data tanpa harus dipogram secara spesifik. Hal ini berbeda dengan aplikasi pada umumnya yang harus secara detail memperhitungkan segala kemungkinan. Aplikasi berbasis machine learning memungkinan komputer mempelajari pola dari semua data yang ia miliki, untuk kemudian memberikan insight yang bisa membantu kita mengambil keputusan.

Dalam konteks yang lebih luas, machine learning adalah bagian dari konsep Artificial Intelligence dan cognitive computing yang kini dikembangkan banyak perusahaan teknologi dunia.

Ada alasan tersendiri mengapa CTI IT Infrastructure Summit 2017 mengambil tema machine learning. Dalam beberapa tahun terakhir, machine learning telah menjadi bagian penting dari akselerasi perusahaan dunia. Perusahaan seperti Amazon, SoftBank, atau PayPal adalah beberapa contoh perusahaan yang telah memanfaatkan machine learning.

Akan tetapi, machine learning, AI, dan cognitive computing memang belum terlalu populer di dunia IT Indonesia. Hal ini diakui Gunawan Susanto (President Director, IBM Indonesia) yang menjadi salah satu pendukung acara CTI Infrastructure Summit 2017. “Cognitive computing adalah salah satu cara Indonesia mengejar ketertinggalan dengan negara lain,” ungkap Gunawan.

Apalagi, beberapa negara tetangga sudah mulai memanfaatkan cognitive computing sebagai competitive advantage. Bumrungrad Hospital di Thailand, misalnya, menggunakan cognitive computing untuk membantu dokter spesialis kanker (oncologist) dalam memberikan perawatan yang tepat bagi pasien kanker. Dengan menganalisis literatur medis mengenai kanker dari seluruh dunia, cognitive computing bisa memberikan saran kepada dokter mengenai perawatan terbaik bagi sang pasien.

Contoh lain adalah perusahaan akomodasi Starwood Hotels & Resorts yang terkenal dengan jaringan hotel Sheraton dan Westin. Mereka telah menggunakan machine learning pada Revenue Optimization System (ROS ) mereka atau sistem pengaturan harga kamar. Sistem ini mampu mempelajari aneka data dalam menentukan harga kamar secara real-time menggunakan berbagai data internal, seperti jumlah ketersediaan kamar, tingkat pemesanan, pembatalan, tipe kamar, dan harga kamar harian. ROS juga menganalisis data eksternal seperti harga hotel pesaing, cuaca di sekitar, dan acara-acara besar yang diselenggarakan di dekat lokasi hotel. Hasilnya, lebih dari 1.000 hotel milik Starwood bisa mengubah harga kamar setiap menitnya demi menentukan harga yang paling efisien untuk meningkatkan pemasukan dan keuntungan perusahaan.

Dua contoh di atas menunjukkan, cognitive computing mampu memberikan keunggulan unik bagi perusahaan. Peluangnya pun terbilang tak terbatas karena pemanfaatan cognitive computing bisa dilakukan untuk berbagai skenario. Perusahaan retail, misalnya, bisa memanfaatkan cognitive computing untuk memprediksi stok sebuah produk berdasarkan pola pembelian konsumen selama ini. Nelayan pun bisa memanfaatkan sistem pintar ini untuk memperkirakan area laut yang padat ikan berdasarkan data cuaca dan pola arus laut.

Pendek kata, semua kebutuhan bisnis bisa memanfaatkan machine learning. Namun karena prinsip dasar dari machine learning adalah “belajar”, tiap skenario membutuhkan data dan proses pembelajaran yang berbeda. Karena itulah Gunawan Susanto mengajak semua pihak di ekosistem IT Indonesia untuk memanfaatkan machine learning berdasarkan kebutuhan unik bangsa ini. “Jangan sampai kita cuma menikmati service [berbasis machine learning]-nya, namun player-nya dari negara lain,” ujar Gunawan.

Ingin mengetahui lebih jauh mengenai pemanfaatan machine learning di berbagai industri? Daftarkan diri Anda di alamat ini untuk mengikuti CTI IT Infrastructure Summit 2017. Akan ada pembicara dari Grab, Singtel, DBS, dan berbagai perusahaan lain yang akan membahas bagaimana mereka memanfaatkan machine learning.

Berdasarkan neraca keuangan untuk kuartal keempat yang berakhir 31 Desember 2016, IBM mencatat penurunan pendapatan dalam 19 kuartal berturut-turut.

Pada kuartal itu, pendapatan IBM menurun 1,3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi US$21,77 miliar. Namun, angka itu masih di atas estimasi analis yang memperkirakan pendapatan sebesar US$21,64 miliar.

Sedangkan pemasukan bersih alias keuntungan IBM pada kuartal ini meningkat jadi US$4,5 miliar.

Meski demikian, IBM mengalami pertumbuhan di beberapa sektor bisnis yang disebut “strategic imperatives”, mencakup layanan cloud dan mobile, analitik data, serta perangkat lunak keamanan dan sosial. Pemasukan dari sektor bisnis itu meningkat 11 persen menjadi US$9,5 miliar dari kuartal sebelumnya.

Secara keseluruhan, bisnis cloud dan analytics IBM menyumbang 41 persen pada total pemasukan IBM sepanjang tahun 2016.

Laporan keuangan ini sekaligus membuktikan bahwa strategi Ginni Rometty (CEO, IBM) yang berfokus pada Cognitive Computing terbilang jitu. Dalam beberapa tahun terakhir, Rometty melakukan transisi bisnis IBM dari berjualan hardware dan infrastruktur menjadi layanan cloud, SaaS, dan kecerdasan buatan.

Solusi IBM SoftLayer semakin populer digunakan oleh para perusahaan berskala kecil dan menengah, seperti juga platform cloud BlueMix. Sementara itu, sistem kecerdasan buatan IBM Watson terus menunjukkan keahliannya dan meraih pelanggan baru di berbagai segmen.

Walhasil, harga saham IBM meningkat 30,2 persen dalam satu tahun terakhir dan berada di posisi US$171,64 pada penutupan perdagangan hari Kamis (19/1).

IBM Cognitive

IBM memecahkan rekor yang mereka pegang sendiri dengan membukukan 8.088 paten di Amerika Serikat atas penemuan-penemuan yang diajukan sepanjang tahun 2016.

Inilah pertama kalinya sebuah perusahaan bisa memperoleh lebih dari 8.000 paten dalam satu tahun.

Pencapaian ini juga membuat IBM mempertahankan posisi pertama sebagai perusahaan terdepan dalam perolehan hak paten di AS selama 24 tahun berturut-turut. Di posisi kedua, Samsung menyusul dengan 5.518 hak paten. Posisi-posisi selanjutnya diisi Canon, Qualcomm, Google, Intel, LG Electronics, Microsoft, TSMC (Taiwan Semiconductor), dan Sony.

“Memimpin inovasi selama 24 tahun berturut-turut adalah hasil dari komitmen tak tertandingi IBM terhadap inovasi dan litbang (R&D). Kami sangat bangga atas kontribusi unik para penemu kami kepada dunia iptek yang mendorong perkembangan bisnis dan sosial serta membuka era baru cognitive business,” papar Ginni Rometty (CEO, IBM) seperti dilansir Venture Beat.

Hak paten IBM sepanjang tahun 2016.

Hak paten IBM sepanjang tahun 2016.

Dari 8.808 paten yang diraih IBM, sekitar 2.700 di antaranya adalah penemuan terkait kecerdasan buatan, cognitive computing, dan cloud computing.

Di area kecerdasan buatan dan cognitive computing, penemu IBM mematenkan lebih dari 1.000 penemuan yang membantu mesin untuk belajar, berargumen, dan memproses aneka jenis tipe data secara efisien sembari berinteraksi dengan manusia dalam cara yang alami. Paten-paten itu mencakup machine learning untuk menjawab pertanyaan dan merencanakan rute perjalanan terbaik.

Di bidang kesehatan, IBM menemukan cara memanfaatkan foto atau gambar untuk menentukan kondisi kesehatan jantung. Ada pula alat bantu dengar yang bisa dikustomisasi sesuai kebutuhan pengguna. IBM pun mematenkan drone yang bisa memetakan mikroba di rumah sakit, pabrik pengolahan makanan, dan lahan pertanian.

IBM juga mematenkan lebih dari 1.000 penemuan yang dapat membantu pengembangan cloud computing dan keamanan siber.

Setiap tahunnya, IBM mendedikasikan dana US$5,4 miliar untuk keperluan riset dan pengembangan. Mereka mempekerjakan lebih dari 8.500 penemu di 47 negara di seluruh dunia.

Ginni Rometty (CEO, IBM). [Kredit: New Yotk Times]

Ginni Rometty (CEO, IBM). [Kredit: New York Times]

Selama 17 kuartal berturut-turut, IBM terus mencatatkan penurunan pendapatan. Pada laporan kuartal kedua 2016 lalu, IBM mencatatkan pendapatan sebesar US$20,2 miliar, atau turun 2,8% YoY (year-on-year).

Namun jika menyimak lebih dalam laporan keuangan IBM tersebut, sebenarnya ada fenomena menarik. Pendapatan IBM dari segmen yang disebut Strategic Imperatives terus mencatatkan kenaikan. Segmen yang meliputi solusi seputar cloud, analytics, mobile, social, dan security mencatat kenaikan keuntungan US$8,3 miliar. Angka ini naik sebesar 12% jika dibandingkan kuartal sebelumnya serta menyumbang 38% dari total pendapatan IBM.

Fenomena ini menunjukkan IBM mulai berhasil bertransformasi dari pembuat hardware menjadi perusahaan berbasis teknologi masa depan. Dan hal itu tidak lepas visi besar sang CEO, Ginni Rometty.

Memanfaatkan AI

Wanita yang memiliki nama lengkap Virginia Marie Rometty ini memang layak dipercaya memimpin tranformasi Big Blue. Ia sudah bergabung dengan IBM sejak tahun 1981 sebagai system engineer.

Pelan-pelan, karier lulusan Computer Science Northwestern University ini terus menanjak. Namanya mulai dikenal publik ketika menjadi Senior VP IBM Global Business Services dan berhasil melakukan akuisisi firma konsultan PricewaterhouseCooper senilai US$3,5 miliar.

Ginni juga menjadi sosok di balik pengembangan cloud dan AI di IBM yang mewujud menjadi mesin super pintar bernama Watson. Semua prestasi tersebut akhirnya membawa Ginni dipercaya memimpin IBM pada tahun 2011. “Ginni ada di posisi ini karena ia layak mendapatkannya,” ungkap CEO IBM sebelumnya, Sam Palmisano. Peristiwa ini juga menandai sebuah milestone khusus karena Ginni adalah CEO IBM wanita pertama sepanjang sejarah.

Sejak menjadi CEO, Ginni harus menghadapi fakta terus menurunnya pendapatan IBM dari unit hardware. Semakin banyaknya pesaing membuat server, storage, dan hardware lain menjadi komiditi dan menipiskan margin keuntungan. Kenyataan ini mendorong Ginni mencoba memosisikan ulang IBM. Ginni menginginkan IBM fokus ke teknologi yang menawarkan sustainability lebih menjanjikan, yaitu cloud, artificial intelligence, serta analytic.

Ginni pun sangat yakin AI (atau IBM menyebutnya cognitive system) akan berpengaruh besar dalam seluruh aspek kehidupan. “Lima tahun ke depan, cognitive system akan memengaruhi setiap keputusan yang kita ambil,” ungkap Ginni saat diwawancarai Recode. Ginni menunjuk sejumlah peluang pemanfaatan AI di dunia kesehatan, edukasi, dan finansial. “Bahkan [cognitive system] bisa bermanfaat untuk aktivitas sehari-hari,” tambah Ginni.

Langkah IBM di dunia kedokteran sudah dimulai tahun lalu dengan merilis layanan IBM Watson Health. Melalui layanan ini, IBM menggandeng institusi kesehatan untuk bersama “mengajarkan” Watson keahlian seputar penyakit tertentu. Salah satunya adalah kerjasama dengan Memorial Sloan Kettering Cancer Center (MSK), sebuah institusi asal New York yang memiliki keahlian khusus seputar penyakit kanker.

Wujud kerjasama tersebut adalah membuat Watson for Oncology yang merupakan aplikasi seputar penyakit kanker. Aplikasi ini dibangun berdasarkan pengetahuan dokter-dokter di MSK yang memiliki keahlian spesifik di berbagai jenis penyakit kanker. Informasi para dokter tersebut kemudian dipadukan oleh Watson dengan jurnal penelitian terbaru seputar kanker dari berbagai penjuru dunia.

Berkat kemampuan Watson untuk “belajar” dan berpikir logis layaknya manusia, kombinasi ini pun menghasilkan database pengetahuan kanker yang sangat komprehensif. Database itu kemudian bisa diakses oleh para dokter di seluruh dunia.

Dengan menggunakan iPad atau tablet, para dokter pengguna aplikasi Watson for Oncology bisa memasukkan gejala atau symptom dari pasiennya. Nantinya, Watson akan memberikan sejumlah saran penanganan, lengkap dengan prediksi tingkat kesuksesan maupun resiko yang mungkin terjadi.

Dengan kata lain, setiap dokter di seluruh dunia kini memiliki kemampuan menangani pasien seperti para dokter ahli di MSK. Beberapa rumah sakit di Thailand dan India sudah memanfaatkan Watson for Oncology untuk menangani pasien mereka.

On Weds., October 8, 2014, in New York City, IBM CEO Ginni Rometty and Senior Vice President Mike Rhodin opens IBM's new global Watson headquarters at 51 Astor Place in Silicon Alley, the home for next generation computing systems that learn. (Feature Photo Service)

On Weds., October 8, 2014, in New York City, IBM CEO Ginni Rometty and Senior Vice President Mike Rhodin opens IBM’s new global Watson headquarters at 51 Astor Place in Silicon Alley, the home for next generation computing systems that learn. (Feature Photo Service)

Membangun Ekosistem

Penggunaan Watson pun bisa dilakukan oleh pihak di luar IBM. Pasalnya IBM menawarkan platform Watson Health yang menyediakan API buat developer untuk memanfaatkan kepintaran Watson.

Salah satunya adalah Welltok yang merilis aplikasi CafeWell Concierge. Memanfaatkan kemampuan Watson, aplikasi ini mampu memberi saran bagi pengguna Apple Watch seputar aktivitas kesehatan. Contohnya ketika pengguna memiliki kolesterol tinggi, aplikasi ini akan mengingatkan untuk berolahraga atau menyarankan restoran dengan menu sehat di sekitar pengguna.

Beberapa contoh di atas bisa menggambarkan potensi besar pemanfaatan Watson di dunia kesehatan. Ginni pun terlihat serius membangun dominasi Watson, tercermin dari investasi sebesar US$4 miliar untuk membuat platform Watson Health.

Belum lama ini, IBM juga membeli Truven Health Analytics sebesar US$2,6 miliar. Melalui pembelian ini, IBM mendapatkan data 300 juta pasien, yang akan memuluskan langkah IBM membuat cognitive system yang lebih akurat.

Dengan semua langkah tersebut, jelas terlihat keseriusan IBM—dan Ginni—menyambut era AI.

Pertanyaan besarnya adalah apakah langkah tersebut berhasil membawa IBM menjadi perusahaan teknologi terbesar di dunia seperti yang mereka rasakan beberapa tahun lalu? Apalagi, persaingan di industri AI dipastikan tidak akan mudah mengingat banyak raksasa teknologi seperti Microsoft, Google, Amazon, dan Apple, kini juga tengah serius menggarap area ini.

Akan tetapi, Ginni tampak yakin dengan peluang IBM. “Di masa depan, setiap keputusan yang kita ambil berdasarkan informasi yang dihasilkan cognitive system seperti Watson,” ungkap Ginni.

“Kalau dari sisi performance, rata-rata Power System lebih tinggi 2-3 kali dibanding x86” ungkap Wulandari Mawardi, Linux Server Solution Leader, IBM Indonesia

Sistem operasi open source, utamanya Linux, perannya kini kian krusial. Jika mengacu riset W3Tech.com, Linux kini digunakan 66,7% dari seluruh situs yang ada di dunia. Linux juga semakin banyak digunakan di banyak perusahaan, termasuk critical application yang sebelumnya lebih banyak menggunakan aplikasi proprietary. Hal ini tidak lepas dari semakin matangnya Linux dan komunitas yang mendukung di belakangnya.

Bagi IBM, fenomena ini sejalan dengan komitmen mereka mendukung dunia open source. Sejak tahun 2000, IBM telah menegaskan Linux sebagai bagian dari strategi IBM ke depan. Dukungan itu terlihat dari sumbangan finansial maupun personil IBM untuk komunitas Linux. Yang tak kalah penting, IBM juga merilis Power Linux, server berbasis prosesor PowerPC yang khusus mendukung Linux.

Sekadar mengingatkan, PowerPC adalah prosesor jenis RISC yang dibangun IBM sejak era 1980an. PowerPC adalah prosesor di balik server Power Systems yang umum digunakan critical application di berbagai industri. Kini ketika peran Linux kian krusial, IBM Power Linux menjadi pilihan menarik ketika perusahaan mengadopsi Linux di data center-nya.

Akan tetapi, di jagat Linux, konsumen kini memiliki banyak pilihan. Server berbasis prosesor Intel (atau biasa disebut x86), praktis juga mampu menjalankan Linux. Namun bagi IBM, Power Linux memiliki kelebihan tersendiri dibanding platform x86. Keunggulan tersebut meliputi performa serta RAS Feature (RAS adalah singkatan dari Reliability, Availability, and Serviceability).

“Kalau dari sisi performance, rata-rata Power System lebih tinggi 2-3 kali dibanding x86” ungkap Wulandari Mawardi, Linux Server Solution Leader, IBM Indonesia di sela-sela acara IBM Systems Technology Forum belum lama ini. Sementara untuk RAS, Power Linux adalah turunan dari Power Systems yang legendaris itu. Dengan sejarah panjang di balik Power Systems, Wulan mengklaim Linux yang berjalan di atas Power Linux akan memiliki keandalan di atas x86.

Perusahaan pun tidak perlu khawatir akan potensi vendor lock-in ketika menggunakan Power Linux. Hal ini telah dirasakan developer yang menjadi peserta IBM Linux Challenge. “Awalnya mereka mengerjakan aplikasi mereka di x86, lalu di akhir lomba kami pinjamkan Power Linux” ungkap Wulan. Ternyata, aplikasi mereka berjalan lancar tanpa kendala saat berjalan di Power Linux.

Hal ini menunjukkan, migrasi dari x86 dan Power Systems (dan sebaliknya) bukanlah sebuah kendala. IBM juga telah menyiapkan tim khusus untuk membantu perusahaan melakukan migrasi. “Kalo customer ada keraguan, IBM menyediakan tim untuk melakukan porting atau POC (Proof of Concept)” ungkap Wulan.

Di tengah banyaknya pilihan server berbasis x86, IBM melihat Power Linux berada di posisi yang lebih strategis. Keunggulan performa dan RAS dari Power Linux membuat server jenis ini lebih cocok untuk aplikasi penting perusahaan. “Karena turunan dari Power Systems, Power Linux lebih sesuai untuk aplikasi yang critical” ungkap Wulan. Hal ini juga sejalan dengan trend semakin banyaknya aplikasi critical di berbagai industri yang kini berjalan di lingkungan Linux.

Di masa depan, IBM juga berkomitmen untuk terus membangun ekosistem Linux. “Karena kami sadar, Linux dibangun di atas ekosistem sehingga kita tidak bisa melakukannya sendiri” tambah Wulan. Komitmen IBM itu bisa dilihat dari kegigihan mereka menggandeng ISV (Independent Software Vendor) untuk membangun aplikasi di atas Power Linux.

Donald Trump. [Foto: qz.com]

Donald Trump. [Foto: qz.com]

Donald Trump (Presiden terpilih Amerika Serikat) meminta perusahaan-perusahaan teknologi di AS untuk menyerahkan data dan membantu pemerintah AS membangun database Muslim Amerika.

“Setelah pemilu, penasihat kebijakan Trump sudah membahas proposal untuk membangun database tersebut,” kata Kris Kobach (Kansas Secretary of State) yang merupakan salah satu anggota tim transisi Trump seperti dikutip Recode.

Sebelumnya, Trump akan menggunakan database itu untuk mendata Muslim Amerika. Database Muslim Amerika adalah topik yang muncul berulang kali ketika kampanye. Sistem database itu akan melacak lokasi dan kegiatan orang-orang yang terdaftar di dalamnya.

Twitter pun menjadi perusahaan teknologi pertama yang menolak menyerahkan data untuk membangun database usulan Donald Trump tersebut. Selain Twitter, Facebook, Apple, Google, IBM, Uber, dan Microsoft menolak kebijakan Trump.

Sementara itu, dua perusahaan teknologi besar dengan spesialisasi di layanan database, Oracle dan Amazon, belum mengklarifikasi apakah mereka akan menolak atau menyetujui usulan Trump tersebut.

“Kami pikir orang-orang harus diperlakukan sama, bagaimanapun cara ibadah mereka, rupa mereka, atau siapa yang mereka cintai. Kami belum diminta (membuat register Muslim) dan akan menentang upaya semacam itu,” kata Apple kepada Buzzfeed.

“Perusahaan kami punya sejarah panjang menentang diskriminasi terhadap siapa pun atas dasar perbedaan ras, gender, orientasi seksual, atau agama. Perspektif ini tidak akan berubah,” ujar seorang juru bicara IBM.

Usulan database register Muslim Trump mirip dengan program serupa bernama National Security Entry-Exit Registration System (NSEERS) yang muncul pasca serangan teror 9/11 tahun 2001. NSEERS mengharuskan ribuan warga Arab dan Muslim yang berada di AS untuk mendaftarkan dirinya.