Tags Posts tagged with "IBM"

IBM

Asisten Suara IBM Havyn yang Berbasis IBM Watson

IBM telah menguji perangkat kecerdasan buatan Watson untuk keamanan siber. Beberapa tahun terakhir, Watson telah mempelajari satu juta dokumen keamanan. Nantinya, analis keamanan bisa menggunakan Watson untuk menguji dan menilai ribuan penelitian bahasa alami

Menurut IBM, ada 200 ribuan pergantian petugas keamanan setiap harinya dengan menyebab 20 ribu jam terbuang sia-sia dan angka itu akan terus bertambah di masa depan.  Karena itu, perusahaan atau instansi membutuhkan sebuah teknologi yang dapat mempercepat proses deteksi.

Watson for Cyber Security akan mengintegrasikan platform SOC Cognitive IBM yang merupakan pusat dari IBM QRadar Advisor.

Nantinya, IBM Watson dapat merespon berbagai ancaman endpoints, jaringan, pengguna dan komputas awan. Sebanyak 40 pelanggan siap menggunakan aplikasi terbaru tersebut termasuk Avnet, Universitas New Brunswick dan Sopra Steria.

“Saat ancaman dan serangan keamanan siber sangat luar biasa dan beragam. Analis keamanan kami menemukan kesulitan untuk melawan ancaman tersebut di antara lautan data,” kata Sean Valcamp (Chief Information Security Officer Avnet) seperti dikutip AccesAI.

“Watson membuat serangan siber itu sulit bergerak dan bersembunyi dengan langsung menganalisa lautan data dan menyerangkan dengan sistem kecerdasan keamanan terbaru. Watson juga akan menganalisa serangan siber dalam hitungan menit dam kecepatan tinggi,” ucapnya.

IBM juga telah meluncurkan Havyn, asisten keamanan berbasis suara yang mendukung teknologi percakapan Watson. Nantinya, Watson dapat menjawab bahasa alami dan perintah analis keamanan secara verbal.

Havyn mengusung Watson APIs, BlueMix dan IBM Cloud untuk menjawab permintaan dan perintah secara verbal. Misal, Havyn bisa memberikan ancaman siber terbaru kepada pengamat keamanan dan memberikan rekomendasi cara mengatasinya.

Ilustrasi machine learning. [kredit: Shutterstock]

Kurang dari sebulan, ajang tahunan CTI IT Infrastructure Summit 2017 akan digelar. Untuk tahun ini, ajang prestisius tersebut akan mengangkat tema Machine Learning: Capitalizing the Information of Everything to Drive Your Digital Business.

Machine learning sendiri adalah salah satu cabang computer science yang memungkinkan komputer menganalisa data tanpa harus dipogram secara spesifik. Hal ini berbeda dengan aplikasi pada umumnya yang harus secara detail memperhitungkan segala kemungkinan. Aplikasi berbasis machine learning memungkinan komputer mempelajari pola dari semua data yang ia miliki, untuk kemudian memberikan insight yang bisa membantu kita mengambil keputusan.

Dalam konteks yang lebih luas, machine learning adalah bagian dari konsep Artificial Intelligence dan cognitive computing yang kini dikembangkan banyak perusahaan teknologi dunia.

Ada alasan tersendiri mengapa CTI IT Infrastructure Summit 2017 mengambil tema machine learning. Dalam beberapa tahun terakhir, machine learning telah menjadi bagian penting dari akselerasi perusahaan dunia. Perusahaan seperti Amazon, SoftBank, atau PayPal adalah beberapa contoh perusahaan yang telah memanfaatkan machine learning.

Akan tetapi, machine learning, AI, dan cognitive computing memang belum terlalu populer di dunia IT Indonesia. Hal ini diakui Gunawan Susanto (President Director, IBM Indonesia) yang menjadi salah satu pendukung acara CTI Infrastructure Summit 2017. “Cognitive computing adalah salah satu cara Indonesia mengejar ketertinggalan dengan negara lain,” ungkap Gunawan.

Apalagi, beberapa negara tetangga sudah mulai memanfaatkan cognitive computing sebagai competitive advantage. Bumrungrad Hospital di Thailand, misalnya, menggunakan cognitive computing untuk membantu dokter spesialis kanker (oncologist) dalam memberikan perawatan yang tepat bagi pasien kanker. Dengan menganalisis literatur medis mengenai kanker dari seluruh dunia, cognitive computing bisa memberikan saran kepada dokter mengenai perawatan terbaik bagi sang pasien.

Contoh lain adalah perusahaan akomodasi Starwood Hotels & Resorts yang terkenal dengan jaringan hotel Sheraton dan Westin. Mereka telah menggunakan machine learning pada Revenue Optimization System (ROS ) mereka atau sistem pengaturan harga kamar. Sistem ini mampu mempelajari aneka data dalam menentukan harga kamar secara real-time menggunakan berbagai data internal, seperti jumlah ketersediaan kamar, tingkat pemesanan, pembatalan, tipe kamar, dan harga kamar harian. ROS juga menganalisis data eksternal seperti harga hotel pesaing, cuaca di sekitar, dan acara-acara besar yang diselenggarakan di dekat lokasi hotel. Hasilnya, lebih dari 1.000 hotel milik Starwood bisa mengubah harga kamar setiap menitnya demi menentukan harga yang paling efisien untuk meningkatkan pemasukan dan keuntungan perusahaan.

Dua contoh di atas menunjukkan, cognitive computing mampu memberikan keunggulan unik bagi perusahaan. Peluangnya pun terbilang tak terbatas karena pemanfaatan cognitive computing bisa dilakukan untuk berbagai skenario. Perusahaan retail, misalnya, bisa memanfaatkan cognitive computing untuk memprediksi stok sebuah produk berdasarkan pola pembelian konsumen selama ini. Nelayan pun bisa memanfaatkan sistem pintar ini untuk memperkirakan area laut yang padat ikan berdasarkan data cuaca dan pola arus laut.

Pendek kata, semua kebutuhan bisnis bisa memanfaatkan machine learning. Namun karena prinsip dasar dari machine learning adalah “belajar”, tiap skenario membutuhkan data dan proses pembelajaran yang berbeda. Karena itulah Gunawan Susanto mengajak semua pihak di ekosistem IT Indonesia untuk memanfaatkan machine learning berdasarkan kebutuhan unik bangsa ini. “Jangan sampai kita cuma menikmati service [berbasis machine learning]-nya, namun player-nya dari negara lain,” ujar Gunawan.

Ingin mengetahui lebih jauh mengenai pemanfaatan machine learning di berbagai industri? Daftarkan diri Anda di alamat ini untuk mengikuti CTI IT Infrastructure Summit 2017. Akan ada pembicara dari Grab, Singtel, DBS, dan berbagai perusahaan lain yang akan membahas bagaimana mereka memanfaatkan machine learning.

Berdasarkan neraca keuangan untuk kuartal keempat yang berakhir 31 Desember 2016, IBM mencatat penurunan pendapatan dalam 19 kuartal berturut-turut.

Pada kuartal itu, pendapatan IBM menurun 1,3 persen dibandingkan kuartal sebelumnya menjadi US$21,77 miliar. Namun, angka itu masih di atas estimasi analis yang memperkirakan pendapatan sebesar US$21,64 miliar.

Sedangkan pemasukan bersih alias keuntungan IBM pada kuartal ini meningkat jadi US$4,5 miliar.

Meski demikian, IBM mengalami pertumbuhan di beberapa sektor bisnis yang disebut “strategic imperatives”, mencakup layanan cloud dan mobile, analitik data, serta perangkat lunak keamanan dan sosial. Pemasukan dari sektor bisnis itu meningkat 11 persen menjadi US$9,5 miliar dari kuartal sebelumnya.

Secara keseluruhan, bisnis cloud dan analytics IBM menyumbang 41 persen pada total pemasukan IBM sepanjang tahun 2016.

Laporan keuangan ini sekaligus membuktikan bahwa strategi Ginni Rometty (CEO, IBM) yang berfokus pada Cognitive Computing terbilang jitu. Dalam beberapa tahun terakhir, Rometty melakukan transisi bisnis IBM dari berjualan hardware dan infrastruktur menjadi layanan cloud, SaaS, dan kecerdasan buatan.

Solusi IBM SoftLayer semakin populer digunakan oleh para perusahaan berskala kecil dan menengah, seperti juga platform cloud BlueMix. Sementara itu, sistem kecerdasan buatan IBM Watson terus menunjukkan keahliannya dan meraih pelanggan baru di berbagai segmen.

Walhasil, harga saham IBM meningkat 30,2 persen dalam satu tahun terakhir dan berada di posisi US$171,64 pada penutupan perdagangan hari Kamis (19/1).

IBM Cognitive

IBM memecahkan rekor yang mereka pegang sendiri dengan membukukan 8.088 paten di Amerika Serikat atas penemuan-penemuan yang diajukan sepanjang tahun 2016.

Inilah pertama kalinya sebuah perusahaan bisa memperoleh lebih dari 8.000 paten dalam satu tahun.

Pencapaian ini juga membuat IBM mempertahankan posisi pertama sebagai perusahaan terdepan dalam perolehan hak paten di AS selama 24 tahun berturut-turut. Di posisi kedua, Samsung menyusul dengan 5.518 hak paten. Posisi-posisi selanjutnya diisi Canon, Qualcomm, Google, Intel, LG Electronics, Microsoft, TSMC (Taiwan Semiconductor), dan Sony.

“Memimpin inovasi selama 24 tahun berturut-turut adalah hasil dari komitmen tak tertandingi IBM terhadap inovasi dan litbang (R&D). Kami sangat bangga atas kontribusi unik para penemu kami kepada dunia iptek yang mendorong perkembangan bisnis dan sosial serta membuka era baru cognitive business,” papar Ginni Rometty (CEO, IBM) seperti dilansir Venture Beat.

Hak paten IBM sepanjang tahun 2016.

Hak paten IBM sepanjang tahun 2016.

Dari 8.808 paten yang diraih IBM, sekitar 2.700 di antaranya adalah penemuan terkait kecerdasan buatan, cognitive computing, dan cloud computing.

Di area kecerdasan buatan dan cognitive computing, penemu IBM mematenkan lebih dari 1.000 penemuan yang membantu mesin untuk belajar, berargumen, dan memproses aneka jenis tipe data secara efisien sembari berinteraksi dengan manusia dalam cara yang alami. Paten-paten itu mencakup machine learning untuk menjawab pertanyaan dan merencanakan rute perjalanan terbaik.

Di bidang kesehatan, IBM menemukan cara memanfaatkan foto atau gambar untuk menentukan kondisi kesehatan jantung. Ada pula alat bantu dengar yang bisa dikustomisasi sesuai kebutuhan pengguna. IBM pun mematenkan drone yang bisa memetakan mikroba di rumah sakit, pabrik pengolahan makanan, dan lahan pertanian.

IBM juga mematenkan lebih dari 1.000 penemuan yang dapat membantu pengembangan cloud computing dan keamanan siber.

Setiap tahunnya, IBM mendedikasikan dana US$5,4 miliar untuk keperluan riset dan pengembangan. Mereka mempekerjakan lebih dari 8.500 penemu di 47 negara di seluruh dunia.

Ginni Rometty (CEO, IBM). [Kredit: New Yotk Times]

Ginni Rometty (CEO, IBM). [Kredit: New York Times]

Selama 17 kuartal berturut-turut, IBM terus mencatatkan penurunan pendapatan. Pada laporan kuartal kedua 2016 lalu, IBM mencatatkan pendapatan sebesar US$20,2 miliar, atau turun 2,8% YoY (year-on-year).

Namun jika menyimak lebih dalam laporan keuangan IBM tersebut, sebenarnya ada fenomena menarik. Pendapatan IBM dari segmen yang disebut Strategic Imperatives terus mencatatkan kenaikan. Segmen yang meliputi solusi seputar cloud, analytics, mobile, social, dan security mencatat kenaikan keuntungan US$8,3 miliar. Angka ini naik sebesar 12% jika dibandingkan kuartal sebelumnya serta menyumbang 38% dari total pendapatan IBM.

Fenomena ini menunjukkan IBM mulai berhasil bertransformasi dari pembuat hardware menjadi perusahaan berbasis teknologi masa depan. Dan hal itu tidak lepas visi besar sang CEO, Ginni Rometty.

Memanfaatkan AI

Wanita yang memiliki nama lengkap Virginia Marie Rometty ini memang layak dipercaya memimpin tranformasi Big Blue. Ia sudah bergabung dengan IBM sejak tahun 1981 sebagai system engineer.

Pelan-pelan, karier lulusan Computer Science Northwestern University ini terus menanjak. Namanya mulai dikenal publik ketika menjadi Senior VP IBM Global Business Services dan berhasil melakukan akuisisi firma konsultan PricewaterhouseCooper senilai US$3,5 miliar.

Ginni juga menjadi sosok di balik pengembangan cloud dan AI di IBM yang mewujud menjadi mesin super pintar bernama Watson. Semua prestasi tersebut akhirnya membawa Ginni dipercaya memimpin IBM pada tahun 2011. “Ginni ada di posisi ini karena ia layak mendapatkannya,” ungkap CEO IBM sebelumnya, Sam Palmisano. Peristiwa ini juga menandai sebuah milestone khusus karena Ginni adalah CEO IBM wanita pertama sepanjang sejarah.

Sejak menjadi CEO, Ginni harus menghadapi fakta terus menurunnya pendapatan IBM dari unit hardware. Semakin banyaknya pesaing membuat server, storage, dan hardware lain menjadi komiditi dan menipiskan margin keuntungan. Kenyataan ini mendorong Ginni mencoba memosisikan ulang IBM. Ginni menginginkan IBM fokus ke teknologi yang menawarkan sustainability lebih menjanjikan, yaitu cloud, artificial intelligence, serta analytic.

Ginni pun sangat yakin AI (atau IBM menyebutnya cognitive system) akan berpengaruh besar dalam seluruh aspek kehidupan. “Lima tahun ke depan, cognitive system akan memengaruhi setiap keputusan yang kita ambil,” ungkap Ginni saat diwawancarai Recode. Ginni menunjuk sejumlah peluang pemanfaatan AI di dunia kesehatan, edukasi, dan finansial. “Bahkan [cognitive system] bisa bermanfaat untuk aktivitas sehari-hari,” tambah Ginni.

Langkah IBM di dunia kedokteran sudah dimulai tahun lalu dengan merilis layanan IBM Watson Health. Melalui layanan ini, IBM menggandeng institusi kesehatan untuk bersama “mengajarkan” Watson keahlian seputar penyakit tertentu. Salah satunya adalah kerjasama dengan Memorial Sloan Kettering Cancer Center (MSK), sebuah institusi asal New York yang memiliki keahlian khusus seputar penyakit kanker.

Wujud kerjasama tersebut adalah membuat Watson for Oncology yang merupakan aplikasi seputar penyakit kanker. Aplikasi ini dibangun berdasarkan pengetahuan dokter-dokter di MSK yang memiliki keahlian spesifik di berbagai jenis penyakit kanker. Informasi para dokter tersebut kemudian dipadukan oleh Watson dengan jurnal penelitian terbaru seputar kanker dari berbagai penjuru dunia.

Berkat kemampuan Watson untuk “belajar” dan berpikir logis layaknya manusia, kombinasi ini pun menghasilkan database pengetahuan kanker yang sangat komprehensif. Database itu kemudian bisa diakses oleh para dokter di seluruh dunia.

Dengan menggunakan iPad atau tablet, para dokter pengguna aplikasi Watson for Oncology bisa memasukkan gejala atau symptom dari pasiennya. Nantinya, Watson akan memberikan sejumlah saran penanganan, lengkap dengan prediksi tingkat kesuksesan maupun resiko yang mungkin terjadi.

Dengan kata lain, setiap dokter di seluruh dunia kini memiliki kemampuan menangani pasien seperti para dokter ahli di MSK. Beberapa rumah sakit di Thailand dan India sudah memanfaatkan Watson for Oncology untuk menangani pasien mereka.

On Weds., October 8, 2014, in New York City, IBM CEO Ginni Rometty and Senior Vice President Mike Rhodin opens IBM's new global Watson headquarters at 51 Astor Place in Silicon Alley, the home for next generation computing systems that learn. (Feature Photo Service)

On Weds., October 8, 2014, in New York City, IBM CEO Ginni Rometty and Senior Vice President Mike Rhodin opens IBM’s new global Watson headquarters at 51 Astor Place in Silicon Alley, the home for next generation computing systems that learn. (Feature Photo Service)

Membangun Ekosistem

Penggunaan Watson pun bisa dilakukan oleh pihak di luar IBM. Pasalnya IBM menawarkan platform Watson Health yang menyediakan API buat developer untuk memanfaatkan kepintaran Watson.

Salah satunya adalah Welltok yang merilis aplikasi CafeWell Concierge. Memanfaatkan kemampuan Watson, aplikasi ini mampu memberi saran bagi pengguna Apple Watch seputar aktivitas kesehatan. Contohnya ketika pengguna memiliki kolesterol tinggi, aplikasi ini akan mengingatkan untuk berolahraga atau menyarankan restoran dengan menu sehat di sekitar pengguna.

Beberapa contoh di atas bisa menggambarkan potensi besar pemanfaatan Watson di dunia kesehatan. Ginni pun terlihat serius membangun dominasi Watson, tercermin dari investasi sebesar US$4 miliar untuk membuat platform Watson Health.

Belum lama ini, IBM juga membeli Truven Health Analytics sebesar US$2,6 miliar. Melalui pembelian ini, IBM mendapatkan data 300 juta pasien, yang akan memuluskan langkah IBM membuat cognitive system yang lebih akurat.

Dengan semua langkah tersebut, jelas terlihat keseriusan IBM—dan Ginni—menyambut era AI.

Pertanyaan besarnya adalah apakah langkah tersebut berhasil membawa IBM menjadi perusahaan teknologi terbesar di dunia seperti yang mereka rasakan beberapa tahun lalu? Apalagi, persaingan di industri AI dipastikan tidak akan mudah mengingat banyak raksasa teknologi seperti Microsoft, Google, Amazon, dan Apple, kini juga tengah serius menggarap area ini.

Akan tetapi, Ginni tampak yakin dengan peluang IBM. “Di masa depan, setiap keputusan yang kita ambil berdasarkan informasi yang dihasilkan cognitive system seperti Watson,” ungkap Ginni.

“Kalau dari sisi performance, rata-rata Power System lebih tinggi 2-3 kali dibanding x86” ungkap Wulandari Mawardi, Linux Server Solution Leader, IBM Indonesia

Sistem operasi open source, utamanya Linux, perannya kini kian krusial. Jika mengacu riset W3Tech.com, Linux kini digunakan 66,7% dari seluruh situs yang ada di dunia. Linux juga semakin banyak digunakan di banyak perusahaan, termasuk critical application yang sebelumnya lebih banyak menggunakan aplikasi proprietary. Hal ini tidak lepas dari semakin matangnya Linux dan komunitas yang mendukung di belakangnya.

Bagi IBM, fenomena ini sejalan dengan komitmen mereka mendukung dunia open source. Sejak tahun 2000, IBM telah menegaskan Linux sebagai bagian dari strategi IBM ke depan. Dukungan itu terlihat dari sumbangan finansial maupun personil IBM untuk komunitas Linux. Yang tak kalah penting, IBM juga merilis Power Linux, server berbasis prosesor PowerPC yang khusus mendukung Linux.

Sekadar mengingatkan, PowerPC adalah prosesor jenis RISC yang dibangun IBM sejak era 1980an. PowerPC adalah prosesor di balik server Power Systems yang umum digunakan critical application di berbagai industri. Kini ketika peran Linux kian krusial, IBM Power Linux menjadi pilihan menarik ketika perusahaan mengadopsi Linux di data center-nya.

Akan tetapi, di jagat Linux, konsumen kini memiliki banyak pilihan. Server berbasis prosesor Intel (atau biasa disebut x86), praktis juga mampu menjalankan Linux. Namun bagi IBM, Power Linux memiliki kelebihan tersendiri dibanding platform x86. Keunggulan tersebut meliputi performa serta RAS Feature (RAS adalah singkatan dari Reliability, Availability, and Serviceability).

“Kalau dari sisi performance, rata-rata Power System lebih tinggi 2-3 kali dibanding x86” ungkap Wulandari Mawardi, Linux Server Solution Leader, IBM Indonesia di sela-sela acara IBM Systems Technology Forum belum lama ini. Sementara untuk RAS, Power Linux adalah turunan dari Power Systems yang legendaris itu. Dengan sejarah panjang di balik Power Systems, Wulan mengklaim Linux yang berjalan di atas Power Linux akan memiliki keandalan di atas x86.

Perusahaan pun tidak perlu khawatir akan potensi vendor lock-in ketika menggunakan Power Linux. Hal ini telah dirasakan developer yang menjadi peserta IBM Linux Challenge. “Awalnya mereka mengerjakan aplikasi mereka di x86, lalu di akhir lomba kami pinjamkan Power Linux” ungkap Wulan. Ternyata, aplikasi mereka berjalan lancar tanpa kendala saat berjalan di Power Linux.

Hal ini menunjukkan, migrasi dari x86 dan Power Systems (dan sebaliknya) bukanlah sebuah kendala. IBM juga telah menyiapkan tim khusus untuk membantu perusahaan melakukan migrasi. “Kalo customer ada keraguan, IBM menyediakan tim untuk melakukan porting atau POC (Proof of Concept)” ungkap Wulan.

Di tengah banyaknya pilihan server berbasis x86, IBM melihat Power Linux berada di posisi yang lebih strategis. Keunggulan performa dan RAS dari Power Linux membuat server jenis ini lebih cocok untuk aplikasi penting perusahaan. “Karena turunan dari Power Systems, Power Linux lebih sesuai untuk aplikasi yang critical” ungkap Wulan. Hal ini juga sejalan dengan trend semakin banyaknya aplikasi critical di berbagai industri yang kini berjalan di lingkungan Linux.

Di masa depan, IBM juga berkomitmen untuk terus membangun ekosistem Linux. “Karena kami sadar, Linux dibangun di atas ekosistem sehingga kita tidak bisa melakukannya sendiri” tambah Wulan. Komitmen IBM itu bisa dilihat dari kegigihan mereka menggandeng ISV (Independent Software Vendor) untuk membangun aplikasi di atas Power Linux.

Donald Trump. [Foto: qz.com]

Donald Trump. [Foto: qz.com]

Donald Trump (Presiden terpilih Amerika Serikat) meminta perusahaan-perusahaan teknologi di AS untuk menyerahkan data dan membantu pemerintah AS membangun database Muslim Amerika.

“Setelah pemilu, penasihat kebijakan Trump sudah membahas proposal untuk membangun database tersebut,” kata Kris Kobach (Kansas Secretary of State) yang merupakan salah satu anggota tim transisi Trump seperti dikutip Recode.

Sebelumnya, Trump akan menggunakan database itu untuk mendata Muslim Amerika. Database Muslim Amerika adalah topik yang muncul berulang kali ketika kampanye. Sistem database itu akan melacak lokasi dan kegiatan orang-orang yang terdaftar di dalamnya.

Twitter pun menjadi perusahaan teknologi pertama yang menolak menyerahkan data untuk membangun database usulan Donald Trump tersebut. Selain Twitter, Facebook, Apple, Google, IBM, Uber, dan Microsoft menolak kebijakan Trump.

Sementara itu, dua perusahaan teknologi besar dengan spesialisasi di layanan database, Oracle dan Amazon, belum mengklarifikasi apakah mereka akan menolak atau menyetujui usulan Trump tersebut.

“Kami pikir orang-orang harus diperlakukan sama, bagaimanapun cara ibadah mereka, rupa mereka, atau siapa yang mereka cintai. Kami belum diminta (membuat register Muslim) dan akan menentang upaya semacam itu,” kata Apple kepada Buzzfeed.

“Perusahaan kami punya sejarah panjang menentang diskriminasi terhadap siapa pun atas dasar perbedaan ras, gender, orientasi seksual, atau agama. Perspektif ini tidak akan berubah,” ujar seorang juru bicara IBM.

Usulan database register Muslim Trump mirip dengan program serupa bernama National Security Entry-Exit Registration System (NSEERS) yang muncul pasca serangan teror 9/11 tahun 2001. NSEERS mengharuskan ribuan warga Arab dan Muslim yang berada di AS untuk mendaftarkan dirinya.

ibm employee zdnet

Ginni Rometty (IBM Chief Executive) berjanji akan mempekerjakan dan melatih karyawan-karyawan di Amerika Serikat (AS) sekaligus sebagai persiapan para pemimpin teknologi untuk bertemu dengan Presiden AS terpilih Donald Trump pada Rabu.

“Saat ini kami punya ribuan posisi lowongan kerja yang kosong dan kami akan mempekerjakan 25,000 profesional pada empat tahun ke depan di AS,” kata Rometty kepada USA Today.

Adam Pratt (Juru Bicara IBM) menolak mengomentari perekrutan 25.000 karyawan baru tersebut, mengingat IBM telah melakukan PHK dan berapa banyak jumlah karyawan IBM saat ini.

“Kami mengharapkan jumlah karyawan kami pada 2020 lebih banyak pada tahun ini,” kata Pratt.

IBM mempunyai 378,000 karyawan pada akhir 2015,

Sayangnya, Rometty tidak mengungkapkan alasan IBM melakukan PHK kepada karyawannya. “Kami ingin merekrut karyawan karena pengaruh lingkungan tenaga. Saat ini industri manufaktur hingga pertanian sudah mengusung data science dan komputasi awan,” ucapnya.

IBM akan menanamkan investasi senilai $1 miliar untuk melakukan pelatihan dan pengembangan karyawan AS dalam beberapa tahun mendatang.

IBM Watson

IBM Watson

Perusahaan teknologi IBM memprediksi Cognitive Computing akan mengubah wajah dan tren teknologi terutama big data di masa depan. Perkembangan data akan terus tumbuh setiap tahunnya, menyusul berkembangnya jejaring sosial dan penjualan perangkat mobile yang tinggi. Bahkan, IBM memprediksi konsumsi data bisa tembus zettabyte pada 2020.

Nugroho Gito (Software Client Architect, IBM Indonesia) melihat sebuah ledakan data yang masif akan menuntun perusahaan teknologi untuk mengembangkan cognitive computing untuk membantu produktivitas dan menyelesaikan permasalahan manusia.

Cognitive computing (CC) merupakan platform teknologi yang menggabungkan berbagai disiplin ilmu seperti machine learning, natural language processing (NLP), speech and image recognition, dan sebagainya.

Cognitive computing adalah bagaimana manusia memindahkan kemampuan kognitif manusia ke dalam komputer sehingga komputer dapat berpikir lebih cepat dan mendekati cara berpikir manusia. IBM telah mempelopori hal ini dengan menghadirkan IBM Watson,” katanya dalam ajang Konferensi Big Data Indonesia (KBI) 2016 dengan tema Tantangan dan Harapan Big Data di gedung BPPT, Jakarta, Rabu (7/12).

Konsep penciptaan mesin dengan kemampuan kognitif sudah ada sejak 1950-an, ketika pakar komputer Alan Turing mengajukan hipotesis Turing yang mempertanyakan kemungkinan adanya mesin sangat cerdas hingga bisa merespon layaknya seorang manusia.

Riset kecerdasan buatan (AI) mulai berjalan pada 1956 tetapi belum secanggih sekarang hingga IBM memperkenalkan supercomputer Deep Blue pada 1997. Dengan memadukan machine learning dan parallel computing, Deep Blue berhasil mengalahkan juara catur dunia dalam sebuah pertandingan.

“Hasil ini menjadi pijakan implementasi cognitive computing dalam wujud IBM Watson,” tuturnya.

Gito menjelaskan cognitive computing memiliki empat kemampuan utama yaitu pemahaman, pembentukan hipotesis, kemampuan belajar dan komunikasi dengan manusia. “Di masa depan, setiap keputusan manusia akan dibuat berdasarkan informasi dari sistem kognitif seperti Watson, dan kehidupan kita akan jadi lebih baik karenanya,” ucapnya.

Beberapa contoh aplikasi Watson di industri yang sudah berjalan yaitu membantu perusahaan minyak untuk mitigasi risiko dan meningkatkan keamanan operasional, membantu pengacara untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hukum yang berat, membantu rumah sakit di Thailand untuk diagnosis penyakit dan perawatan pasien, membuat robot humanoid cerdas bernama Pepper yang ditugaskan untuk membantu panti-panti jompo di Jepang.

IBM Watson juga berperan besar dalam pengembangan chip buatan DARPA (badan riset pertahanan Amerika) bernama SyNAPSE. Chip itu memiliki prosesor 4096 core dan memiliki cara kerja menyerupai otak manusia.

“Di RS Kanker Burmrungrad, Thailand, sekelompok dokter ahli onkologi menginput atau mengajarkan IBM Watson tentang informasi kedokteran, jurnal-jurnal ilmiah, resep obat dan data penyakit dan berobat pasien (medical record). Hasilnya, IBM Watson dapat membantu dokter utnuk mendiagnosa penyakit pasien dengan tepat dan memberikan rekomendasi tentang penanganan dan pengobatannya,” pungkasnya.

“Keputusan yang tepat, berkat IBM Watson dapat menyelamatkan nyawa orang,” pungkasnya.

 idBigdata akan kembali menggelar Konferensi Big Data Indonesia (KBI2016) di Auditorium BPPT, Jl M. H. Thamrin, Jakarta pada tanggal 7 - 8 Desember 2016.

idBigdata akan kembali menggelar Konferensi Big Data Indonesia (KBI2016) di Auditorium BPPT, Jl M. H. Thamrin, Jakarta pada tanggal 7 – 8 Desember 2016.

Seputar KBI 2016

Acara Konferensi Big Data Indonesia (KBI) 2016 sendiri merupakan acara big data terbesar di Indonesia. KBI 2016 diselenggarakan pada tanggal 7 – 8 Desember 2016 bertempat di Auditorium BPPT, Jl M. H. Thamrin, Jakarta. Penyelenggaraan konferensi kali ini merupakan kerja sama dengan Kemenristekdikti dan Universitas Al Azhar Indonesia.

Dalam KBI 2016, peserta dapat memperoleh gambaran mengenai kesiapan Indonesia dalam teknologi big data, peluang dan kebutuhan baik dalam kerangka bisnis maupun penelitian, serta arah kebijakan dan perkembangan big data di Indonesia.

Topik KBI 2016 mencakup infrastruktur big data, framework pengolahan data, eksplorasi data, visualisasi, data mining, machine learning, serta implementasinya di berbagai sektor. Konferensi tahun ini merupakan yang ke-3 kalinya. Sebelumnya idBigdata telah menyelenggarakan KBI 2014 di Yogyakarta dan KBI 2015 di Bandung. KBI 2016 akan dihadiri oleh lebih dari 600 peserta.

Erich Bloch (kanan) sedang memaparkan superkomputer mainframe IBM

Erich Bloch (kanan) sedang memaparkan superkomputer mainframe IBM

Erich Bloch, sosok yang mengembangkan mainframe IBM dan mengubah wajah komputer telah meninggal dunia pada usia 91 tahun. Bloch meninggal dunia karena penyakit Alzheimer.

Komputer Mainframe buatan Bloch membantu perkembangan komputer era modern sekaligus menjadi tonggak sejarah kelahiran Internet termasuk belanja, perbankan, memesan tiket pesawat dan lain-lain.

Bloch lahir 9 Januari 1925 di Sulzburg, Jerman. Ia pindah ke Amerika Serikat pada 1948 setelah selamat dari insiden Holocaust. Dia mendapatkan gelar sarjana dari Universitas Buffalo untuk jurusan teknik listrik. Setiap harinya, Bloch bekerja sebagai asisten laboratorium dan kuliah di malam hari.

Pada pertengahan 1950, Bloch berjasa dalam pengembangan super komputer IMB 7030 atau yang dikenal sebagai “Stretch”. Kala itu, komputer Stretch dapat mengerjakan tugas 100 miliar komputer dan menangani setengah juta komputasi infrastruktur perdetik.

Bahkan, Stretch lebih cepat 30 hinggga 40 kali lebih dari komputer lainnya. Kemudian, Stretch membuka jalan untuk pengembangan IBM’s System/360 yang dilakukan Bloch dan mendiang Bob Evans.

IBM menggunakan nama 360 karena arsitektur peranti lunak itu dapat mengerjakan semua kebutuhan dan permasalahan pelanggan.

Pada saat itu, Thomas Watson Jr (CEO IBM) mempertaruhkan reputasi perusahaan untuk mengembangkan mainframe S/360 senilai $5 miliar. Padahal, pendapatan perusahaan kala itu sebanyak $3.2 miliar.

“Komputer yang Anda rasakan sekarang adalah refleksi sistem yang kami kembangkan dulu. Sistem komputasi kami mempertahankan daya tahan dan fleksibel,” kata Bloch di museum pada 2014 seperti dilansir CNET.

Setelah pensiun dari IBM pada 1984, Bloch ditunjuk Presiden AS Ronald Reagan saat itu sebagai direktur National Science Foundation.