Tags Posts tagged with "indosat ooredoo"

indosat ooredoo

Sharif Mahfoedz (Division Head Core Service & Bundle Offering), Alexander Rusli (President Director & CEO Indosat Ooredoo) dan J. Jason Monteiro (Group Head Proposition & Acquisition) (ki-ka) meluncurkan terobosan terbaru IM3 Ooredoo Data Rollover

IM3 Ooredoo mengumumkan sebuah program Data Rollover yang diklaim merupakan terobosan dalam industri telekomunikasi di Indonesia.

Data Rollover memungkinkan pelanggan yang tidak menggunakan kuota data utama sampai habis sehingga bisa menggunakan sisa kuota yang ada di bulan berikutnya. Pelanggan dapat mengakumulasi sisa kuota ini selama satu tahun.

Data Rollover merupakan sebuah fitur tambahan yang dihadirkan bagi pelanggan Freedom Combo dan seluruh paket Internet Bulanan IM3 Ooredoo.

“Pelanggan dapat secara otomatis menyimpan sisa kuota utama yang tidak terpakai di setiap bulan secara gratis,” kata Alexander Rusli (President Director & Chief Executive Officer Indosat Ooredoo) di Jakarta, Kamis (2/1).

Data Rollover menghilangkan pengalaman internet yang tidak menyenangkan dalam industri telekomunikasi terkait dengan pengambilan kembali sisa kuota internet yang tidak terpakai, meskipun kuota tersebut telah dibayar oleh pelanggan.

Lebih dari itu, Data Rollover dapat dinikmati oleh semua orang, baik pelanggan setia maupun pelanggan baru IM3 Ooredoo tanpa dikenakan biaya tambahan. Pelanggan hanya perlu memastikan pulsa yang ada cukup sewaktu perpanjangan paket. Selain itu, mereka juga bisa melakukan pembelian ulang paket internet bulanan dengan harga yang sama atau lebih besar.

Memberi Keadilan bagi Pelanggan

Data Rollover memastikan pelanggan untuk dapat menyimpan kuota yang tidak mereka pergunakan sehingga tidak ada uang atau kuota internet yang terbuang sia-sia.

“Seringkali pelanggan membayar penuh paket internet dan di akhir periode sisa kuota internet yang tidak terpakai hilang begitu saja di bulan berikutnya. Banyak pelanggan yang masih memiliki sisa kuota internet tidak terpakai itu, tidak dapat menggunakannya secara penuh,” ujar Alexander.

IM3 Ooredoo melihat ada juga pelanggan yang menggunakan seluruh kuota internetnya, tetapi pelanggan takut untuk melangkah ke paket yang lebih besar atau membeli kuota lebih besar karena khawatir akan kuota yang nantinya tidak terpakai habis.

Dengan menggunakan Data Rollover, pelanggan yang memiliki kuota dalam jumlah besar dan pelanggan yang tidak menyisakan kuota sama sekali tidak perlu khawatir lagi tentang perhitungan penggunaan kuota internet secara tepat.

“Tidak seperti operator lainnya, kami menciptakan terobosan dan memberikan keadilan bagi para pelanggan. Pada intinya, merupakan sebuah kesalahan besar untuk mengambil kembali apa yang telah dibeli oleh pelanggan,” pungkasnya.

indosat-inspera

Indosat Ooredoo berhasil meraih dua gelar dalam ajang penghargaan bergengsi kelas dunia dalam bidang bisnis dan pemberdayaan perempuan, yaitu Stevie Awards for Women in Business 2016.

Kedua gelar itu diraih Indosat Ooredoo untuk dua kategori, Community Involvement Program of the Year dan Community Relations. Untuk setiap kategori, operator telekomunikasi asal Indonesia itu mendapatkan trofi Silver Stevie Award.

Pada kategori Community Involvement Program of the Year, Indosat Ooredoo diberi penghargaan atas program Inspera, yaitu inisiatif yang berfokus pada pemberdayaan wirausaha perempuan di area pedesaan dengan menawarkan pelatihan pemanfaatan teknologi mobile, kelas keahlian profesi, dan bincang-bincang dengan tokoh pengusaha perempuan.

Inspera berkomitmen untuk meningkatkan penetrasi perempuan yang terhubung ke mobile internet di Indonesia dari 40% ke 43% atau mencapai lebih dari 7 juta perempuan.

Sementara itu, pada kategori Community Relations, Indosat Ooredoo memperoleh penghargaan untuk program pemberdayaan TKW (Tenaga Kerja Wanita). Program hasil kerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja RI ini berfokus pada peningkatan keahlian tenaga kerja perempuan supaya mereka dapat memperoleh pekerjaan yang lebih layak atau membuka usaha sendiri sehingga tidak perlu bekerja di negara asing.

“Kami bersyukur atas dukungan komunitas internasional terhadap program pemberdayaan perempuan Indosat Ooredoo. Penghargaan ini menunjukkan kerja keras tim kami untuk mengubah dan meningkatkan kualitas hidup perempuan di Indonesia, termasuk wirausaha perempuan di pedesaan dan buruh migran perempuan,” ucap Alexander Rusli (Presiden dan CEO, Indosat Ooredoo).

“Kesetaraan gender menjadi inti dari program tanggung jawab sosial Ooredoo Group di seluruh pasar kami. Kami akan terus bekerja keras untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi digital bagi kaum perempuan yang ingin menggapai potensi terbesar mereka,” imbuh Sheikh Saud bin Nasser Al Thani (Group CEO, Ooredoo).

Ilustrasi aplikasi mobile. [Kredit: marketingland.com]

Ilustrasi aplikasi mobile. [Kredit: marketingland.com]

Indosat Ooredoo dan Modalku mengumumkan kerja sama dalam rangka memberikan pengguna Indosat akses yang lebih luas terhadap produk keuangan berbasis teknologi digital.

Langkah ini didukung dengan data statistik terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 132,7 juta penduduk.

Alexander Christian (Director of Digital Marketing, Modalku) menuturkan, data tersebut menunjukkan bahwa hampir 73% dari traffic internet Indonesia sekarang dilakukan lewat mobile device dan tablet, sedangkan laptop dan desktop hanya mendapatkan bagian sekitar 28%. Otomatis, layanan keuangan pun harus mengikuti perkembangan teknologi karena tren yang ada menunjukkan bahwa masyarakat ingin melakukan segalanya secara digital, termasuk transaksi keuangan.

Reynold Wijaya (CEO, Modalku) memercayai jika kerja sama dengan Indosat akan memaksimalkan kegiatan peer-to-peer lending Modalku di Indonesia. “Rencana kami ke depannya adalah memperbanyak pengguna produk teknologi finansial,” ujarnya.

Reynold pun menyebutkan jika potensi pemanfaatan teknologi finansial di pasar Indonesia sangat besar. Produk peer-to-peer lending Modalku dapat mengisi kebutuhan para pencari alternatif investasi yang merasa bahwa instrumen yang ada kurang cocok bagi mereka. Dengan membuka akses layanan keuangan bagi lebih banyak penduduk Indonesia, Modalku dan Indosat berharap dapat mendorong inklusi keuangan di negara ini.

Sementara itu, Randy Pangalila (Group Head Mobile Financial Services, Indosat Ooredoo) menyebut jika Indosat telah meningkatkan user experience pelanggan Dompetku dan memperluas early adopter pengguna eMoney di Indonesia dengan terus berinovasi melalui kerja sama dengan perusahaan terkemuka di industrinya, seperti Modalku yang merupakan perusahaan terkemuka peer-to-peer lending di Indonesia. Sekarang pelanggan Dompetku bisa melakukan layanan keuangan dengan nyaman, cepat, dan, aman hanya melalui ponsel mereka.

Modalku merupakan salah satu platform peer-to-peer lending (pinjam meminjam langsung) terbesar di Asia Tenggara dan telah beroperasi di Singapura, Indonesia, dan Malaysia. Berkat Modalku, UKM Indonesia dapat menerima pendanaan secara langsung dari pemberi pinjaman, baik individu maupun lembaga keuangan.

Sejak diluncurkan Januari 2016, Modalku telah memfasilitasi pinjaman jangka pendek sekitar Rp30 miliar bagi hampir 100 UKM Indonesia, sekaligus menawarkan tingkat pengembalian di atas bunga deposito ataupun obligasi bagi para pemberi pinjaman. Sampai dengan saat ini, Modalku mampu mempertahankan rekor pembayaran cicilan seratus persen dan tingkat kredit macet nol persen.

Ke depannya, kedua pihak akan menawarkan produk layanan finansial kepada pelanggan untuk memudahkan transaksi keuangan. Secara makro, kerja sama ini diharapkan dapat memajukan teknologi finansial di Indonesia dan membentuk dunia keuangan yang lebih inklusif.

ericsson_ooredoo_1-800x532

Ooredoo Group dan Ericsson menjalin kerja sama selama lima tahun ke depan untuk menerapkan sistem manajemen pendapatan Ericsson Revenue Manager (ERM) di seluruh kawasan operasional Ooredoo di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tenggara.

ERM merupakan solusi penagihan inovatif yang memungkinkan Ooredoo untuk menawarkan produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan secara lebih cepat. Ooredoo juga dapat menyusun tarif, paket, dan layanan yang berbeda-beda pada setiap pasar.

Solusi ERM siap diaplikasikan di layanan cloud sehingga membuat inovasi lebih cepat dan efisien, membuka kesempatan yang lebih luas bagi integrasi layanan digital di antara para partner lintas industri. Dengan platform tunggal, ERM juga lebih mudah dioperasikan dalam mengelola seluruh layanan dan pelanggan dari satu pintu saja.

“Ooredoo menargetkan kepemimpinan berbasis data dan menekankan pada pelayanan pelanggan sesuai kebutuhan mereka. Kemitraan dengan Ericsson ini memungkinkan setiap operasi Ooredoo dihantarkan dengan cepat, disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan, dan mempercepat pertumbuhan Internet of Things,” ujar Waleed Al Sayed (Deputy CEO, Ooredoo Group) dalam rilis pers.

Solusi ERM akan digunakan secara bertahap di seluruh cabang Ooredoo, dimulai dari Indonesia melalui Indosat Ooredoo–cabang terbesar mereka–pada bulan Desember 2016.

Langkah ini merupakan bagian dari program Digital Business Transformation di tubuh organisasi Ooredoo secara global.

Diharapkan setelah ini, Ooredoo akan merasakan penghematan biaya yang signifikan dari sistem dan perjanjian lokal saat ini menjadi model lisensi solusi yang mencakup keseluruhan grup bisnis.

“Kami siap berkolaborasi dengan Ooredoo Group dalam perjalanan transformasi digital mereka. Kerja sama ini mengakui inovasi yang dimiliki Ericsson Revenue Manager untuk menghantarkan pengalaman pelanggan yang berbeda-beda,” pungkas Rafiah Ibrahim (Head of Ericsson Region Middle East and East Africa).

Triawan Munaf di acara pengumuman pemenang IWIC 10. [Kredit: Deva Rachman]

Triawan Munaf di acara pengumuman pemenang IWIC 10. [Kredit: Deva Rachman]

Untuk mewujudkan misi sebagai “energi baru ekonomi digital di Asia”, sudah saatnya Indonesia memiliki Menteri Digital yang khusus mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan inovasi teknologi dan digital di tanah air.

Pendapat itu diutarakan Triawan Munaf (Kepala Badan Ekonomi Kreatif/Bekraf) dalam sambutannya di acara pengumuman pemenang IWIC 10, Rabu (2/11).

Menurut Triawan, ekonomi digital adalah satu dari 16 subsektor yang sekarang berada di bawah tanggung jawab Bekraf, tepatnya dengan nama “Aplikasi dan pengembang permainan”. Tapi, lima belas subsektor yang lainnya, seperti musik, film, dan periklanan, tidak bisa dilepaskan dari peranan teknologi digital.

“Bahkan mungkin Indonesia sudah perlu menteri khusus digital. Sekarang [urusan itu] masih ‘dikeroyok’ oleh Menkominfo, Menteri Perdagangan, BKPM, dan lain-lain,” kata Triawan. Dari bisnis tenun sampai musik dan film, bisnis-bisnis itu memerlukan solusi digital agar penghasilan mereka bisa menjadi lebih baik.

Sebagai informasi, sejumlah negara di dunia telah memiliki menteri urusan digital tersendiri, antara lain Inggris, Perancis, Taiwan, dan Polandia. Tapi, inisiatif itu memang baru-baru ini dimulai.

Peran pemerintah dalam mendukung ekonomi digital juga diakui penting oleh Sammy Pangerapan (Dirjen Aptika, Kemkominfo).

“Bagaimana caranya supaya pemerintah tidak menghambat perkembangan ekonomi digital ini? Kita harus memiliki pola pikir out of the box. Digital problem tidak bisa diselesaikan dengan analog solution,” ujarnya sambil menyebut kasus kontroversi aplikasi pemesanan transportasi online beberapa waktu lalu.

Selain dari sisi pemerintah, Sammy juga menyoroti peran pelaku bisnis dan masyarakat untuk melakukan transformasi menuju ekonomi digital.

“Pelaku bisnis harus aware dengan masalah di sekitar yang bisa diselesaikan dengan solusi digital, how to do economy different with digital. Sedangkan masyarakat mesti dididik tentang jejak digital, pembayaran online, dan sebagainya,” pungkas pria yang pernah menjabat sebagai Ketua APJII itu.

presentasi-ideabox-iwic-10

Industri teknologi sangatlah menjanjikan keuntungan yang besar, bahkan mengalahkan industri otomotif dan minyak gas. Tidak percaya? Lima besar perusahaan paling bernilai di dunia didominasi perusahaan teknologi seperti Apple dan Google, bahkan Samsung yang berasal dari Asia.

“Sangat tidak salah kalau kita berinvestasi di pasar teknologi karena tren industri ke depannya masuk pasar digital. Tidak salah kita ke sana,” kata Andy Zain (Pendiri dan CEO, Ideabox) dalam ajang Developer Conference IWIC 10 di Jakarta, Rabu (2/11).

Selain itu, Indonesia menawarkan prospek ekonomi digital yang besar, terlihat dari survei Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) yang mengungkapkan pengguna jasa internet di Indonesia sebanyak 132 juta. Sayangnya, masyarakat Indonesia banyak menghabiskan waktunya di internet dengan aplikasi buatan perusahaan asing seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube.

“Indonesia membutuhkan developer lokal untuk membuat aplikasi karena hanya developer lokal yang mengerti masalah orang Indonesia dan bisa menyelesaikannya. Kita pun tidak bisa selamanya mengandalkan aplikasi-aplikasi dari luar,” kata Alexander Rusli (Presiden Direktur dan CEO, Indosat Ooredoo).

Andy mengatakan para developer atau calon pengusaha startup harus membuat rencana matang sebelum membuat produk dan produk itu harus bisa menyelesaikan masalah penggunanya sehingga pengguna menyukainya.

“Kalau mau jadi pengusaha, rencananya apa dulu, start kita mau ngapain nih. Jangan langsung buat produknya. Kita pikirkan dulu masalahnya apa, baru cari produk yang bisa menyelesaikan masalah tersebut sehingga bisa ketemu segmentasi pasarnya,” ucap Andy.

“Terkadang ada produknya bagus tetapi tidak bisa menyelesaikan masalah. Jangan ngotot sama produknya, tetapi masalahnya dan pasarnya. Misal, Go-Jek sukses mampu menjawab masalah masyarakat luas tentang kebutuhan moda transportasi,” ujarnya.

Andy melanjutkan cari jenis usaha yang sesuai minat atau passion Anda sehingga nyaman dan tertantang mengerjakannya. “Saya punya bakat di bidang ini. Maka, cari partner yang bisa mengerjakannya bersama-sama. Mulailah dengan proyek kecil-kecilan. Carilah ide yang simple tetapi dibutuhkan orang banyak,” ucapnya.

Sementara itu, Gerry Mangentang (Vice President Product, Qlue) mengatakan seorang pengusaha startup juga harus pintar mengelola keuangan perusahaan, cashflow-nya, dan membuat neraca keuangan perusahaan tetap stabil. Hal itu sangat penting karena Anda harus mengembalikan uang tersebut kepada investor yang telah menyuntikan dananya.

“Jadi seorang pengusaha, Anda sudah mulai berpikir cost-nya. Anda harus berpikir positif setiap rupiah yang masuk adalah beban yang harus dikembalikan berkali-kali lipat,” pungkasnya.

Calvin Kizana (CEO PicMix) berbagi pengalaman tentang membangun startup di IWIC 10.

Calvin Kizana (CEO PicMix) berbagi pengalaman tentang membangun startup di IWIC 10.

Sebuah startup yang sukses tidak dibangun dalam semalam dan membutuhkan tim yang solid serta ide-ide yang brillian untuk mewujudkan. Tanpa ada tim yang kompak mustahil sebuah startup bisa sukses dan bertahan. Tak heran, banyak startup yang mampu bertahan seumur jagung di Indonesia.

Layaknya sebuah perusahaan besar, sebuah startup memiliki persyaratan formal yang mengedepankan nilai akademisi, psikologi, dan prestasi karyawan tersebut.

Calvin Kizana (CEO & Founder, PicMix) mengatakan membentuk tim yang solid memang gampang-gampang susah dalam sebuah startup. Carilah karyawan yang mau berjuang dari bawah dan memiliki visi yang sama dengan perusahaan.

“Karyawan saya memiliki passion yang sama dengan saya dan mereka sudah bekerja dengan saya dari lama sehingga loyalitasnya sudah terbentuk. Mereka mau berjuang dari nol dengan gaji yang kecil. Memang susah-susah gampang,” katanya dalam ajang Developer Conference IWIC 10 di Jakarta, Rabu (2/11).

Calvin melanjutkan, janganlah terlalu terpaku dengan mencari karyawan yang pintar dan memiliki nilai akademisi yang bagus. Tapi, carilah karyawan atau tim yang mau belajar dan bekerjasama. Meskipun kemampuan akademis dan pengalaman kerja dalam sebuah persyaratan kerja adalah keniscayaan.

“Jangan cari yang pintar. Biasanya orang yang pintar sok dan belagu. Carilah yang mau belajar dan mau diarahkan,” tegasnya.

Hal senada dikatakan Gerry Mangentang (Vice President Product, Qlue). “Jangan terlalu fokus mencari karyawan yang harus pintar. Namun, karyawan itu juga harus paham teknis. Jadi tidak bodoh-bodoh amat.”

Joshua Kevin (CEO dan Founder, Talenta Digital) menguraikan sebuah tim startup yang solid harus bisa menutupi masing-masing kekurangan setiap karyawannya.

“Saya mencari orang yang bisa menutupi kelemahan saya dan paham di bidang tersebut. Jadi, kami saling melengkapi,” ucap Joshua.

“Kami sadar, kami punya kekurangan. Karena itu, kami menggaji orang utuk menutup kekuarangan kami,” pungkasnya.

Para pemenang IWIC 10.

Para pemenang IWIC 10.

Indosat Ooredoo kembali melahirkan anak muda berbakat dalam bidang aplikasi mobile melalui ajang Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) ke-10. Sebanyak 34 peserta menjadi juara IWIC 10 dari total 3.592 proposal yang diterima dalam bentuk ide atau aplikasi.

Dari enam kategori utama yang masing-masing dibagi menjadi dua subkategori (Ideas dan Apps), lahirlah 34 juara dengan tiga pemenang untuk setiap kategori, kecuali Special Category – Youth With Disabilities – Apps.

Salah satu yang menarik dari pagelaran IWIC 10 adalah hadirnya juara asal luar negeri untuk pertama kalinya, yakni Rianna Patricia Cruz asal Filipina yang memboyong gelar juara pertama di kategori Women & Girls Ideas.

Daftar pemenang IWIC 10 secara lengkap bisa dilihat di sini.

Seusai acara pengumuman pemenang, InfoKomputer sempat mewawancarai lima orang peserta IWIC 10 yang sukses menjadi juara pertama di sejumlah kategori. Inilah kisah mereka dalam mengembangkan ide dan aplikasi yang diikutsertakan di kompetisi ini. Semoga bisa menginspirasi Anda, khususnya yang tertarik membuat aplikasi.

Rianna Patricia Cruz.

Rianna Patricia Cruz.

Rianna Patricia Cruz

Berasal dari Filipina, Patricia sukses menyabet juara I untuk kategori khusus Women & Girls – Idea. Patricia yang merupakan mahasiswi Tokyo Institute of Technology itu memperkenalkan sebuah ide brillian tentang Mighty Her. Mighty Her adalah aplikasi yang membantu perempuan ketika dalam situasi bahaya atau terdesak.

Mirip dengan “Panic Button”, aplikasi Mighty Her akan mengirimkan sinyal atau pesan kepada orang terdekat kita apabila kita dalam bahaya. Apalagi, Jakarta dan Manila memiliki kasus kriminal terhadap perempuan yang tinggi.

“Aplikasi ini lebih menyasar perempuan karena perempuan lebih rentan dengan pelecehan seksual dan kekerasan. Aplikasi ini dapat mengirimkan pesan kepada orang terdekat untuk meminta pertolongan,” katanya.

Harapannya, aplikasi ini akan membuat perempuan merasa nyaman di mana saja mereka berada dan tidak ada lagi orang yang tidak dikenal berani menyentuh dan mengganggu perempuan.

Patricia sangat mengapresiasi ajang IWIC 10 karena dapat meningkatkan potensi developer lokal dan memperkenalkan developer Indonesia di ajang internasional. Ia sendiri mengetahui acara IWIC dari konferensi Tech In Asia yang sempat hadir di Tokyo.

Fara Alifa Iswadhani.

Fara Alifa Iswadhani.

Fara Alifa Iswadhani

Fara Alifa Iswadhani sukses menyabet juara I untuk kategori Teens – Apps. Fara yang duduk di kelas VIII atau II SMP sukses membuat aplikasi Ordinary TeenBoy. Aplikasi itu memungkinkan pengguna untuk menceritakan keluh kesah di setiap aktivitasnya, mirip seperti sebuah buku harian atau diary.

“Idenya dari baper ya (bawa perasaan. red). Banyak anak-anak yang baper dan bingung untuk mencurahkan masalahnya,” ujarnya.

“Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mengeluarkan segala uneg-uneg dan antar-user bisa memberikan solusi mengenai permasalahan tersebut,” pungkasnya.

Fara mengaku akan menggunakan uang hadiahnya sebesar Rp12 juta untuk membeli Nintendo Switch.

Ahmad Danesh.

Ahmad Danesh.

Ahmad Danesh

Ahmad Danesh baru duduk di kelas IV SD Pondok Jagung, Serpong, dan sukses menyabet juara I untuk kategori Kids – Apps. Jangan lihat posturnya yang imut dan kecil karena Danesh berhasil membuat game petualangan bertajuk Adventure of Revi.

Danesh mengatakan game-nya masih versi beta dan masih membutuhkan banyak pengembangan. Cara mainnya, pengguna harus memainkan monster bernama “Revi” dan memburu makanan keju (cheese). Di tengah permainannya, pengguna akan mendapatkan perlawanan dari Naga (Dragon).

Game ini sih mirip Flappy Bird. Semakin banyak keju yang dimakan, semakin tinggi skornya,” ucap bocah yang menyukai klub sepak bola Arsenal FC itu.

Danesh yang ditemani ayahnya ketika mendapatkan penghargaan memang sangat menyukai dunia komputer. Kemampuannya dalam coding berasal dari ayah dan ibunya. Ayah Danesh berprofesi sebagai Network Engineer dan ibunya adalah programmer. Tidak heran jika Danesh sangat menyukai komputer.

“Saya juga mengursuskan Danesh komputer sejak kelas II SD. Memang dari kecil, dia lebih suka main game di komputer. Bahkan, kalau nangis atau rewel, dikasih game komputer bisa diam dia,” ujar ayah Danesh.

“Saya senang menjuarai ini dan akan kembali membuat game yang seru lagi dan lebih serius pada akhir tahun ini,” pungkas Danesh.

Adrian Naufal R.

Adrian Naufal R.

Adrian Naufal R.

Satu hal yang unik dari ajang IWIC 10 karena menghadirkan kategori spesial Youth With Disabilities – Apps yang menyertakan kaum difabel atau berkebutuhan khusus. Pasalnya, keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk membuat game atau mempelajari coding.

Adrian duduk di atas kursi roda tetapi tidak mengurangi semangatnya untuk membuat game. Adrian membuat game “The Prototype” yaitu game side scrolling shooter yang mengajak pengguna untuk menembak beberapa target tertentu.

“Cari game yang simpel-simpel saja dan juga coding harus sabar karena banyak tantangannya,” ucapnya.

“Saya membuat game ini sekitar setengah bulan dan game ini baru bisa berjalan di mobile. Saya akan membuat game yang bisa berjalan di semua perangkat,” ujarnya.

Rohhaji Nugroho.

Rohhaji Nugroho.

Rohhaji Nugroho

Rohhaji Nugroho menyabet juara I untuk kategori University Students & Public – Idea. Rohhaji sukses memberikan ide keren tentang Owis (Ojek Wisata). Rohhaji sendiri adalah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan Kebijakan Pendidikan.

Rohhaji melihat Yogyakarta memiliki potensi wisata yang besar dan banyaknya turis yang datang setiap tahunnya. Sayangnya, para turis kurang dimanjakan dengan moda transportasi yang ada. “Tidak semua turis yang datang itu rombongan dan mampu menyewa mobil. Ada turis yang datang sendiri dan tidak membutuhkan mobil untuk jalan-jalan,” kata dia.

Rohhaji menceritakan para turis bisa mengeluarkan biaya yang jauh lebih murah dengan naik ojek daripada harus menyewa mobil. Owis pun telah memiliki 15 mitra ojek yang siap mengantarkan turis ke tempat-tempat wisata di Yogyakarta.

“Saya dulu pernah jalan-jalan ke Lombok, Bali, dan Bandung. Susah sekali cari ojek untuk mengantar ke tempat-tempat wisata,” katanya.

“Layanan Owis ini berbeda Go-Jek karena Owis lebih ke tempat wisata sedangkan Go-Jek bisa ke tempat-tempat lainnya,” ujarnya.

Owis sudah memiliki akun resminya di Instagram yaitu ojek_wisata2016. “Dalam seminggu ada 3 – 10 turis yang menggunakan jasa kami,” pungkasnya.

Biayanya, turis bisa menyewa Owis untuk 8 jam dengan membayar Rp150 ribu untuk wilayah Yogyakarta. Untuk mobil, Owis menawarkan harga Rp400 ribu untuk 10 jam dengan tambahan biaya Rp25 ribu per jam, jika jamnya sudah melewati.

“Dana dari hadiah akan saya gunakan untuk mengembangkan website yang ada,” pungkasnya yang telah memiliki tim terdiri dari 3 orang.

iwic-10-daftar-pemenang

Seluruh pemenang IWIC 10.

Para pemenang Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) ke-10 telah diumumkan hari ini (2/11) dalam acara di Kantor Pusat Indosat Ooredoo, Jakarta. Salah satu finalis IWIC 10 asal Filipina, Rianna Patricia Cruz, berhasil menggondol salah satu gelar juara pertama, yaitu pada kategori Women & Girls Idea.

Sebagaimana diketahui, IWIC 10 melombakan enam kategori utama, yaitu Kids, Teens, University Students & Public, Developer, Special Category – Youth with Disabilities, dan Special Category – Women & Girls. Setiap kategori dibagi lagi menjadi dua subkategori, yakni Ideas (ide aplikasi) dan Apps (aplikasi yang sudah jadi), kecuali kategori Developer yang dibagi menjadi Apps dan Mobile Web.

Dari total 3.592 proposal ide dan aplikasi yang diterima pada penyelenggaraan IWIC 10 ini, panitia telah menyeleksi secara ketat dan menghasilkan 34 finalis yang kemudian diundang ke Jakarta untuk mengikuti bootcamp dan babak penjurian. Di antara 34 orang itu, terdapat tiga finalis yang datang dari luar Indonesia, yaitu Hiroto Aoki (Jepang), Rianna Patricia Cruz (Filipina), dan That Mon Aye (Myanmar).

Dewan juri yang terdiri dari perwakilan Indosat Ooredoo, Kompas Gramedia, Tech In Asia, Dicoding, dan HarukaEdu akhirnya memutuskan daftar pemenang IWIC 10 sebagai berikut:

Kategori Kids Idea:
Juara 1 Aisha Dinar Farahita (Pekanbaru) dengan ide aplikasi Let’s Find Alternative Energy
Juara 2 Muhammad Arya Bimasena (Bogor) dengan ide aplikasi Envy Troops
Juara 3 Aby Jenaki (Serang) dengan ide aplikasi Aby Go Clean

Kategori Kids Apps:
Juara 1 Ahmad Danesh (Serpong) dengan aplikasi Adventure of Revi
Juara 2 IGM Andhika Rai (Jakarta) dengan aplikasi Superhero Ball Fight
Juara 3 Nikeisha Ardhiona Dinari (Tangerang) dengan aplikasi Music Star

Pemenang IWIC 10 pada kategori Kids.

Pemenang IWIC 10 pada kategori Kids.

Kategori Teens Idea:
Juara 1 Nadiela Septiani (Bogor) dengan ide aplikasi Smart Vertical Garden
Juara 2 Septi Rachmawati (Depok) dengan ide aplikasi My Sensuss
Juara 3 Risma Nadia (Tangerang) dengan ide aplikasi Sampah? Capture!

Kategori Teens Apps:
Juara 1 Fara Alifa Iswandhani (Tangerang) dengan aplikasi Ordinary TeenBoy
Juara 2 Alif Akbar (Tangerang) dengan aplikasi Falling Ball
Juara 3 Benedictus Harris (Jakarta) dengan aplikasi Kegunaan Teknologi

Kategori University Student & Public Idea:
Juara 1 Rohhaji Nugroho (Yogyakarta) dengan ide aplikasi Owis (Ojek Wisata)
Juara 2 Hiroto Aoki (Jepang) dengan ide aplikasi Space Magical
Juara 3 Hamdan Fajri (Aceh) dengan ide aplikasi Meuge

Kategori University Student & Public Apps:
Juara 1 Fitrah Akbar Budiono (Serpong) dengan aplikasi FoodGasm
Juara 2 Taufan Arfianto (Tangerang) dengan aplikasi Pegi Haji
Juara 3 Agil Julio (Bandung) dengan aplikasi AR Belajar Binatang

Kategori Developers Mobile Web:
Juara 1 Mohammad Iqbal (Bandung) dengan web Bandros.co.id
Juara 2 That Mon Aye (Myanmar) dengan web Star Ticket
Juara 3 Ria Afrayani (Bekasi) dengan web Pembantu.com

Kategori Developers Apps:
Juara 1 Adam Ardisasmita (Bandung) dengan aplikasi Pippo Belajar Dinosaurus
Juara 2 Arrival Dwi Sentosa (Bandung) dengan aplikasi Uangku
Juara 3 Rudi Hartono (Bandung) dengan aplikasi Project Tarakan

Para pemenang IWIC 10 pada kategori khusus Youth with Disabilities atau kaum difabel.

Para pemenang IWIC 10 pada kategori khusus Youth with Disabilities atau kaum difabel.

Special Category – Youth with Disabilities Idea:
Juara 1 Fakhry Muhammad Rosa (Depok) dengan ide aplikasi Object Identifier
Juara 2 Ade Ismail (Balikpapan) dengan ide aplikasi Gobrak
Juara 3 Catur Sigit Nugroho (Kebumen) dengan ide aplikasi Aksesibilitas

Special Category – Youth with Disabilities Apps:
Juara Adrian Naufal R. (Tangerang) dengan aplikasi The Prototype

Special Category – Women & Girls Idea:
Juara 1 Rianna Patricia Cruz (Filipina) dengan ide aplikasi Mighty Her
Juara 2 Kurrotha A’yun Al-Ahdiyah (Depok) dengan ide aplikasi Meetink
Juara 3 Meike Rachmana (Bengkulu) dengan ide aplikasi Triviguide

Special Category – Women & Girls Apps:
Juara 1 Tiara Freddy Andika (Bandung) dengan aplikasi Twinniesamu
Juara 2 Siti Aisyah (Sidoarjo) dengan aplikasi Nutrikids Mobile Order
Juara 3 Inggrid Daneilla W. (Medan) dengan aplikasi Qoin

Para pemenang IWIC 10 kategori khusus wanita. Rianna Patricia Cruz (kiri) asal Filipina berhasil memboyong juara pertama.

Para pemenang IWIC 10 kategori khusus wanita. Rianna Patricia Cruz (kiri) asal Filipina berhasil memboyong juara pertama.

Para pemenang IWIC 10.

Para pemenang IWIC 10.

Indosat Ooredoo kembali melahirkan bakat-bakat baru di industri pengembangan aplikasi mobile setelah mengumumkan para pemenang ajang Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) ke-10 pada hari Rabu ini (2/11).

Sebanyak 34 peserta berhasil menjadi juara pada IWIC 10 setelah menyingkirkan pesaing-pesaing lainnya yang mengirimkan total 3.592 proposal dalam kompetisi ini. Daftar lengkap pemenang bisa dilihat di sini.

Angka ini sekaligus menunjukkan peningkatan partisipasi yang konstan dibandingkan IWIC-IWIC sebelumnya. Contohnya, IWIC 9 yang menerima 3.173 proposal, IWIC 8 yang “hanya” menerima 1.738 proposal, dan IWIC 7 dengan 667 proposal saja. Total proposal ide yang telah diterima IWIC selama sepuluh tahun penyelenggaraannya berjumlah 10.703 ide dan aplikasi.

Hebatnya, para peserta yang menjadi juara tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri, antara lain Filipina, Jepang, dan Myanmar. Mereka berhak membawa pulang hadiah uang tunai puluhan juta rupiah, smartphone 4G, rekening Dompetku, dan voucher Cipika.

“Dengan hadirnya peserta dari luar negeri, otomatis memberi kesempatan bagi para developer muda terbaik Indonesia untuk bersaing secara global. Kami berharap hal ini akan dapat meningkatkan daya saing talenta lokal agar mampu bersaing di tingkat dunia,” ujar Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo).

Alex juga menyoroti peningkatan jumlah proposal ide dan aplikasi pada kategori khusus Women & Girls dibandingkan tahun lalu. “Ini merupakan indikasi bahwa wanita juga mampu berperan dalam pengembangan dunia digital,” kata dia.

Pidato Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo).

Pidato Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo).

Sementara itu, Triawan Munaf (Kepala BEKRAF) menyatakan apresiasi kepada dedikasi Indosat Ooredoo yang secara konsisten menyelenggarakan IWIC selama satu dekade sebagai kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility).

“Dengan program ini, kita bisa memperbanyak talent pool untuk pengembang aplikasi berbakat. Tema Change The World yang diusung kali ini juga sangat relevan supaya anak-anak muda bisa peduli dengan masalah-masalah di sekelilingnya, lalu mencari solusi digitalnya,” tukas Triawan.

Sejak dimulai pada April lalu, IWIC 10 telah melewati serangkaian acara, di antaranya roadshow ke berbagai kampus dan gathering komunitas pengembang aplikasi di sejumlah daerah. Ada pula kegiatan Kids & Teens Hackathon, Developers Hackathon, Developers Challenge, dan Entrepreneurship Bootcamp selama dua hari.

Acara pengumuman pemenang hari ini pun diikuti oleh kegiatan Developer Conference berisi diskusi panel yang mendatangkan beragam pembicara dari dunia startup dan aplikasi mobile, seperti Qlue, PicMix, Talenta, Bukalapak, Ruangguru, serta aneka komunitas pengembang di daerah, yaitu Subali, SUWEC, Stasion, dan Bancakan 2.0.

Para peserta juga dapat mengikuti sesi Smart Pitching untuk mempresentasikan ide-ide bisnis mereka kepada para perwakilan investor yang hadir, antara lain Skystar Ventures, Mountain Kejora Ventures, Ideabox, dan Ideosource.

TERBARU

Ilustrasi keamanan iPhoneTidak ada perangkat yang aman, menyusul bocornya dokumen CIA yang menyebutan tidak ada satupun perangkat yang bisa selamat dari serangan siber....