Tags Posts tagged with "Intel"

Intel

Penampilan Lady Gaga di Super Bowl 2017. [Foto: Forbes]

Ajang Super Bowl atau final National Football League (NFL)/Liga Sepakbola Nasional Amerika Serikat setiap tahunnya selalu dimeriahkan oleh penampilan artis-artis terkemuka. Tak terkecuali tahun ini, Super Bowl 2017 menampilkan Lady Gaga yang menyanyikan lagu-lagu hitsnya pada saat jeda babak.

Menariknya, penampilan Lady Gaga itu diawali dengan aksi ratusan drone cahaya Shooting Star besutan Intel yang terbang di langit kota Houston, tempat laga Super Bowl 2017 dihelat.

Sekitar 300 drone Shooting Star terbang dan menari sambil memancarkan cahaya, kemudian menampilkan konfigurasi bendera Amerika Serikat ketika Lady Gaga membuka penampilannya di tepi tribun NRG Stadium, Houston. Saat itu, Lady Gaga menyanyikan dua lagu bertema nasionalisme, “God Bless America” dan “This Land is Your Land”.

Sebelumnya, drone Shooting Star dipergunakan pada pertunjukan-pertunjukan khusus masa liburan di wahana hiburan Disney World.

Drone Shooting Star adalah upaya Intel untuk memopulerkan drone yang dioperasikan secara massal, bukan individual. Intel mengklaim mampu mengendalikan lebih dari 10 ribu drone pada saat yang bersamaan.

Di masa depan, Intel memiliki visi untuk menggunakan pasukan drone ini dengan tujuan inspeksi lapangan atau pencarian dan penyelamatan korban bencana (SAR).

Andalkan Software

Dikutip dari TechCrunch, drone ini mengandalkan serangkaian aplikasi desktop yang berfungsi memprogram rute dan pergerakan setiap drone agar tidak saling bertabrakan satu sama lainnya. Pasalnya, drone ini tidak saling berkomunikasi dan tidak dilengkapi sensor antibenturan.

Satu unit drone terbuat dari busa styrofoam, plastik, dan baling-baling dengan cover untuk melindungi orang-orang yang menonton di bawah. Dengan bobot 280 gram, drone itu dapat terbang dalam keadaan hujan ringan sehingga dapat terbang di kondisi cuaca yang kurang baik.

Drone cahaya Intel Shooting Star di ajang Super Bowl 2017. [Foto: USA Today]

Hebatnya, drone ini bisa dirakit hanya dalam waktu 15 menit. Di bagian bawah drone, terdapat lampu LED bermacam warna yang bisa bercahaya dan mewarnai langit.

“Dengan Shooting Star, pertunjukan cahaya dapat disiapkan dalam beberapa hari, padahal sebelumnya butuh persiapan berbulan-bulan,” kata Intel.

Pada November 2016 lalu, Intel memecahkan rekor dunia dengan menerbangkan 500 unit drone Shooting Star dalam sebuah acara di kota Munich, Jerman. Sedangkan pada akhir 2015, Intel bekerasama dengan sekelompok seniman dan ilmuwan di Austria untuk menerbangkan 100 unit drone di kota Linz.

Video penampilan Lady Gaga dan drone Intel Shooting Star di ajang Super Bowl 2017:

Pabrikan chipset Intel melaporkan kenaikan pendapatan sebesar sebesar 9,8 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Kenaikan pendapatan Intel itu didorong oleh kondisi pasar PC yang mulai stabil dan menaiknya permintaan layanan-layanan data center Intel yang meningkat.

Hal itu terungkap dari laporan keuangan Intel untuk kuartal-IV 2016 yang berakhir pada 21 Desember.

Brian Krzanich (CEO Intel ) mengatakan saat ini pelanggan mulai menyukai dan membeli komputer gaming dan komputer kelas high-end sehingga meningkatkan penjualan prosesor untuk deskto dan laptop.

“Kami menutup Kuartal-IV dengan baik,” kata Krzanich seperti dikutip Venture Beat.

Dari segmen data center, pendapatan layanan cloud Intel naik 24 persen dan layanan komunikasi tumbuh 19 persen.

Krzanich melihat penggunaan data cloud akan meningkat di masa depan sehingga bisa mendongkrak penjualan prosesor Intel. Setelah keluar dari bisnis chip smartphone, Intel akan fokus memproduksi chip wireless 4G dan Wi-Fi serta mengembangkan solusi 5G.

Tahun lalu, pendapatan Intel mencapai 59,4 miliar dollar AS, dengan net income 10,3 miliar dollar AS. Tahun 2015, pendapatan Intel mencapai 55,4 miliar dollar AS dengan net income 11,3 miliar dollar AS.

Intel Compute Card 1

Intel Compute Card 1

Intel memamerkan Intel Compute Card yang merupakan platform komputer modular terbaru dan memiliki dimensi sangat mungil layaknya sebuah kartu kredit dalam ajang CES 2017 Las Vegas.

Sebelumnya, Intel dikenal memiliki komputer seukuran jari tangan lewat Intel Compute Stick. Namun, sekarang komputer juga bisa hadir dengan ukuran yang lebih kecil, seperti dikutip CNET.

Intel Compute Card mencakup semua elemen dari sebuah komputer PC, termasuk prosesor Intel Core vPro generasi ke-7 Kaby Lake, Intel SoC, memori, storage, dan konektivitas nirkabel dengan pilihan I/O nan fleksibel.

Konektivitasnya pun telah dilengkapi Wi-Fi dan Bluetooth. Untuk terhubung ke perangkat lain, Compute Card mengandalkan USB-C, HDMI, dan DisplayPort.

Hebatnya, Compute Card sangat portabel dan bisa dilepas-pasang. Misalnya, Anda bisa memasang Compute Card pada televisi dan kulkas dan mengubahnya menjadi perangkat cerdas. Jika ingin memperbaiki kinerjanya, pengguna bisa melepas kartu itu dan menggantinya dengan kartu dengan spesifikasi atau prosesor yang lebih canggih.

Intel Compute Card

Intel Compute Card

Kartu komputer itu dapat memenuhi berbagai kebutuhan digital seperti lemari es interaktif, smart kiosk, kamera security, robot, drone, AC, lampu pintar, gateway IoT, dan perangkat digital lain.

Intel Compute Card berukuran sedikit lebih besar daripada kartu kredit yaitu panjang 95 mm, lebar 55 mm, dan tebal 5mm.

Intel akan menggandeng mitra globalnya termasuk Dell, Hewlett-Packard, Lenovo, dan Sharp dalam memproduksi komputer seukuran kartu ini.

Rencananya, Intel Compute Card akan tersedia pada pertengahan tahun ini dan akan datang dengan berbagai pilihan prosesor, termasuk Intel Core generasi ketujuh.

Selain itu, beberapa perusahaan digital lain juga akan memanfaatkan Intel Compute Card ini dalam produk-produk mereka seperti Seneca Data, InFocus, DTx, TabletKiosk, dan Pasuntech.

Jam Tangan Pintar RunIQ

Jam Tangan Pintar RunIQ

Pabrikan sepatu New Balance dan Intel meluncurkan jam tangan pintar RunIQ dengan harga US$299 atau sekitar Rp3,9 jutaan. Arloji pintar itu mengusung prosesor Intel Atom.

New Balance telah membuka pemesanan RunIQ dan akan menjualnya di pasar pada 1 Februari 2017. Jam yang berjalan pada platform Android Wear itu mempunyai aplikasi seperti STRAVA dan Google Play Music.

Jam RunIQ juga memiliki fitur yaitu GPS, pengukur tekanan jantung, dan akan terhubung dengan smartphone. Baterai jam itu dapat bertahan selama 24 jam. RunIQ mengusung layar AMOLED 1.39 inci, DRAM 512 MB dan memori internal 4 GB.

Jam Tangan Pintar RunIQ 1

Jam Tangan Pintar RunIQ 1

Kerja sama Intel dan New Balance telah terjalin pada tahun lalu, ketika Brian Krzanich (CEO Intel) telah mengungkapkan rencana Intel untuk membuat jam pintar bersama New Balance, seperti dilansir GeekWire.

Intel membuat gebrakan ke dalam pasar olahraga dan menghadirkan perangkat teknologi yang dapat melacak langkah, membalas pesan, dan dilengkapi teknologi virtual reality (VR).

Audience members use virtual reality headsets to experience a series of travel, work and play situations as Brian Krzanich, Intel chief executive officers, speaks at a company news conference on Wednesday, Jan. 4, 2017, in Las Vegas. Intel Corporation presents new technology at the 2017 International Consumer Electronics Show. The event runs from Jan. 5 to Jan. 8, 2017, in Las Vegas. (CREDIT: Walden Kirsch/Intel Corporation)

Para wartawan mengenakan Oculus Rift untuk menonton demo VR yang disampaikan Brian Krzanich (CEO, Intel) di panggung CES 2017. [KREDIT: Walden Kirsch/Intel Corporation]

Teknologi virtual reality (VR) tampaknya menjadi fokus utama Intel pada ajang CES 2017, Las Vegas.

Terbukti, Brian Krzanich (CEO, Intel) menyampaikan keynote speech di hadapan para wartawan yang sudah dibekali perangkat Oculus Rift untuk menonton pidatonya dalam lingkungan VR. Pasalnya, Krzanich akan memamerkan sejumlah demo VR untuk berbagai kegiatan.

Seperti dilaporkan VentureBeat, demo VR pertama yang dilakukan Krzanich adalah pengalaman melompat dari tebing, kemudian terbang dengan parasut di atas gurun pasir. Sedangkan demo kedua yang ia perlihatkan yaitu suasana air terjun di Vietnam. Hebatnya, setiap frame dalam video itu memuat data 3 gigabyte agar menyajikan tampilan yang sempurna dan mirip seperti aslinya.

“Kami menawarkan beragam cara untuk menikmati perjalanan virtual yang terasa sangat nyata,” kata Krzanich.

Selain untuk kebutuhan turisme, VR juga dapat mengubah cara kita bekerja. Dalam demo ketiga, Krzanich menunjukkan seorang teknisi yang harus mengecek panel surya di atap sebuah gedung.

Biasanya, tugas itu dilakukan dengan bantuan drone, tetapi gambar yang diperoleh kurang jelas. Berkat teknologi VR, teknisi itu bisa melihat sekeliling 360 derajat dan memeriksa panel surya, tanpa harus beranjak dari tempat duduknya.

Sedangkan untuk keperluan hiburan, Krzanich menggelar demo keempat yang memungkinkan pengguna untuk menonton pertandingan olahraga atau konser musik, seperti berada langsung di stadion atau tempat konser. Asyiknya, pengguna dapat memilih bangku atau posisi terbaik untuk menonton pertunjukan itu.

“Inilah masa depan tontonan olahraga,” tukas Krzanich.

Brian Krzanich, Intel chief executive officers, displays the Project Alloy all-in-one virtual reality headset at a company news conference on Wednesday, Jan. 4, 2017, in Las Vegas. Intel Corporation presents new technology at the 2017 International Consumer Electronics Show. The event runs from Jan. 5 to Jan. 8, 2017, in Las Vegas. (CREDIT: Walden Kirsch/Intel Corporation)

Brian Krzanich (CEO, Intel) memamerkan Project Alloy, headset VR rancangan Intel, di panggung CES 2017. [KREDIT: Walden Kirsch/Intel Corporation]

Realisasi Project Alloy

Intel sendiri sekarang sedang mengembangkan perangkat VR terintegrasi yang dinamakan Project Alloy. Pertama kali diumumkan pada tahun lalu, Project Alloy dijanjikan bakal mulai diproduksi pada akhir tahun 2017.

“Kami berkomitmen untuk membuat Project Alloy tetap berada di platform terbuka,” ujar Krzanich.

Sejak awal, Intel memang tidak berniat memproduksi headset VR ini sendiri, seperti yang dilakukan Google dengan perangkat Daydream View-nya. Tetapi, mereka akan menggandeng mitra-mitra manufaktur mereka.

Perbedaan Project Alloy dengan headset VR lainnya adalah perangkat ini dirancang Intel untuk menghadirkan pengalaman VR nirkabel (wireless), tanpa membutuhkan koneksi dengan PC atau konsol. Di dalamnya, sudah tersemat prosesor Intel generasi ke-7, prosesor penginderaan (vision processor), kamera RealSense, sensor dan lensa fish-eye, dan baterai.

Lenovo ThinkPad Yoga 370 2-in-1

Lenovo ThinkPad Yoga 370 2-in-1

Sambut CES 2017, Lenovo akan meluncurkan laptop ThinkPad terbaru dan laptop hybrid 2-in-1 dengan prosesor Intel Kaby Lake chips. ThinkPad terbaru itu menawarkan kemampuan layar yang lebih baik, memory DDR4 yang lebih cepat dan kapasitas media penyimpanan yang lebih besar.

Laptop itu memiliki fitur-fitur yaitu port USB, konektivitas LTE, touchpad yang responsif dan tambahan kamera infrared untuk Windows Hello yang akan tersedia pada varian ThinkPad X, L and T.

Lenovo juga memperkenalkan ThinkPad Yoga 370 2-in-1 yang merubah laptop Lenovo pertama yang mengusung layar HD 13,3 inci dengan 3 port Thunderbolt.

Tidak ada yang salah dengan desain mainstream ThinkPad yang kokoh tetapi Anda menginginkan sebuah laptop yang ramping dan ringan serta masa pakai baterai yang lama. Karena itu, Lenovo juga memiliki kejutan lainnya yaitu laptop 2-in-1 seperti dilansir ComputerWorld.

Lenovo akan memperkenalkan ThinkPad Yoga 370 yang bobotnya hanya 1.37 kilogram dan tersedia dengan harga $1,264 atau sekitar Rp15 jutaan pada Maret. Sesuai namanya 2-in-1, Anda bisa memutar 360 derajat layar ThinkPad Yoga 370 menjadi sebuah tablet.

ThinkPad Yoga 370 mengusung media penyimpanan SSD 1 TB dan RAM DDR4 RAM. Sebagai tambahan ada fitur Thunderbolt 3, atau USB 3.0 ports, a MicroSD slot dan HDMI port.

Lenovo pun menghadirkan varian ThinkPad 13 yang menawarkan layar HD 13,3 inci, media penyimpanan SSD NYMe dan harganya yang jauh lebih terjangkau senilai $674 atau sekitar Rp,8 jutaan.

Selain itu, Lenovo juga akan meluncurkan varian ThinkPad T-seri yang menyasar pasar pengusaha dan desainnya yang terlihat sangat tipis. Lenovo membanderol LenovoThinkPad T470p senilai $914 atau sekitar Rp13 jutaan dan T470s senilai $1,099 atau Rp14 jutaan.

Kedua laptop yang mengusung layar 2560 x 1440 pixel baru akan tersedia pada Februari atau Maret 2017.

Paling ganas, Lenovo juga akan memamerkan Lenovo ThinkPad T570 yang mengusung layar sentuh 4K 15.6-inci, memori Intel yang sangat cepat, kartu grafis Nvidia GeForce 940MX dan DRAM 32 GB.

Laptop itu memiliki bobot 2.04 kg dengan banderol $909 atau sekitar Rp12 Jutaan.

“Kalau dari sisi performance, rata-rata Power System lebih tinggi 2-3 kali dibanding x86” ungkap Wulandari Mawardi, Linux Server Solution Leader, IBM Indonesia

Sistem operasi open source, utamanya Linux, perannya kini kian krusial. Jika mengacu riset W3Tech.com, Linux kini digunakan 66,7% dari seluruh situs yang ada di dunia. Linux juga semakin banyak digunakan di banyak perusahaan, termasuk critical application yang sebelumnya lebih banyak menggunakan aplikasi proprietary. Hal ini tidak lepas dari semakin matangnya Linux dan komunitas yang mendukung di belakangnya.

Bagi IBM, fenomena ini sejalan dengan komitmen mereka mendukung dunia open source. Sejak tahun 2000, IBM telah menegaskan Linux sebagai bagian dari strategi IBM ke depan. Dukungan itu terlihat dari sumbangan finansial maupun personil IBM untuk komunitas Linux. Yang tak kalah penting, IBM juga merilis Power Linux, server berbasis prosesor PowerPC yang khusus mendukung Linux.

Sekadar mengingatkan, PowerPC adalah prosesor jenis RISC yang dibangun IBM sejak era 1980an. PowerPC adalah prosesor di balik server Power Systems yang umum digunakan critical application di berbagai industri. Kini ketika peran Linux kian krusial, IBM Power Linux menjadi pilihan menarik ketika perusahaan mengadopsi Linux di data center-nya.

Akan tetapi, di jagat Linux, konsumen kini memiliki banyak pilihan. Server berbasis prosesor Intel (atau biasa disebut x86), praktis juga mampu menjalankan Linux. Namun bagi IBM, Power Linux memiliki kelebihan tersendiri dibanding platform x86. Keunggulan tersebut meliputi performa serta RAS Feature (RAS adalah singkatan dari Reliability, Availability, and Serviceability).

“Kalau dari sisi performance, rata-rata Power System lebih tinggi 2-3 kali dibanding x86” ungkap Wulandari Mawardi, Linux Server Solution Leader, IBM Indonesia di sela-sela acara IBM Systems Technology Forum belum lama ini. Sementara untuk RAS, Power Linux adalah turunan dari Power Systems yang legendaris itu. Dengan sejarah panjang di balik Power Systems, Wulan mengklaim Linux yang berjalan di atas Power Linux akan memiliki keandalan di atas x86.

Perusahaan pun tidak perlu khawatir akan potensi vendor lock-in ketika menggunakan Power Linux. Hal ini telah dirasakan developer yang menjadi peserta IBM Linux Challenge. “Awalnya mereka mengerjakan aplikasi mereka di x86, lalu di akhir lomba kami pinjamkan Power Linux” ungkap Wulan. Ternyata, aplikasi mereka berjalan lancar tanpa kendala saat berjalan di Power Linux.

Hal ini menunjukkan, migrasi dari x86 dan Power Systems (dan sebaliknya) bukanlah sebuah kendala. IBM juga telah menyiapkan tim khusus untuk membantu perusahaan melakukan migrasi. “Kalo customer ada keraguan, IBM menyediakan tim untuk melakukan porting atau POC (Proof of Concept)” ungkap Wulan.

Di tengah banyaknya pilihan server berbasis x86, IBM melihat Power Linux berada di posisi yang lebih strategis. Keunggulan performa dan RAS dari Power Linux membuat server jenis ini lebih cocok untuk aplikasi penting perusahaan. “Karena turunan dari Power Systems, Power Linux lebih sesuai untuk aplikasi yang critical” ungkap Wulan. Hal ini juga sejalan dengan trend semakin banyaknya aplikasi critical di berbagai industri yang kini berjalan di lingkungan Linux.

Di masa depan, IBM juga berkomitmen untuk terus membangun ekosistem Linux. “Karena kami sadar, Linux dibangun di atas ekosistem sehingga kita tidak bisa melakukannya sendiri” tambah Wulan. Komitmen IBM itu bisa dilihat dari kegigihan mereka menggandeng ISV (Independent Software Vendor) untuk membangun aplikasi di atas Power Linux.

Ilustrasi Tiongkok

Ilustrasi Tiongkok

Perusahaan-perusahaan teknologi menyerang balik undang-undang siber terbaru Tiongkok yang mengharuskan perusahan menyerahkan hak milik kode program kepada pemerintah Tiongkok.

Dalam UU siber baru tersebut, pemerintah Tiongkok mengharuskan perusahaan peranti lunak, perusahaan peralatan jaringan dan teknologi untuk membuka kode program sistem keamanan komputernya.

Menurut Wall Street Journal, pemerintah Tiongkok ingin mengetahui apakah sistem keamanan perusahaan-perusahaan teknologi itu mampu menangkis serangan hacker.

Tentunya, perusahaan-perusahaan teknologi itu yang dipimpin Intel, Microsoft dan IBM mempertanyakan jaminan keamanan pemerintah Tiongkok agar kode programnya tidak jatuh ke tangan orang yang salah.

“Tiongkok hanya mau kode program tanpa menjamin keamanan dan pengawasannya,” kata Microsoft dalam pernyataannya seperti dikutip Fortune.

Padahal, perusahaan teknologi itu sudah menunjukan itikad bisnis yang bagus dengan pemerintah Tiongkok dan akan membuka pusat transparansi yang memungkinkan pemerintah menguji dan menganalisa keamanan produk Microsoft.

Intel beranggapan peraturan siber terbaru itu akan menghalangi inovasi dan membuat perusahaan teknologi berpikir dua kali untuk berinvestasi di Tiongkok. Agustus lalu, pemerintah Tiongkok menjamin undang-undang siber terbaru itu tidak akan menghampat suntikan investor asing yang mau masuk ke Tiongkok.

Pemerintah Tiongkok sangat memperhatikan penyataan Edward Snowden tentang “Pintu Belakang” yang memungkinkan National Security Agency (NSA) memata-matai pemerintah asing

Saat ini belum ada perusahaan asing yang angkat kaki dari Tiongkok lantaran regulasi tersebut. “Saya tidak yakin mereka akan pergi dari Tiongkok dan saya belum mendengar rumor itu sama sekali,” kata James Gong (Pejabat Senior Herbert Smith Freehills).

Ilustrasi Wearable Intel

Ilustrasi Wearable Intel

Intel berencana akan merumahkan sebagian besar karyawan divisi New Devices Group (NDG) pada akhir tahun 2016 dan Intel tidak akan melanjutkan berbagai proyek dari divisi NDG, termasuk proyek jam pintar Ruby yang dirancang untuk memantau kebugaran penggunanya.

Divisi NDG sendiri adalah divisi Intel yang mengembangkan perangkat wearable. Sebelumnya, Intel juga telah menutup divisi lainnya New Technologies Group pada April 2015 lalu.

Kebijakan itu adalah sinyal bahwa Intel sudah mulai menyerah terhadap pengembangan perangkat wearable.

Bahkan, sumber internal menyebutkan Intel akan mundur total dari investasinya di bidang teknologi wearable. Meskipun Brian Krzanich (CEO Intel) mengungkapkan Intel sangat berkomitmen mengembangkan teknologi wearable.

Jam Tangan Intel Ruby

Jam Tangan Intel Ruby

Pada 2014, Intel membeli Basis, sebuah perusahaan yang memproduksi produk jam kebugaran dan Intel membentuk divisi New Devices Group (NDG) untuk memenangkan persaingannya melawan Qualcomm, seperti dikutip Tech Crunch.

Sayangnya, Intel menarik kembali smartwatch Basis Peak karena mengalami overheating pada Juni 2016. Intel kemudian menghentikan penjualannya daripada mengganti unitnya. Intel pun akan mematikan dukungan software Peak pada akhir tahun.

Dari penampakannya, Ruby terlihat seperti jam tangan memiliki fungsi penghitung waktu tidur dan pendeteksi detak jantung. Ada juga sejumlah fitur standar layaknya smartwatch pada umumnya, dengan sistem operasi Basis yang teranyar.

Drone Intel Shooting Star

Drone Intel Shooting Star

Intel memecahkan rekor dunia dengan menerbangkan 500 unit drone Shooting Star dalam sebuah acara di kota Munich, Jerman. Drone quadcopter Shooting Star dapat menampilkan light show atau atraksi pertunjukan cahaya yang menyerupai kembang api.

Sebelumnya, pada awal 2016 lalu, Intel berhasil menerbangkan 100 drone bercahaya dan juga memecahkan rekor dunia.

Shooting Star memiliki algoritma yang mengirimkan perintah pada drone untuk secara otomatis membentuk pola tertentu dan menghitung jumlah drone yang dibutuhkan. Algoritma ini juga menentukan posisi setiap drone dan pergerakan tercepat untuk membentuk sebuah gambar di langit, berdasarkan sisa baterai serta penerimaan sinyal GPS.

Drone Shooting Star itu memiliki lampu LED yang dapat menyala dalam kombinasi 4 miliar warna. “Dengan Shooting Star, pertunjukan cahaya dapat disiapkan dalam beberapa hari, padahal sebelumnya butuh persiapan berbulan-bulan,” kata Intel seperti dilansir Digital Trends.

Hebatnya, pengguna hanya membutuhkan satu pilot untuk mengendalikan sekumpulan drone Shooting Star.

Drone itu terbuat dari busa, plastik, dan baling-baling dengan cover untuk melindungi orang-orang yang menonton di bawah. Dengan bobot 280 gram, drone itu dapat terbang dalam keadaan hujan ringan sehingga dapat terbang di kondisi cuaca yang kurang baik.

Sayangnya, Intel belum membeberkan harga Shooting Star dan belum berencana menjual drone itu kepada konsumen. Tapi, Intel telah mendapatkan persetujuan FAA (Federal Aviation Administration) untuk menampilkan pertunjukan cahaya yang serupa di langit Amerika Serikat.

TERBARU

Dengan memanfaatkan machine learning, sebuah bank bisa lebih efisien sekaligus memberikan layanan optimal bagi nasabahnya. Kesimpulan itulah yang bisa ditarik dari pengalaman Bank DBS yang saat ini mulai memanfaatkan machine learning.