Tags Posts tagged with "iwic"

iwic

presentasi-ideabox-iwic-10

Industri teknologi sangatlah menjanjikan keuntungan yang besar, bahkan mengalahkan industri otomotif dan minyak gas. Tidak percaya? Lima besar perusahaan paling bernilai di dunia didominasi perusahaan teknologi seperti Apple dan Google, bahkan Samsung yang berasal dari Asia.

“Sangat tidak salah kalau kita berinvestasi di pasar teknologi karena tren industri ke depannya masuk pasar digital. Tidak salah kita ke sana,” kata Andy Zain (Pendiri dan CEO, Ideabox) dalam ajang Developer Conference IWIC 10 di Jakarta, Rabu (2/11).

Selain itu, Indonesia menawarkan prospek ekonomi digital yang besar, terlihat dari survei Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) yang mengungkapkan pengguna jasa internet di Indonesia sebanyak 132 juta. Sayangnya, masyarakat Indonesia banyak menghabiskan waktunya di internet dengan aplikasi buatan perusahaan asing seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube.

“Indonesia membutuhkan developer lokal untuk membuat aplikasi karena hanya developer lokal yang mengerti masalah orang Indonesia dan bisa menyelesaikannya. Kita pun tidak bisa selamanya mengandalkan aplikasi-aplikasi dari luar,” kata Alexander Rusli (Presiden Direktur dan CEO, Indosat Ooredoo).

Andy mengatakan para developer atau calon pengusaha startup harus membuat rencana matang sebelum membuat produk dan produk itu harus bisa menyelesaikan masalah penggunanya sehingga pengguna menyukainya.

“Kalau mau jadi pengusaha, rencananya apa dulu, start kita mau ngapain nih. Jangan langsung buat produknya. Kita pikirkan dulu masalahnya apa, baru cari produk yang bisa menyelesaikan masalah tersebut sehingga bisa ketemu segmentasi pasarnya,” ucap Andy.

“Terkadang ada produknya bagus tetapi tidak bisa menyelesaikan masalah. Jangan ngotot sama produknya, tetapi masalahnya dan pasarnya. Misal, Go-Jek sukses mampu menjawab masalah masyarakat luas tentang kebutuhan moda transportasi,” ujarnya.

Andy melanjutkan cari jenis usaha yang sesuai minat atau passion Anda sehingga nyaman dan tertantang mengerjakannya. “Saya punya bakat di bidang ini. Maka, cari partner yang bisa mengerjakannya bersama-sama. Mulailah dengan proyek kecil-kecilan. Carilah ide yang simple tetapi dibutuhkan orang banyak,” ucapnya.

Sementara itu, Gerry Mangentang (Vice President Product, Qlue) mengatakan seorang pengusaha startup juga harus pintar mengelola keuangan perusahaan, cashflow-nya, dan membuat neraca keuangan perusahaan tetap stabil. Hal itu sangat penting karena Anda harus mengembalikan uang tersebut kepada investor yang telah menyuntikan dananya.

“Jadi seorang pengusaha, Anda sudah mulai berpikir cost-nya. Anda harus berpikir positif setiap rupiah yang masuk adalah beban yang harus dikembalikan berkali-kali lipat,” pungkasnya.

Calvin Kizana (CEO PicMix) berbagi pengalaman tentang membangun startup di IWIC 10.

Calvin Kizana (CEO PicMix) berbagi pengalaman tentang membangun startup di IWIC 10.

Sebuah startup yang sukses tidak dibangun dalam semalam dan membutuhkan tim yang solid serta ide-ide yang brillian untuk mewujudkan. Tanpa ada tim yang kompak mustahil sebuah startup bisa sukses dan bertahan. Tak heran, banyak startup yang mampu bertahan seumur jagung di Indonesia.

Layaknya sebuah perusahaan besar, sebuah startup memiliki persyaratan formal yang mengedepankan nilai akademisi, psikologi, dan prestasi karyawan tersebut.

Calvin Kizana (CEO & Founder, PicMix) mengatakan membentuk tim yang solid memang gampang-gampang susah dalam sebuah startup. Carilah karyawan yang mau berjuang dari bawah dan memiliki visi yang sama dengan perusahaan.

“Karyawan saya memiliki passion yang sama dengan saya dan mereka sudah bekerja dengan saya dari lama sehingga loyalitasnya sudah terbentuk. Mereka mau berjuang dari nol dengan gaji yang kecil. Memang susah-susah gampang,” katanya dalam ajang Developer Conference IWIC 10 di Jakarta, Rabu (2/11).

Calvin melanjutkan, janganlah terlalu terpaku dengan mencari karyawan yang pintar dan memiliki nilai akademisi yang bagus. Tapi, carilah karyawan atau tim yang mau belajar dan bekerjasama. Meskipun kemampuan akademis dan pengalaman kerja dalam sebuah persyaratan kerja adalah keniscayaan.

“Jangan cari yang pintar. Biasanya orang yang pintar sok dan belagu. Carilah yang mau belajar dan mau diarahkan,” tegasnya.

Hal senada dikatakan Gerry Mangentang (Vice President Product, Qlue). “Jangan terlalu fokus mencari karyawan yang harus pintar. Namun, karyawan itu juga harus paham teknis. Jadi tidak bodoh-bodoh amat.”

Joshua Kevin (CEO dan Founder, Talenta Digital) menguraikan sebuah tim startup yang solid harus bisa menutupi masing-masing kekurangan setiap karyawannya.

“Saya mencari orang yang bisa menutupi kelemahan saya dan paham di bidang tersebut. Jadi, kami saling melengkapi,” ucap Joshua.

“Kami sadar, kami punya kekurangan. Karena itu, kami menggaji orang utuk menutup kekuarangan kami,” pungkasnya.

Para pemenang IWIC 10.

Para pemenang IWIC 10.

Indosat Ooredoo kembali melahirkan anak muda berbakat dalam bidang aplikasi mobile melalui ajang Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) ke-10. Sebanyak 34 peserta menjadi juara IWIC 10 dari total 3.592 proposal yang diterima dalam bentuk ide atau aplikasi.

Dari enam kategori utama yang masing-masing dibagi menjadi dua subkategori (Ideas dan Apps), lahirlah 34 juara dengan tiga pemenang untuk setiap kategori, kecuali Special Category – Youth With Disabilities – Apps.

Salah satu yang menarik dari pagelaran IWIC 10 adalah hadirnya juara asal luar negeri untuk pertama kalinya, yakni Rianna Patricia Cruz asal Filipina yang memboyong gelar juara pertama di kategori Women & Girls Ideas.

Daftar pemenang IWIC 10 secara lengkap bisa dilihat di sini.

Seusai acara pengumuman pemenang, InfoKomputer sempat mewawancarai lima orang peserta IWIC 10 yang sukses menjadi juara pertama di sejumlah kategori. Inilah kisah mereka dalam mengembangkan ide dan aplikasi yang diikutsertakan di kompetisi ini. Semoga bisa menginspirasi Anda, khususnya yang tertarik membuat aplikasi.

Rianna Patricia Cruz.

Rianna Patricia Cruz.

Rianna Patricia Cruz

Berasal dari Filipina, Patricia sukses menyabet juara I untuk kategori khusus Women & Girls – Idea. Patricia yang merupakan mahasiswi Tokyo Institute of Technology itu memperkenalkan sebuah ide brillian tentang Mighty Her. Mighty Her adalah aplikasi yang membantu perempuan ketika dalam situasi bahaya atau terdesak.

Mirip dengan “Panic Button”, aplikasi Mighty Her akan mengirimkan sinyal atau pesan kepada orang terdekat kita apabila kita dalam bahaya. Apalagi, Jakarta dan Manila memiliki kasus kriminal terhadap perempuan yang tinggi.

“Aplikasi ini lebih menyasar perempuan karena perempuan lebih rentan dengan pelecehan seksual dan kekerasan. Aplikasi ini dapat mengirimkan pesan kepada orang terdekat untuk meminta pertolongan,” katanya.

Harapannya, aplikasi ini akan membuat perempuan merasa nyaman di mana saja mereka berada dan tidak ada lagi orang yang tidak dikenal berani menyentuh dan mengganggu perempuan.

Patricia sangat mengapresiasi ajang IWIC 10 karena dapat meningkatkan potensi developer lokal dan memperkenalkan developer Indonesia di ajang internasional. Ia sendiri mengetahui acara IWIC dari konferensi Tech In Asia yang sempat hadir di Tokyo.

Fara Alifa Iswadhani.

Fara Alifa Iswadhani.

Fara Alifa Iswadhani

Fara Alifa Iswadhani sukses menyabet juara I untuk kategori Teens – Apps. Fara yang duduk di kelas VIII atau II SMP sukses membuat aplikasi Ordinary TeenBoy. Aplikasi itu memungkinkan pengguna untuk menceritakan keluh kesah di setiap aktivitasnya, mirip seperti sebuah buku harian atau diary.

“Idenya dari baper ya (bawa perasaan. red). Banyak anak-anak yang baper dan bingung untuk mencurahkan masalahnya,” ujarnya.

“Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mengeluarkan segala uneg-uneg dan antar-user bisa memberikan solusi mengenai permasalahan tersebut,” pungkasnya.

Fara mengaku akan menggunakan uang hadiahnya sebesar Rp12 juta untuk membeli Nintendo Switch.

Ahmad Danesh.

Ahmad Danesh.

Ahmad Danesh

Ahmad Danesh baru duduk di kelas IV SD Pondok Jagung, Serpong, dan sukses menyabet juara I untuk kategori Kids – Apps. Jangan lihat posturnya yang imut dan kecil karena Danesh berhasil membuat game petualangan bertajuk Adventure of Revi.

Danesh mengatakan game-nya masih versi beta dan masih membutuhkan banyak pengembangan. Cara mainnya, pengguna harus memainkan monster bernama “Revi” dan memburu makanan keju (cheese). Di tengah permainannya, pengguna akan mendapatkan perlawanan dari Naga (Dragon).

Game ini sih mirip Flappy Bird. Semakin banyak keju yang dimakan, semakin tinggi skornya,” ucap bocah yang menyukai klub sepak bola Arsenal FC itu.

Danesh yang ditemani ayahnya ketika mendapatkan penghargaan memang sangat menyukai dunia komputer. Kemampuannya dalam coding berasal dari ayah dan ibunya. Ayah Danesh berprofesi sebagai Network Engineer dan ibunya adalah programmer. Tidak heran jika Danesh sangat menyukai komputer.

“Saya juga mengursuskan Danesh komputer sejak kelas II SD. Memang dari kecil, dia lebih suka main game di komputer. Bahkan, kalau nangis atau rewel, dikasih game komputer bisa diam dia,” ujar ayah Danesh.

“Saya senang menjuarai ini dan akan kembali membuat game yang seru lagi dan lebih serius pada akhir tahun ini,” pungkas Danesh.

Adrian Naufal R.

Adrian Naufal R.

Adrian Naufal R.

Satu hal yang unik dari ajang IWIC 10 karena menghadirkan kategori spesial Youth With Disabilities – Apps yang menyertakan kaum difabel atau berkebutuhan khusus. Pasalnya, keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk membuat game atau mempelajari coding.

Adrian duduk di atas kursi roda tetapi tidak mengurangi semangatnya untuk membuat game. Adrian membuat game “The Prototype” yaitu game side scrolling shooter yang mengajak pengguna untuk menembak beberapa target tertentu.

“Cari game yang simpel-simpel saja dan juga coding harus sabar karena banyak tantangannya,” ucapnya.

“Saya membuat game ini sekitar setengah bulan dan game ini baru bisa berjalan di mobile. Saya akan membuat game yang bisa berjalan di semua perangkat,” ujarnya.

Rohhaji Nugroho.

Rohhaji Nugroho.

Rohhaji Nugroho

Rohhaji Nugroho menyabet juara I untuk kategori University Students & Public – Idea. Rohhaji sukses memberikan ide keren tentang Owis (Ojek Wisata). Rohhaji sendiri adalah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan Kebijakan Pendidikan.

Rohhaji melihat Yogyakarta memiliki potensi wisata yang besar dan banyaknya turis yang datang setiap tahunnya. Sayangnya, para turis kurang dimanjakan dengan moda transportasi yang ada. “Tidak semua turis yang datang itu rombongan dan mampu menyewa mobil. Ada turis yang datang sendiri dan tidak membutuhkan mobil untuk jalan-jalan,” kata dia.

Rohhaji menceritakan para turis bisa mengeluarkan biaya yang jauh lebih murah dengan naik ojek daripada harus menyewa mobil. Owis pun telah memiliki 15 mitra ojek yang siap mengantarkan turis ke tempat-tempat wisata di Yogyakarta.

“Saya dulu pernah jalan-jalan ke Lombok, Bali, dan Bandung. Susah sekali cari ojek untuk mengantar ke tempat-tempat wisata,” katanya.

“Layanan Owis ini berbeda Go-Jek karena Owis lebih ke tempat wisata sedangkan Go-Jek bisa ke tempat-tempat lainnya,” ujarnya.

Owis sudah memiliki akun resminya di Instagram yaitu ojek_wisata2016. “Dalam seminggu ada 3 – 10 turis yang menggunakan jasa kami,” pungkasnya.

Biayanya, turis bisa menyewa Owis untuk 8 jam dengan membayar Rp150 ribu untuk wilayah Yogyakarta. Untuk mobil, Owis menawarkan harga Rp400 ribu untuk 10 jam dengan tambahan biaya Rp25 ribu per jam, jika jamnya sudah melewati.

“Dana dari hadiah akan saya gunakan untuk mengembangkan website yang ada,” pungkasnya yang telah memiliki tim terdiri dari 3 orang.

iwic-10-daftar-pemenang

Seluruh pemenang IWIC 10.

Para pemenang Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) ke-10 telah diumumkan hari ini (2/11) dalam acara di Kantor Pusat Indosat Ooredoo, Jakarta. Salah satu finalis IWIC 10 asal Filipina, Rianna Patricia Cruz, berhasil menggondol salah satu gelar juara pertama, yaitu pada kategori Women & Girls Idea.

Sebagaimana diketahui, IWIC 10 melombakan enam kategori utama, yaitu Kids, Teens, University Students & Public, Developer, Special Category – Youth with Disabilities, dan Special Category – Women & Girls. Setiap kategori dibagi lagi menjadi dua subkategori, yakni Ideas (ide aplikasi) dan Apps (aplikasi yang sudah jadi), kecuali kategori Developer yang dibagi menjadi Apps dan Mobile Web.

Dari total 3.592 proposal ide dan aplikasi yang diterima pada penyelenggaraan IWIC 10 ini, panitia telah menyeleksi secara ketat dan menghasilkan 34 finalis yang kemudian diundang ke Jakarta untuk mengikuti bootcamp dan babak penjurian. Di antara 34 orang itu, terdapat tiga finalis yang datang dari luar Indonesia, yaitu Hiroto Aoki (Jepang), Rianna Patricia Cruz (Filipina), dan That Mon Aye (Myanmar).

Dewan juri yang terdiri dari perwakilan Indosat Ooredoo, Kompas Gramedia, Tech In Asia, Dicoding, dan HarukaEdu akhirnya memutuskan daftar pemenang IWIC 10 sebagai berikut:

Kategori Kids Idea:
Juara 1 Aisha Dinar Farahita (Pekanbaru) dengan ide aplikasi Let’s Find Alternative Energy
Juara 2 Muhammad Arya Bimasena (Bogor) dengan ide aplikasi Envy Troops
Juara 3 Aby Jenaki (Serang) dengan ide aplikasi Aby Go Clean

Kategori Kids Apps:
Juara 1 Ahmad Danesh (Serpong) dengan aplikasi Adventure of Revi
Juara 2 IGM Andhika Rai (Jakarta) dengan aplikasi Superhero Ball Fight
Juara 3 Nikeisha Ardhiona Dinari (Tangerang) dengan aplikasi Music Star

Pemenang IWIC 10 pada kategori Kids.

Pemenang IWIC 10 pada kategori Kids.

Kategori Teens Idea:
Juara 1 Nadiela Septiani (Bogor) dengan ide aplikasi Smart Vertical Garden
Juara 2 Septi Rachmawati (Depok) dengan ide aplikasi My Sensuss
Juara 3 Risma Nadia (Tangerang) dengan ide aplikasi Sampah? Capture!

Kategori Teens Apps:
Juara 1 Fara Alifa Iswandhani (Tangerang) dengan aplikasi Ordinary TeenBoy
Juara 2 Alif Akbar (Tangerang) dengan aplikasi Falling Ball
Juara 3 Benedictus Harris (Jakarta) dengan aplikasi Kegunaan Teknologi

Kategori University Student & Public Idea:
Juara 1 Rohhaji Nugroho (Yogyakarta) dengan ide aplikasi Owis (Ojek Wisata)
Juara 2 Hiroto Aoki (Jepang) dengan ide aplikasi Space Magical
Juara 3 Hamdan Fajri (Aceh) dengan ide aplikasi Meuge

Kategori University Student & Public Apps:
Juara 1 Fitrah Akbar Budiono (Serpong) dengan aplikasi FoodGasm
Juara 2 Taufan Arfianto (Tangerang) dengan aplikasi Pegi Haji
Juara 3 Agil Julio (Bandung) dengan aplikasi AR Belajar Binatang

Kategori Developers Mobile Web:
Juara 1 Mohammad Iqbal (Bandung) dengan web Bandros.co.id
Juara 2 That Mon Aye (Myanmar) dengan web Star Ticket
Juara 3 Ria Afrayani (Bekasi) dengan web Pembantu.com

Kategori Developers Apps:
Juara 1 Adam Ardisasmita (Bandung) dengan aplikasi Pippo Belajar Dinosaurus
Juara 2 Arrival Dwi Sentosa (Bandung) dengan aplikasi Uangku
Juara 3 Rudi Hartono (Bandung) dengan aplikasi Project Tarakan

Para pemenang IWIC 10 pada kategori khusus Youth with Disabilities atau kaum difabel.

Para pemenang IWIC 10 pada kategori khusus Youth with Disabilities atau kaum difabel.

Special Category – Youth with Disabilities Idea:
Juara 1 Fakhry Muhammad Rosa (Depok) dengan ide aplikasi Object Identifier
Juara 2 Ade Ismail (Balikpapan) dengan ide aplikasi Gobrak
Juara 3 Catur Sigit Nugroho (Kebumen) dengan ide aplikasi Aksesibilitas

Special Category – Youth with Disabilities Apps:
Juara Adrian Naufal R. (Tangerang) dengan aplikasi The Prototype

Special Category – Women & Girls Idea:
Juara 1 Rianna Patricia Cruz (Filipina) dengan ide aplikasi Mighty Her
Juara 2 Kurrotha A’yun Al-Ahdiyah (Depok) dengan ide aplikasi Meetink
Juara 3 Meike Rachmana (Bengkulu) dengan ide aplikasi Triviguide

Special Category – Women & Girls Apps:
Juara 1 Tiara Freddy Andika (Bandung) dengan aplikasi Twinniesamu
Juara 2 Siti Aisyah (Sidoarjo) dengan aplikasi Nutrikids Mobile Order
Juara 3 Inggrid Daneilla W. (Medan) dengan aplikasi Qoin

Para pemenang IWIC 10 kategori khusus wanita. Rianna Patricia Cruz (kiri) asal Filipina berhasil memboyong juara pertama.

Para pemenang IWIC 10 kategori khusus wanita. Rianna Patricia Cruz (kiri) asal Filipina berhasil memboyong juara pertama.

Para pemenang IWIC 10.

Para pemenang IWIC 10.

Indosat Ooredoo kembali melahirkan bakat-bakat baru di industri pengembangan aplikasi mobile setelah mengumumkan para pemenang ajang Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) ke-10 pada hari Rabu ini (2/11).

Sebanyak 34 peserta berhasil menjadi juara pada IWIC 10 setelah menyingkirkan pesaing-pesaing lainnya yang mengirimkan total 3.592 proposal dalam kompetisi ini. Daftar lengkap pemenang bisa dilihat di sini.

Angka ini sekaligus menunjukkan peningkatan partisipasi yang konstan dibandingkan IWIC-IWIC sebelumnya. Contohnya, IWIC 9 yang menerima 3.173 proposal, IWIC 8 yang “hanya” menerima 1.738 proposal, dan IWIC 7 dengan 667 proposal saja. Total proposal ide yang telah diterima IWIC selama sepuluh tahun penyelenggaraannya berjumlah 10.703 ide dan aplikasi.

Hebatnya, para peserta yang menjadi juara tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari luar negeri, antara lain Filipina, Jepang, dan Myanmar. Mereka berhak membawa pulang hadiah uang tunai puluhan juta rupiah, smartphone 4G, rekening Dompetku, dan voucher Cipika.

“Dengan hadirnya peserta dari luar negeri, otomatis memberi kesempatan bagi para developer muda terbaik Indonesia untuk bersaing secara global. Kami berharap hal ini akan dapat meningkatkan daya saing talenta lokal agar mampu bersaing di tingkat dunia,” ujar Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo).

Alex juga menyoroti peningkatan jumlah proposal ide dan aplikasi pada kategori khusus Women & Girls dibandingkan tahun lalu. “Ini merupakan indikasi bahwa wanita juga mampu berperan dalam pengembangan dunia digital,” kata dia.

Pidato Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo).

Pidato Alexander Rusli (President Director & CEO, Indosat Ooredoo).

Sementara itu, Triawan Munaf (Kepala BEKRAF) menyatakan apresiasi kepada dedikasi Indosat Ooredoo yang secara konsisten menyelenggarakan IWIC selama satu dekade sebagai kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility).

“Dengan program ini, kita bisa memperbanyak talent pool untuk pengembang aplikasi berbakat. Tema Change The World yang diusung kali ini juga sangat relevan supaya anak-anak muda bisa peduli dengan masalah-masalah di sekelilingnya, lalu mencari solusi digitalnya,” tukas Triawan.

Sejak dimulai pada April lalu, IWIC 10 telah melewati serangkaian acara, di antaranya roadshow ke berbagai kampus dan gathering komunitas pengembang aplikasi di sejumlah daerah. Ada pula kegiatan Kids & Teens Hackathon, Developers Hackathon, Developers Challenge, dan Entrepreneurship Bootcamp selama dua hari.

Acara pengumuman pemenang hari ini pun diikuti oleh kegiatan Developer Conference berisi diskusi panel yang mendatangkan beragam pembicara dari dunia startup dan aplikasi mobile, seperti Qlue, PicMix, Talenta, Bukalapak, Ruangguru, serta aneka komunitas pengembang di daerah, yaitu Subali, SUWEC, Stasion, dan Bancakan 2.0.

Para peserta juga dapat mengikuti sesi Smart Pitching untuk mempresentasikan ide-ide bisnis mereka kepada para perwakilan investor yang hadir, antara lain Skystar Ventures, Mountain Kejora Ventures, Ideabox, dan Ideosource.

Para finalis IWIC 10 berkumpul di Jakarta dalam kegiatan bootcamp.

Para finalis IWIC 10 berkumpul di Jakarta dalam kegiatan bootcamp.

Bootcamp merupakan pemusatan dan pembekalan materi bagi para finalis IWIC 10 yang terdiri dari anak-anak, remaja, mahasiswa, dan masyarakat umum. Mereka datang dari berbagai kota di Indonesia, antara lain Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Kebumen, Medan, sampai Balikpapan. Khusus IWIC 10 ini, untuk pertama kalinya finalis juga berasal dari luar negeri, yaitu Myanmar, Filipina, dan Jepang.

Acara bootcamp diawali pada hari Senin (31/10) dengan pembukaan dari Indosat Ooredoo selaku penyelenggara utama dan HarukaEdu sebagai partner kegiatan.

Kemudian para finalis dibekali materi-materi seputar bisnis startup, investasi, dan networking oleh pembicara-pembicara kenamaan, seperti Novistiar Rustandi (CEO, HarukaEdu), Indrasto Budisantoso (CEO, Jojonomic), Irving Hutagalung (Audience Evangelism Manager, Microsoft Indonesia), dan Mohamad Ario Adimas (GM Integrated Marketing Communication – Digital Service, Indosat Ooredoo).

Sedangkan acara bootcamp hari kedua, Selasa (1/11), diisi dengan materi dari Narenda Wicaksono (CEO, Dicoding) dan Calvin Kizana (CEO, PicMix). Hadir pula Hardian Prakasa sebagai pemenang IWIC 10 yang berbagi pengalaman soal keikutsertaannya di IWIC tahun lalu serta perjalanannya ke Jepang untuk mengikuti acara Tech In Asia Tokyo 2016.

Acara hari ini dipungkas dengan kegiatan penjurian finalis oleh Dewan Juri yang berlangsung dari siang hingga malam hari. Pengumuman pemenang IWIC 10 akan dilakukan Rabu besok (2/11).

Inilah rekaman lensa dari sebagian keriuhan bootcamp IWIC 10:

Antusiasme para finalis IWIC 10 dalam mengikuti materi yang diberikan pembicara.

Antusiasme para finalis IWIC 10 dalam mengikuti materi yang diberikan pembicara.

Arrival Dwi Sentosa, salah satu finalis IWIC 10 yang sewaktu kecil dikenal sebagai programmer cilik yang membuat antivirus Artav.

Arrival Dwi Sentosa, salah satu finalis IWIC 10 yang sewaktu kecil dikenal sebagai programmer cilik yang membuat antivirus Artav.

Hiroto Aoki, finalis IWIC 10 asal Jepang, saat memberikan presentasi soal aplikasi virtual co-working space.

Hiroto Aoki, finalis IWIC 10 asal Jepang, saat memberikan presentasi soal aplikasi virtual co-working space.

Finalis IWIC 10 juga datang dari kalangan anak-anak dan remaja putra/putri.

Finalis IWIC 10 juga datang dari kalangan anak-anak dan remaja putra/putri.

Awarding Night dan Developer Conference IWIC 10.

Awarding Night dan Developer Conference IWIC 10.

Ajang Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) ke-10 telah memasuki babak akhir. Setelah pendaftaran ditutup pada akhir September lalu, proses penjurian pun dilakukan terhadap 3.592 proposal dan menghasilkan para finalis IWIC 10 untuk seluruh kategori.

Menariknya, para finalis datang dari berbagai penjuru daerah di Indonesia. Misalnya saja Hamdan Fajri asal Aceh dan Rohhaji Nugroho asal Yogyakarta yang masuk final di kategori University Students & Public, Desi Purnamasari asal Bengkulu dan Siti Aisyiah asal Sidoarjo yang menjadi finalis di kategori Women & Girls, serta Catur Sigit Nugroho asal Kebumen dan Ade Ismail asal Balikpapan yang muncul sebagai finalis di kategori Disabled.

Dari kategori Kids, muncul antara lain nama Muhammad Arya Bimasena dari Bogor, Aby Jenaki dari Serang, dan Aisha Dinar Farahita dari Pekanbaru. Sedangkan dari kategori Teens, ada nama Septi Rachmawati asal Depok, Nadiela Septiani asal Bogor, dan Alif Akbar asal Tangerang.

Tapi, para peserta asal kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung pun tidak kalah unjuk gigi, antara lain diwakili oleh Agil Julio di kategori University Students & Public, Adam Ardisasmita di kategori Developer, dan Benedictus Harris di kategori Teens.

Namun, yang paling istimewa adalah kehadiran tiga finalis asal luar Indonesia, yakni Hiroko Aoki asal Jepang, Thet Mon Aye asal Myanmar, dan Rianna Patricia Cruz yang berkebangsaan Filipina. Keberadaan mereka sekaligus membuktikan semangat go global IWIC 10 yang menantang para pengembang aplikasi di seluruh dunia untuk bertanding dengan pengembang-pengembang berbakat asal Indonesia.

Daftar finalis IWIC 10 selengkapnya dapat dilihat di laman ini.

Bootcamp dan Developer Conference

Sebagaimana jadwal semula, seluruh finalis IWIC 10 telah diundang ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan bootcamp atau pemusatan dan pembekalan finalis yang dilaksanakan di Kantor Pusat Indosat Ooredoo di bilangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.

Proses penjurian untuk memilih finalis IWIC 10.

Proses penjurian untuk memilih finalis IWIC 10.

Bootcamp ini digelar selama dua hari, 31 Oktober – 1 November 2016, dan menghadirkan bermacam pembicara dari praktisi startup, developer aplikasi, investor, dan lainnya. Tujuan bootcamp ini adalah mematangkan ide-ide dan aplikasi karya finalis untuk dipresentasikan kepada dewan juri yang akan menentukan siapa saja juara IWIC 10 ini.

Pengumuman para pemenang IWIC 10 bakal dilakukan pada hari Rabu, 2 November 2016, di Auditorium Kantor Pusat Indosat Ooredoo, Jakarta.

Pada hari yang sama, akan digelar pula acara Developer Conference yang mengundang para pengembang aplikasi dan startup lokal untuk menggali ilmu soal memulai bisnis, meraih investasi, dan berpartisipasi di komunitas.

Keseluruhan acara Awarding dan Developer Conference IWIC 10 rencananya dihadiri pula oleh Rudiantara (Menkominfo RI), Alexander Rusli (Presiden Direktur & CEO, Indosat Ooredoo), dan Muhammad Neil El Hilman (Direktur Infrastruktur TIK Bekraf).

Informasi dan pendaftaran acara Developer Conference IWIC 10 dapat dilakukan di alamat ini.

Welcome Finalists IWIC10 Boothcamp IWIC10 #ChangeTheWorld #IWIC10

A photo posted by IWIC Indosat Ooredoo (@indosatooredooiwic) on

hardian-prakasa-iwic-9

Hardian Prakasa (kiri) saat memenangi hackathon di ajang IWIC ke-9 tahun lalu.

Sejak penyelenggaraan IWIC ke-9 lalu, Indosat Ooredoo dan Kompas Gramedia juga bekerjasama dengan Tech In Asia, situs informasi startup dan teknologi digital terdepan di Asia. Sebagai bagian dari kemitraan ini, Indosat Ooredoo berhak mengirimkan salah satu pemenang IWIC ke ajang konferensi Tech In Asia Tokyo 2016, bulan September lalu.

Hardian Prakasa, pemenang IWIC 9, adalah pemenang terpilih yang mendapatkan kesempatan emas untuk menggali ilmu dan mempresentasikan aplikasi buatannya, TemuJasa, kepada para pelaku startup di Negeri Matahari Terbit itu. Yuk, simak tanya jawab bersama Hardian berikut ini!

Nama: Hardian Prakasa
Usia: 23 Tahun
Domisili: Jakarta
Profesi: Software Engineer
Ikut/Menang di IWIC ke-: 9 (Tahun 2015)

Dari mana tahu ada IWIC dan mengapa tertarik ikut kompetisi ini?

Pertama kali saya ikut ajang IWIC ke-8 dan berhasil memenangkan Hackathon-nya pada waktu itu. Waktu itu saya tahu IWIC dari roadshow IWIC di kampus saya (UGM). Sewaktu kuliah, saya memang senang mengikuti berbagai macam kompetisi IT. IWIC menjadi sarana untuk menguji kemampuan berinovasi dan mengimplementasikan pengetahuan yang didapatkan dari kampus.

Aplikasi apa yang diikutkan di IWIC dan bisa dijelaskan sedikit tentang aplikasi itu?

TemuJasa adalah aplikasi yang dapat menghubungkan pencari dengan penyedia jasa untuk jasa kebutuhan rumah tangga seperti laundry dan reparasi elektronik. Pengguna dapat memilih penyedia jasa yang terbaik untuknya berdasarkan harga, lokasi, ataupun rating yang tersedia di dalam aplikasi.

Bagaimana cara mendapatkan ide untuk membuat aplikasi yang diikutsertakan di IWIC?

Saya melihat dari pengalaman sehari-hari sebagai anak kos yang sering memerlukan berbagai kebutuhan jasa. Juga melihat banyaknya penyedia jasa yang belum memanfaatkan teknologi digital dalam mendapatkan penggunanya. Selain itu, saya juga membandingkan dengan solusi sejenis yang ada di negara lain.

Apa saja pertimbangan dalam memilih platform aplikasi (Android/iOS/BlackBerry/Windows Phone)?

Kemampuan saya sendiri sebagai pengembang, banyaknya pengguna aplikasi, dan target pengguna aplikasi.

Bagaimana cara memperoleh pemasukan dari aplikasi (model bisnis/monetisasi)?

Komisi dari setiap transaksi yang dilakukan melalui aplikasi TemuJasa.

Hardian Prakasa (kanan) mengikuti roadshow IWIC 10 ke Tech In Asia Tokyo 2016, Jepang.

Hardian Prakasa (kanan) mengikuti roadshow IWIC 10 ke Tech In Asia Tokyo 2016, Jepang.

Pengalaman berkesan apa saja yang dialami selama mengikuti IWIC maupun setelah menang IWIC?

Di ajang IWIC, saya banyak mendapatkan pengetahuan baru. Ajang ini juga menjadi sarana validasi ide aplikasi yang saya buat. Selain itu, yang paling membanggakan adalah saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti roadshow IWIC ke acara Tech In Asia Conference 2016 di Jepang.

Manfaat apa saja yang diperoleh dari mengikuti IWIC?

Pengalaman, pengetahuan, jaringan baru, insight tentang ekosistem teknologi di dalam dan di luar negeri.

Sekarang, bagaimana “nasib” aplikasi yang diikutsertakan di IWIC (masih dikembangkan, sudah dirilis, dsb.)? Apa aktivitas Anda saat ini?

Saat ini aplikasi TemuJasa masih dalam tahap pengembangan, Saya sendiri masih terus memperdalam ilmu dan pengetahuan di bidang software engineering melalui pekerjaan saya sehari-hari sebagai Software Engineer di Ice House Corp. di Jakarta.

Minghadi Suryajaya.

Minghadi Suryajaya.

Salah satu keuntungan mengikuti IWIC adalah bertemu dengan mentor-mentor berpengalaman yang dapat menguji tingkat kematangan ide dan aplikasi yang kita kembangkan. Inilah yang dirasakan langsung oleh Minghadi Suryajaya, developer asal Surabaya yang memenangi IWIC ke-7 dengan aplikasinya, 1001beds.

Yuk, kita simak tanya jawab dengan Minghadi berikut ini!

Nama: Minghadi Suryajaya
Usia: 35
Domisili: Surabaya
Profesi: Developer merangkap marketer
Ikut/Menang di IWIC ke-: 7

Dari mana tahu ada IWIC dan mengapa tertarik ikut kompetisi ini?

Bermula dari undangan dari Surabaya Web Developer Community (SUWEC) mengenai acara talk show dari panitia IWIC saat itu. Kemudian, informasi berlanjut dengan pemberitahuan dari teman-teman yang ternyata sudah pernah ikut di acara IWIC yang sebelumnya.

Aplikasi apa yang diikutkan di IWIC dan bisa dijelaskan sedikit tentang aplikasi itu?

Untuk ajang IWIC, kami membuat ide 1001beds, sebuah platform online untuk membantu hotel berjualan di lebih banyak travel agent secara lebih mudah dan nyaman.

Kendala utama yang kami temukan dari sisi hotel adalah risiko overbooking ketika berjualan di banyak Online Travel Agent (OTA). Yang dimaksud dengan overbooking adalah kejadian di mana jumlah booking yang diterima melebihi jumlah kamar yang dimiliki.

Ide kami adalah membuat smart platform untuk melakukan distribusi dan update secara real-time ke sistem milik para OTA dengan fleksibilitas dan keterbatasan yang disesuaikan untuk pasar Indonesia, contoh: sambungan internet yang terbatas, jaringan SMS yang tidak reliable, dan lain sebagainya.

Bagaimana cara mendapatkan ide untuk membuat aplikasi yang diikutsertakan di IWIC?

Kami mendapatkan ide karena sebelumnya kami telah berkecimpung dalam dunia Online Travel Agent dan mendapati masukan dari rekanan hotelier, terutama dalam era perkembangan Online Travel Agent yang cukup pesat saat ini.

Apa saja pertimbangan dalam memilih platform aplikasi (Android/iOS/BlackBerry/ Windows Phone)?

Kami memilih Android sebagai langkah awal dikarenakan oleh distribusi platform pengguna yang lebih luas dan juga development yang relatif lebih rendah biayanya.

Bagaimana cara memperoleh pemasukan dari aplikasi (model bisnis/monetisasi)?

Monetasi untuk 1001beds berdasarkan pada biaya komisi, connector developments untuk para pemilik OTA, dan juga pelatihan bagi para hotelier.

Pengalaman berkesan apa saja yang dialami selama mengikuti IWIC maupun setelah menang IWIC?

Setelah mengikuti bootcamp IWIC yang diselenggarakan bersama dengan Founder Institute, kami mengalami peningkatan yang signifikan, terutama dalam “mematangkan” ide dan model bisnis kami. Dari bootcamp tersebut, kami juga belajar banyak perihal faktor-faktor pendukung bisnis yang lain, seperti public relations, digital marketing, pengendalian biaya, dan berbagai pengalaman membangun bisnis dari beberapa mentor yang sudah kaliber nasional.

Manfaat apa saja yang diperoleh dari mengikuti IWIC?

Dalam hal manfaat, barangkali sangat panjang untuk dapat ditulis di sini. Tapi secara singkat, ajang IWIC telah memberikan pengetahuan dan dasar yang cukup signifikan bagi kami untuk berkembang dengan lebih cepat tanpa melupakan dasar model bisnis yang harus dibangun. Banyak rekanan dan vendor yang kami dapatkan setelah mengikuti ajang IWIC ini.

Sekarang, bagaimana “nasib” aplikasi yang diikutsertakan di IWIC (masih dikembangkan, sudah dirilis, dsb.)? Apa aktivitas Anda saat ini?

Setelah melewati pemikiran yang lebih mendalam, ide awal kami telah mengalami “pivot” menjadi platform travel agents yang saat ini telah berjalan dengan baik. Perubahan yang kami lakukan juga berdasarkan pada masukan-masukan yang kami terima selama IWIC bootcamp, di mana ide awal kami telah mengalami penempaan melalui banyak masukan dan diskusi dengan beberapa mentor.

Saat ini selain masih mengembangkan usaha Online Travel Agent kami yang sebelumnya (1001malam.com), fitur travel agent marketplace yang berawal mula dari 1001beds.com sudah menjadi bagian yang lebih besar dari online travel agent yang kami rintis pada awal mulanya.

Kids & Teens Digital Fair 1

Kids & Teens Digital Fair 1

Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest 10 (IWIC 10) menggandeng Cody’s App Academy mengadakan event Kids & Teens Digital Fair yang menggabungkan workshop dan kompetisi pemrograman khusus untuk remaja di Bintaro Xchange, Minggu (31/7).

Ripy Mangkoesoebroto (Chief Human Resources Officer, Indosat Ooredoo) mengatakan ajang Kids & Teens Digital Fair merupakan bagian dari rangkaian Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) ke-10. Indosat Ooredoo Wireless Innovation Contest (IWIC) adalah ajang kompetisi aplikasi mobile yang digagas Indosat Ooredoo sejak 10 tahun lalu dan secara konsisten diselenggarakan setiap tahun.

“Kami tertantang untuk meningkatkan kreativitas anak sejak dini dan menjadi produktif melalui media digital, khususnya programming membuat game,” katanya dalam siaran pers, Rabu.

Kids & Teens Digital Fair

Kids & Teens Digital Fair

Ripy melihat para peserta sangat antusias mengikuti kompetisi kali ini, terlihat para peserta sudah memenuhi meja registrasi ulang sejak pukul 08.00 WIB. Acara itu dihadiri 200 lebih anak dari berbagai sekolah.

“Ajang ini bertujuan untuk merangsang minat generasi muda Indonesia di dunia digital dan memenuhi memenuhi kebutuhan talenta digital Indonesia di tengah tingginya tren penggunaan aplikasi online saat ini,” ucapnya.

Kegiatan Coding Competition Kids & Teens Digital Fair terbuka bagi semua siswa SD, SMP hingga SMA. Para peserta cukup membawa laptop dan perlengkapannya termasuk charger. “Juara kompetisi ini akan mendapatkan hadiah menarik yang mampu menunjang kebutuhan mereka sehari-hari seperti Laptop, Tablet, Voucher Cipika, dan Sertifikat juga Goodiebag,” ujarnya.

Kids & Teens Digital Fair

Kids & Teens Digital Fair

Dalam kegiatan ini, para peserta juga bisa mendapatkan pengalaman digital dengan hadirnya Digital Experience Corner. Digital Experience Corner menghadirkan Virtual Reality, Lumiglass Photo Booth, Pokemon Go Hunt serta berbagai games digital.

“Harapannya, ajang ini membuat anak-anak dan remaja tidak hanya sekedar menikmati teknologi sebagai pengguna saja, tetapi juga creator of technology,” pungkasnya.